Kalangan Kejawen: Bencana di Banjarnegara Peringatan untuk Jokowi

YOGYAKARTA – Musibah bencana tanah longsor di Kabupaten Banjarnegara, bagi kalangan pegiat budaya Jawa (Kejawen) dimaknai sebagai peringatan Tuhan untuk bangsa Indonesia, termasuk bagi para pemimpin. Terlebih, bencana alam di Banjarnegara yang menewaskan puluhan korban tersebut secara waktu hampir bertepantan dengan 10 tahun bencana Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 lalu.

“Terlepas percaya atau tidak, alam memberikan pertanda bagi manusia. Bencana alam sesungguhnya peringatan dari Tuhan untuk bangsa Indonesia, terutama untuk para pemimpin, agar lebih mawas diri dan lebih arif dalam menjalani hidup dan kehidupan. Antara bencana yang sudah terjadi dan akan terjadi ada hubungannya,” kata pegiat Kejawen di Yogyakarta, Subandi Kusuma, SH, Jumat (19/12/2014).

Menurutnya dibandingkan korban Tsunami Aceh tahun 2004 yang merenggut sekitar 500.000 nyawa, bencana longsor di Banjarnegara jauh lebih kecil. Namun, kata dia, bukan persoalan berapa jumlah korban yang meninggal, akan tetapi keduanya sama-sama bencana alam yang patut menjadi pelajaran bagi bangsa Indonesia.

Ditanya apakah hal itu juga bisa dikaitkan dengan pergantian pemimpin Negara atau Presiden? Subandi mengatakan, bencana di Banjarnegara adalah murni faktor alam. Namun adapun hal lain di balik bencana itu, kata dia, adalah wallahua’lam (Rahasia Tuhan).

“Kita tentu ingat Bencana Tsunami di Aceh tahun 2004 dulu adalah awal persiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjabat, ini bencana longsor Banjarnegara pada tahun 2014 juga awal Presiden Jokowi (Joko Widodo) menjabat, atau 2 bulan setelah dilantik. Tapi bukan berarti ada kaitan langsung dengan presiden. Kalau itu dimaknai peringatan, iya, tapi tak hanya buat Presiden saja, tapi juga peringatan untuk kita semua rakyat Indonesia,” ujarnya.

Apakah terjadinya tsunami di Aceh dan longsor di Banjarnegara ada hal yang bisa ditarik persamaannya hanya kebetulan saja? Subandi menekankan, memang kita tidak boleh mendahului kehendak Tuhan, namun bukan berarti harus menutup mata dan tidak mengambil pelajaran dari bencana atau hanya bisa pasrah. Namun Subandi juga mengamini banyak peringatan Tuhan melalui alam seperti bencana yang sama, karena perbuatan manusia yang sama.

“Banjir atau longsor karena ulah manusia mengeksploitasi alam. Itu dari kacamata ilmiah. Kalau dari kacamata ilmu kebatinan, bisa jadi karena seorang raja atau pemimpin yang melakukan kesalahan yang sama kepada rakyatnya, maka Tuhan melalui media yang ada di alam akan memperingatkan dengan cara yang sama,” ungkapnya.

Menurut banyak para pengamat politik, kata Subandi, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Jokowi identik dengan semasa SBY menjabat, bisa jadi alam juga bereaksi sama.

“Yang paling menonjol ya kebijakan menaikkan harga BBM yang jelas-jelas menyengsarakan rakyat. Baik alasan, strategi mengalihkan subsidi BBM itu, serta isu-isu yang muncul pasca kenaikan harga BBM juga tidak jauh beda. Sama tapi tak serupa,” ujarnya.

Meski demikian, Subandi berharap, Tuhan mengampuni setiap kesalahan pemimpin bangsa Indonesia dan menghindarkan Negara Indonesia dari bencana dan mara bahaya.

“Salah satu ikhtiar manusia agar terhindar dari bencana adalah memperbaiki perilaku dan perbuatan yang tidak baik, terutama bagi para pemimpin. Jika selama ini kebijakan para pemimpin tidak berpihak dan menyengsarakan rakyat, sudah seharusnya para pemimpin itu sadar dan menghapus kebijakan-kebijakan yang salah itu,” tandasnya.

Sementara adanya prediksi kalangan kejawen bahwa pada November 2015 mendatang akan ada bencana yang lebih besar? Menurut Subandi hal itu bisa saja mungkin terjadi.

“Bukan mendahului kehendak Tuhan, tapi apapun itu bisa terjadi, jika kita semua bangsa Indonesia, termasuk para pemimpin tidak mau memperbaiki diri, bukan tidak mungkin Tuhan juga akan memperingatkan dengan bencana,” pungkasnya. (ian)

Redaktur: Rudi F

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.