Penembakan di Charlie Hebdo, Isu ISIS, dan Terorisme Jangan Sudutkan Islam

YOGYAKARTA – Munculnya berita-berita di media massa, termasuk media online yang bernuansa Suku Ras dan Agama (SARA) yang berpotensi memicu perpecahan antar sesama anak bangsa akhir-akhir ini, disayangkan banyak pihak.

Isu tersebut diantaranya terorisme dan ISIS yang santer di dalam negeri, disusul isu aksi penembakan ke kantor redaksi majalah mingguan Perancis “Charlie Hebdo” di pusat kota Paris yang menewaskan 12 orang, termasuk Pemimpin Redaksi (Pemred) dan dua polisi. Ekploitasi media terhadap isu-isu tersebut dinilai kerap mendiskreditkan (menyudutkan) ummat Islam.

Menurut Budayawan sekaligus pengasuh komunitas studi budaya dan politik   Lawanggajeng, Wahyu NH. Aly, setiap peristiwa atau kejadian memang boleh diberitakan, namun harus mempertimbangkan ekses (akibat) setelah terlanjur menjadi opini publik. Berita mengenai terorisme, kata dia, kerap menimbulkan image seolah pelakunya adalah kelompok Islam.

“Sementara diisukan juga pelaku dalam aksinya berlindung di ayat-ayat Al-Qur’an. Ini kan seolah Islam mengajarkan kekerasan. Padahal Islam adalah agama yang damai, rakhmatan lil’alamin (rahmat untuk segala ummat). Sebagai ummat Islam saya mendukung pemberantasan terorisme, tapi tentu jangan sampai dalam praktiknya menistakan agama manapun,” kata budayawan ayang akrab disapa Gus Wahyu saat dihubungi jogjakartanews.com melalui telepon, Sabtu (10/01/2014).

Dikatakan cucu dari KH. Abdullah Siradj Aly dari Pondok Pesantren tertua di Jawa Tengah ‘Alkahfi’, Somalangu, Kebumen Jawa Tengah ini kasus-kasus yang banyak muncul di media massa tersebut banyak mengandung unsur SARA. Dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 tentang PERS, kata dia, sesungguhnya tidak boleh ada berita-berita yang mengandung unsur SARA dan menistakan agama.

“Di negara demokrasi yang berazazkan Pancasila dan UUD 45, dengan semangat bhineka tunggal ika, sudah selayakanya kita saling menghormati antar sesama tanpa memandang latar belakang Suku, Ras, dan Agama demi kemajuan bangsa Indonesia,” imbuhnya

Sebelumnya mantan Juru Bicara Presiden Abdurahman Wahid (Gusdur), Adhie M Massardi dalam pesan di group media sosial WhatsApp menyoroti tragedi penembakan di kantor majalah mingguan Charlie Hebdo Prancis yang beberapa kali menampilkan karikatur dengan narasi yang menghina Nabi Muhammad, Saw. Dalam berita yang dilansir banyak media termasuk dalam negeri, ada saksi mata yg mendengar pelaku meneriakkan “Allahu Akbar” sehingga dunia Barat menjadi geger. Isu yang tak kalah subjektifnya, kejadian tersebut merupakan rangkaian ancaman kelompok garis keras Islam terhadap Charlie Hebdo.

Dijelaskan Adhie, Charlie Hebdo memang media satire yang kerap memakai nabi, rasul, dan tokoh keagamaan sebagai material pokoknya, bukan hanya Islam dan Nabi Muhammad, Saw tapi dari agama-agama lain. Seharusnya, kata dia, mereka paham umat Islam sangat menghormati agama dan nabinya, sehingga tidak akan menerima jika dijadikan obyek lelucon.

“Biasanya mereka berdalih atas nama demokrasi. Tapi mengapa kalau ada yg menghina Yahudi mereka sebut “AntiSemit” dan untuk para penista orang kulit hitam (Negro) dianggap “Racist” dan bakal dikutuk ramai-ramai. Bahkan FIFA mengancam hukuman bagi pemain bola yang rasis. Tapi kenapa kalau ada kasus penghinaan terhadap Islam dan Nabi Muhammad, Saw dan ada umat Islam yg marah mereka melindunginya dengan jargon “Freedom of Speech” (Kebebasan Berekspresi)? ini kan namanya diskriminatif dan bertentangan dengan nilai demokrasi,” pungkasnya. (yud)

Redaktur: Rudi F

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.