Pengamat: BI Prediksi Nilai Rupiah Rp 16.000 Per $ 1 USD, Banyak BUMN Terancam Bangkrut

JAKARTA- Bank Indonesia (BI) mengeluarkan prediksi bahwa nilai tukar rupiah Rp. 16.000 per $ 1USD. Prediksi ini dikemukanan secara implisit dalam hasil assesment terhadap 2.164 perusaahaan swasta yang memiliki utang luar negeri (ULN).

“Prediksi ini tentu mencengangkan sekaligus akan mendorong masyarakat Indonesia untuk mengamankan asetnya sesegera mungkin dalam bentuk dolar AS,” kata direktur Indonesian for Global Justice (IGJ), Salamudin daeng dalam keterangan pers yang diterima jogjakartanews.com, Senin (15/12/2014) siang.

Menurut Salamudin, sebagaimana dikatakan BI bahwa berdasarkan observasi yang dilakukan BI, hasil stress test ketahanan korporasi terhadap pelemahan nilai tukar menunjukkan 6 dari 53 korporasi publik yang memiliki Utang Luar Negeri berpotensi insolvent apabila nilai tukar Rupiah melemah sampai dengan kurs Rp16.000 perUSD.

“Dengan demikian jika 6 dari 53 perusahaan terkena dampak mematikan dari pelemahan nilai tukar rupiah, maka sekitar 260 perusahaan yang diuji BI disimpulkan terkena dampak,” tukasnya.

Siapa perusahaan perusahaan tersebut? Salamudin mengatakan bisa jadi sebagian besarnya adalah BUMN yang selama ini memikul utang luar negeri yang besar.

Namun terlepas dari berapa perusahaan yang akan bangkrut, imbuh Salamudin, yang menyeramkan adalah bahwa BI ternyata telah memiliki kesimpulan bahwa nilai tukar akan mencapai angka Rp. 16.000 per $ 1 USD.

Masih menurut salamudin, Asumsi BI ini sangat berdasar mengingat krisis di Indonesia semakin kompleks dan memiliki impliksi ekonomi yang luas.

Dikatakan Salamudin, penyebab krisis itu adalah, pemerintahan Jokowi dan kabinetnya yang doyan menabrak nabrak konstitusi dan regulasi untuk mengejar popularitas, terutama membentur DPR secara tidak konstitusional.

“Sementara modal asing tau bahwa dalam sistem ekonomi Indonesia sekarang sebagian besar kebijakan dapat  diambil pemerintah harus persetujuan DPR”, bebernya.

“Sebab lain yang fundamental, adalah defisit perdagangan, defisit transaksi berjalan yang semakin membesar, yang tidak dapat diatasi kecuali dengan mobilisasi utang luar negeri besar besaran” pungkasnya. (pr)

Redaktur: Rudi F

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.