Dari 33 Laboratorium BPOM, Hanya 1 yang Tersertifikasi WHO

SLEMAN – Dari 33 laboratorium, baik pengawasan dan pengujian hanya satu laboratorium pengawasan di Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Pusat yang mendapatkan sertifikasi dari World Health Organisation (WHO) atau organisasi kesehatan dunia. Laboratorium tersebut, 31 di antaranya tersebar di 33 provinsi dan 2 laboratorium berada di BPOM Pusat.

Hal tersebutlah yang membuat produsen obat di Indonesia tidak bisa mengirim produknya ke Internasional. Kepala Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional, Anny Sulistiowati mengatakan, sertifikasi dari WHO sangat berpengaruh pada produsen obat di Indonesia. Termasuk beberapa jenis obat penyakit yang sering diderita masyarakat Indonesia; anti retroviral, tubercolousis, dan malaria.

“Belum adanya sertifikasi dari internasional sangat berpengaruh bagi porodusen di Indonesia,” kata Anny pada saat acara workshop Workshop Pengujian Obat dan Makanan di Hotel Royal Ambarukmo, Senin (28/4/14).

Tak hanya laboratorium, kemampuan SDM di BPOM juga belum memenuhi standar. Anny mengatakan, jumlah SDM penguji di BPOM ada sebanyak 4500. Namun, hanya sepertiga atau sekitar 1500 tenaga yang melakakukan pengujian. “Sementara, ada 25000 jenis makanan dan obat yang ada di Indonesia.”

Anny berharap, dengan adanya workshop tersebut, pihaknya bisa mulai meningkatkan kinerja para tenaga yang ada di BPOM daerah. “Kami harus memiliki kemampuan yang serata di antardaerah terlebih dahulu.” (kim)

Redaktur: Azwar Anas

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.