Peran Parpol Sebagai Penyambung Aspirasi Masih Lemah

YOGYAKARTA – Peran dan fungsi Partai Politik sebagai penyambung apsirasi masyarakat dinilai masih rendah. Hal itu terindikasi dari hasil survey yang dilakukan tim peneliti JPP Universitas Gajah Mada (UGM) yang menyebutkan Sekitar 85 % pemilih tidak pernah menagih janji kampanye Calon Legislatif (Caleg) setelah mereka terpilih.

“Kalaupun ada anggota masyarakat yang mendiskusikan masalah pembangunan dengan anggota legislatif, itu pun dilakukan secara personal dengan anggota legislatif, tidak berhubungan langsung dengan partai politik,” ungkap Dosen JPP UGM Nur Azizah saat menyampaikan hasil survei JPP UGM terhadap perilaku politik dan political linkage, Selasa (21/10/2014), di gedung University Club UGM.

Nur Azizah sekaligus sebagai anggota tim peneliti JPP UGM menjelaskan, penelitian yang dilaksanakan pada tanggal 15-23 Juli di bulan Juli dan Agustus ini mensurvei 300 responden di Yogyakarta dan Magelang. Responden terbagi menjadi empat kelompok yakni kelompok difabel, kelompok perempuan, buruh dan umum. Total keseluruhan 300 responden.

“Ini (hasil survey) sangat ironi sebab masyarakat tak merasa butuh menagih janji dari politisi dan parpol,” ujarnya.
Menurutnya, hal itu justru bisa disebabkan karena pemilih makin rasional, sementara Parpol kurang kreatif dan inovatif.

Di Yogyakarta, kata Azizah, terdapat kecenderungan peningkatan rasionalitas masyarakat dalam menentukan pilihan, dimana Responden menunjukkan kecenderungan untuk memilih kandidat berdasarkan visi, misi maupun ideologi partai ketimbang kedekatan personal.

Pemilih rasional, kata dia, umumnya lebih menentukan pilihan dengan mempertimbangkan kinerja partai atau anggota legislatif pada periode terdahulu terkait kepentingan ekonomi si pemilih atau tidak.

“Temuan ini sangat menarik karena pemilih mampu menilai isu politik yang diajukan oleh partai dan caleg. Padahal mayoritas responden yang disurvei mayoritas berpendikan SD dan SMP bahkan ada yang tidak tamat sekolah,” ungkapnya.

Peningkatan rasionalitas pemilih di kedua wilayah ini menurut Azizah mengindikasikan tumbuhnya pendidikan politik masyarakat yang dilakukan partai politik, politisi, atau tokoh serta organisasi masyarakat setempat.

“Dengan semakin meningkatnya rasionalitas pemilih, politisi dan partai politik sebaiknya lebih kreatif dan inovatif dalam berkampanye dan menawarkan program-program yang dapat diterima oleh masyarakat. Politisi yang kini duduk di kursi legislatif  juga perlu melakukan perbaikan kinerja untuk menjaga dukungan 5 tahun mendatang,” katanya. (ian/kontributor/ugm).

Redaktur: Rudi F

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.