Status Slamet Naik, Radius 2 Km Disterilkan dari Aktivitas Warga

PURWOKERTO – Selain mempengaruhi aktivitas Gunung Merapi, Gempa yang terjadi di Malang Jawa Timur Minggu 9 Maret 2014 juga membuat Gunung Slamet Jawa tengah ikut ‘bergeliat’. Gunung yang berada di wilayah Kabupaten Tegal, Pemalang, Brebes, Banyumas, dan Purbalingga itu statusnya dinaikkan satu level, dari Aktif Normal menjadi Waspada, sejak Senin (10/03/2014) malam.

Naiknya status Gunung Slamet tersebut sudah diumumkan oleh Badan Geologi Kementerian ESDM. Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kabupaten Purbalingga melalui dinas Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Dinbudparpora) menutup jalur pendakian Slamet melalui Desa Kutabawa, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, ditutup untuk sementara sejak Senin malam.

Kepala Bidang Pariwisata Dinbudparpora Kabupaten Purbalingga, Prayitno, saat dikonfirmasi wartawan mengatakan berdasarkan data pos pendakian Gunung Slamet di Dukuh Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Serang, Purbalingga, saat ini tercatat ada 21 pendaki yang sedang hendak menuju puncak, dan sudah dihubungi agar turun kembali. Selain itu, imbuh Prayitno, dari informasi ada sembilan pendaki dari Pekalongan yang hendak melakukan pendakian pada Senin sore, dan sudah dibatalkan.

Selain menutup jalur pendakian, pihaknya juga menghimbau agar warga tidak beraktivitas di bawah punjak gunung dalam radius 2 km. Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purbalingga untuk antisipasi lebih lanjut soal kemungkinan dinaikkannya status Gunung Slamet dari aktif normal ke waspada.

“Informasi yang kami dapatkan dari petugas Pos Pengamatan Gunung Slamet di Gambuhan, Kabupaten Pemalang, aktivitas Gunung Slamet meningkat sejak tadi pagi, jadi jalur pendakian kami tuitup sementara,” katanya.

Terkait penutupan yang masih bersifat sementara, Prayitno beralasan karena belum ada perkembangan informasi lebih lanjut dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi di Bandung, Jawa Barat.

“Kalau sudah ada perkembangan membaik ya tentu akan dibuka lagi,” ungkapnya.

Terpisah, Muhdi (35) warga di Desa Kebumen Kecamatan Baturaden yang berada sekitar radius 7 Km dari Puncak Slamet mengaku khawatir mendengar kenaikan status Gunung Slamet. Saat ini dia dan beberapa warga melakukan ronda malam sambil memantau perkembangan melalui berita di media massa maupun media sosial.

“Kami cukup khawatir, mudah-mudahan statusnya kembali normal,” harapnya.

Sekadar mengingatkan Gunung dengan ketinggiannya mencapai sekitar 3428 mdpl, tersebut meningkat aktivitas terakhirnya pada 2009. Saat itu Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menaikkan status gunung tersebut hingga pada level Siaga. Gunung tertinggi di provinsi jawa tengah dan gunung tertinggi kedua di pulau jawa setelah gunung semerujuga memiliki sejarah letusan terakhir pada 1999 lalu. (bom)

Redaktur: Sarifudin

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *