Pasar Akik di Prambanan Masih Ramai Pembeli

SLEMAN – Tak seperti di daerah lain yang sudah mulai sepi,  sentra batu akik Pasar Prambanan, Sleman, DIY, ternyata masih ramai dikinjungi penggemar. Para penjual dan perajin mengaku demam akik belum redup di kawasan  Prambanan.

“Meski dikata akik hanya booming sesaat nyatanya masih ramai. Setiap hari pasti ada pembeli,” kata Pedagang batu mulia di Pasar Prambanan, Bowo Buwono (40) Kamis (05/05/2015) siang.

Menurut Warga Desa Sonayan, Kecamatan Prambanan ini, penggemar batu akik di wilayah Yogyakarta sudah ada sejak dahulu, sebelum booming-boomingnya pada 2015 yang lalu. Bagi kalangan masyarakat  Indonesia, khusunya masyarakat  jawa, kata Bowo, memakai akik bukan sekadar hiasan, namun menjadi bagian dari budaya.

“Jadi akik beda dengan misalnya Ikan Louhan atau Tanaman Gelombang Cinta yang pernah booming tapi hanya sesaat, lalu kehilangan nilai ekonominya,” ujar pedagang akik yang membuka lapak di tepi jalan rel KA Selatan Pasar Prambanan ini.

DikatakanBowo, jenis akik yang masih diburu penggemar saat ini diantaranya bacan, kalimaya,  black opal, batu agathe.

“Banyak juga yang cari jenis permata, seperti Rubi, Saphire, dan Emerald (Jamrud),” kata pedagangbdan perajin akik yang meneyediakan bernagai macam dan jenis akik serta permata natural ini.

“Kalau untuk kolektor biasanya yang dicari justru akil gambar, karena langka dan hanya satu-satunya di dunia,” tukas Bowo.

Sementara penggemar batu akik, Budi Santoso (31) warga Desa Bokoharjo, Prambanan, mengatakan meski sudah tidak booming seperti sebelumnya, dia tetap menyukai batu akik. Saat ini bahkan dia semakin demam akik.

“Saya termasuk penghobi baru sejak booming batu akik. Tapi sampai sekarang tetap penggemar akik, bahkan koleksi,” kata penggemar Kecubung dan Mirah Siyem ini.

Berbeda dengan Yusuf Iswahyudi  (36), Desa Tamanmartani, Kalasan, Sleman. Pria penggemar batu motif ini mengaku menjadi penghobi batu mulia sejak dahulu. Menurutnya penggemar batu akik tidak akan punah. Terlebih, kata dia, akik juga bagian dari kekayaan alam Indonesia yang meripakan ring of fire (dikelilingi gunung berapi), sehingga menghasilkan mineral batu yang beragam jenis dan corak indah untuk perhiasan.

“Kalau akik atau batu mulia  itu jelas akan lama dan masih pinya potensi terus booming lagi. Batu mulia kan memang punya nilai investasi dan punya pangsa pasar tersendiri. Batu itu tidak bisa dibudidayakan seperti lohan dan gelombang cinta, jadi bahkan semakin lama akan semakin bernilai, karena semakin langka tentunya,” ujar Yusuf. (kt1)

Redaktur: Rudi F

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by rasalogi.com