Untuk Indonesia Maju, HMI ke Depan Perlu Dipimpin Seorang Saudagar

Oleh: Yeni Suarni*

TINGGAL menunggu waktu, pelaksanaan Kongres Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke XXIX di Pekan Baru, Riau. Hajat organisasi mahasiswa tertua dan terbesar di Indonesia ini tentu akan menjadi perhatian masyarakat luas. Sebab, kongres HMI adalah ibarat ‘Haji’ bagi kader-kadernya. Puluhan ribu kader HMI akan menuju gelanggang pergantian kepemimpinan tertinggi organisasi tercintanya.Segala harapan untuk perbaikan HMI ke depan tentu menjadi penyemangat para kader mendatangi Kongres. Tentunya disetiap Kongres ada harapan baru sesuai kebutuhan zaman kekinian.

Berbicara harapan untuk HMI sebenarnya tak jauh dari harapan untuk perbaikan kehidupan Bangsa Indonesia. Bukan suatu yang berlebihan tentunya, mengingat HMI telah memberikan kontribusi besar kepada bangsa dan negara, sejak didirikan Lafran Pane pada 5 Februari 1947 silam di Kampus Sekolah Tinggi Islam (STI) yang kini Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Tokoh-tokoh besar, sebut saja Nurkholis Madjid, Akbar Tandjung, Jusuf Kalla yang kini Wapres, adalah buah dari rahim organisasi HMI.

Agenda perbaikan kondisi bangsa, tentu saja menyoal beragam krisis, terutama krisis ekonomi yang melanda negeri ini. Diakui, selama ini HMI memang banyak yang menyentuh persoalan bangsa, namun lebih cenderung terkait isu-isu kebijakan negara atau politik. Oleh karenanya, penulis menganggap, persoalan ekonomi masih menjadi PR (Pekerjaan Rumah) bagi HMI.

Banyak sebenarnya lembaga-lembaga profesi di HMI yang sebelumnya sempat aktif dan concern di bidang ekonomi, yaitu Lembaga Ekonomi Mahasiswa Islam (LEMI). Akan tetapi sejak beberapa periode Pengurus Besar HMI (PB HMI) terakhir, gaung LEMI entah kemana. Seolah tenggelam dengan hiruk-pikuknya agenda-agenda PB HMI yang kurang menyentuh persoalan ekonomi. Oleh karenanya ke depan, diharapkan Ketua Umum (Ketum) PB HMI haruslah yang paham soal ekonomi, sehingga mampu turut memberikan solusi atas persoalan bangsa yang dihadapi; mampu mengentaskan kemiskinan dan pengangguran, menuju Indonesia yang benar-benar berdaulat di bisang ekonomi.

HMI memang bukan organisasi profit oriented,. Namun, bukan berarti persoalan ekonomi tidak menjadi perhatian khusus HMI. Persoalan ekonomi jelas-jelas menjadi salah satu fokus perjuangan HMI. Hal itu sebagaimana secara tersurat dan tersirat ada dalam tujuan berdirinya HMI sebagaimana dalam AD HMI pasal  4: “Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT”.  Bukankah kemakmuran tidak bisa lepas dari persoalan ekonomi?

Islam sendiri menempatkan persoalan ekonomi sebagai sesuatu yang penting untuk kemaslahatan ummat. Manusia diwajibkan mencari rizki dan karunia Allah, serta bersyukur, sebagaimana firman Allah SWT (yang artinya) : “Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak, supaya kamu beruntung. (QS Al Juma’ah [62] :10)

Secara umum salah satu kewajiban orang beriman adalah menginfaqkan sebagaian hartanya terutama untuk menyantuni fakir miskin dan anak yatim. Tentu saja perintah ini berlaku untuk orang yang mampu secara ekonomi. Jika orang kaya tidak melaksanakan kewajibannya tersebut, maka ia masuk  kedalam daftar orang kafir (kufur).

Allah berfirman: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Yaitu orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong diri (dan masyarakat) untuk memberi makan orang miskin. Celakalah orang yang shalat,  tetapi berbuat riya dan enggan menolong orang lain.” ( Qs. Al Ma’un [107] : 1-7).

Keutamaan memberi daripada meminta juga disebutkan dalam hadist Rasul. Diriwayatkan dari Hakim bin Hizam bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya) ; “Tangan di atas (memberi) lebih baik dari pada tangan di bawah (yang diberi), dan dahulukan orang yang menjadi tanggung jawabmu. Sebaik-baiknya sedekah adalah sedekah yang dikeluarkan oleh orang yang mempunyai kelebihan. Barangsiapa yang menjaga kehormatan dirinya, maka Allah akan menjaganya dan barangsiapa yang merasa dirinya cukup, maka Allah akan mencukupkan kebutuhannya.” Muttafaq’alaihi, redaksi hadist ini ada dalam shahih Bukhari (1428).

Bahwa urusan ekonomi itu penting dalam Islam juga ditunjukkan oleh para sahabat, setelah wafatnya Rasulullah Saw. Didaulatnya Abu Bakar As-shidiq Radiallahu Anha yang notabene adalah seorang saudagar yang dermawan, merupakan sinyalemen bahwa seorang pemimpin juga perlu pengetahuan yang lebih soal ekonomi.  Bahkan diriwayatkan, orang musyrik mensifati Abu Bakar Ash Shiddiq sebagaimana Khadijah mensifati Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam

Mereka berkata tentang Abu Bakar: “Apakah kalian mengusir orang yang suka bekerja untuk mereka yang tidak berpunya, menyambung silaturahim, menanggung orang-orang yang lemah, menjamu tamu dan selalu menolong di jalan kebenaran?” (HR. Bukhari)

Abu Bakar selalu berusaha berbuat yang terbaik untuk menolong fakir miskin. Beliau adalah sahabat yang terpercaya dan dikagumi Nabi. Ia pemuda yang pertama menerima seruan Nabi tanpa banyak pertimbangan. Seluruh kehidupannya dicurahkan untuk membela dakwah Nabi Muhammad, sehingga ia lebih dicintai oleh Nabi daripada sahabat lainnya. Loyalitas Abubakar salah satunya ditunjukkan ketika Nabi memerlukan dana pembangunan Masjid di Madinah dan untuk perlengkapan ekspedisi ke Tabuk, Abu Bakar menyumbangkan seluruh harta kekayaannya. Namun demikian, Nabi tidak pernah memberi suatu wasiat mengenai siapa pengganti beliau setelah wafat.

Abu Bakar juga menunjukkan pentingnya membangun perekonomian untuk menopang hidup yang diridhai Allah SWT.  Ia orang yang wara’ dan zuhud terhadap dunia. Meski seorang khalifah, ia tetap pergi bekerja mencari nafkah. Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu sempat melarangnya dan menganjurkan agar mengambil upah dari baitul maal, menimbang betapa beratnya tugas seorang khalifah. Namun Abu Bakar tetap menolak.

Dikisahkan pula dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha, ia berkata: “Abu Bakar Ash Shiddiq memiliki budak laki-laki yang senantiasa mengeluarkan kharraj (setoran untuk majikan) padanya. Abu Bakar biasa makan dari kharraj itu. Pada suatu hari ia datang dengan sesuatu, yang akhirnya Abu Bakar makan darinya. Tiba-tiba sang budak berkata: ‘Apakah anda tahu dari mana makanan ini?’. Abu Bakar bertanya : ‘Dari mana?’ Ia menjawab : ‘Dulu pada masa jahiliyah aku pernah menjadi dukun yang menyembuhkan orang. Padahal bukannya aku pandai berdukun, namun aku hanya menipunya. Lalu si pasien itu menemuiku dan memberi imbalan buatku. Nah, yang anda makan saat ini adalah hasil dari upah itu. Akhirnya Abu Bakar memasukkan tangannya ke dalam mulutnya hingga keluarlah semua yang ia makan” (HR. Bukhari).

I’tibar di atas tentunya sangat relevan untuk dicontoh para pemimpin Indonesia saat ini, termasuk Ketum PB HMI Ke depan. Di tengah karut marutnya perekonomian dan politik nasional hari ini, HMI bertanggungjawab untuk turut memberikan kontribusi terbaiknya demi masa depan bangsa yang telah merdeka selama 70 tahun ini. Oleh karenanya HMI ke depan wajib lebih menyentuh persoalan-persoalan bangsa yang lebih konkret, terutama persoalan ekonomi. Wallahua’lam bi shawabb. (*)

* Artikel ini adalah pemenang kedua sayembara menulis Karya Bagi Negeri dengan tema “Harapan Kader untuk Pengurus Besar (PB) HMI ke Depan Menuju Indonesia yang Lebih Baik”. Penulis adalah Kader HMI Cabang Solo, Mahasiswa IAIN Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *