Pancasila Bukan Sekadar Rasa: Asing Penjajah Tetaplah Musuh

Oleh: JN el Aulia Syah*

KELEBIHAN manusia dibanding makhluk lain adalah selain memiliki perasaan juga akal. Rasa kemanusiaan jelas beda dengan rasa kebinatangan. Hidup harmonis manusia jelas berbeda dengan ala binatang. Misalnya, dalam suatu habitat, binatang yang kuat memakan yang lemah itu bagian dari harmonisasi. Saling makan antar sesama maupun binatang beda jenis, sudah menjadi kelaziman.

Semua binatang memiliki rasa dan hukum yang sama. Kalau tidak memakan makhluk lain, maka dirinya sendiri yang mati. Tidak peduli apakah aktivitas mencari makannya merugikan sesama, terlebih makhluk lain. Tetiap binatang, baik pemangsa atau yang dimangsa memiliki rasa serupa, baik karnivora maupun herbivora. Berbeda dengan manusia. Dengan pikiran dan perasaannya  manusia akan menilai jika yang kuat menindas yang lemah, maka itu tidak adil dan merusak harmonisasi.

Jalan memanusiakan manusia jelas tertera dalam Pancasila.  Butir ‘Kemanusiaan yang adil dan beradab’ (sila ke-2) misalnya. Itu menunjukkan adanya keunggulan manusia selain memiliki rasa tapi juga akal budi. Manusia beradab jelas tidak menghendaki menindas tapi juga tak ingin ditindas. Jika ditindas maka dia akan melawan. Seyogyanya Manusia beradab tak akan merugikan yang lain, terlebih manusia yang menjadi pemimpin atas manusia lainnya. Pemimpin beradab tidak akan merugikan rakyatnya.

Perumus Pancasila adalah founding fathers (pendiri bangsa) yang berlatar nasionalis, intelektual, termasuk ulama, sehingga tentu memahami betul bahwa hanya oleh manusia yang beradab akan tercipta ‘Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia’ (Sila ke-5 Pancasila). Keadilan sosial tidak mungkin tercipta dengan pemerintahan yang otoriter dan mengabaikan ‘Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan’ (sila ke-4). Keadilan sosial pastinya tidak akan terwujud ketika ada suatu bangsa menindas bangsa lainnya. Keadilan sosial tidak mungkin ada jika sesama anak bangsa diadu domba oleh bangsa penjajah.

Founding fathers yang pejuang kemerdekaan tentu menyadari, salah satu hal yang membuat Indonesia sulit lepas dari penjajahan karena bangsa penjajah menerapkan politik adu domba (devi de et impera) dan pembodohan yang terstruktur serta sistematis. Akibatnya, rakyat Indonesia merasa tidak dijajah, rela menghamba, bahkan membela penjajah Asing. Oleh karenanya persatuan Indonesia (sila ke3), dengan membangkitkan jiwa nasionalisme adalah panggilan yang harus dipenuhi seluruh bangsa Indonesia agar tidak lagi dijajah bangsa asing manapun, dalam bentuk apapun, termasuk penjajahan ekonomi.

Ruh dan semangat Pancasila yang memanusiakan manusia, jelas tidak hanya didominasi rasa, melainkan sinergi antara akal dan rasa.Sebab jika rasa yang mendominasi, maka akal tidak bekerja dengan baik. Contohnya ketika bangsa asing datang ke Indonesia dan memonopoli ekonomi, sampai ke penguasaan dilevel tenaga kerja kasar, bahkan mulai intervensi kebijakan Negara. Jika disikapi dengan dominasi rasa, maka akan membentuk “kepasrahan”. Bahwa orang asing juga manusia, sesama ciptaan Tuhan, sama-sama butuh makan, sehingga kenapa harus dilarang masuk dan menguasai pasar serta ekonomi kita?

Hal itu tentu berbeda dengan jika menggunakan akal pikiran yang diselaraskan dengan rasa kemanusiaan. Melihat fenomena asing yang mulai menguasai segala lini kehidupan bangsa Indonesia, maka akan berpikir, lalu merasakan bahwa sesunggunya mereka telah menjajah bagsa kita. Dengan demikian nalar kritis akan terbentuk dan mempertanyakan bagaimana mungkin pemerintah merestui masuknya puluhan ribu tenaga kerja asing dari China, ditengah masih banyaknya pengangguran di negeri sendiri? Inikah kemanusiaan yang adil dan beradab?

Bagaimana mungkin ratusan Negara asing dibebaskan visa masuk Indonesia dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 69 Tahun 2016? Bagaimana cara mengontrol mereka? Bagaimana kalau yang masuk adalah militer atau spionase asing, bahkan teroris? Bagaimana mungkin warga Negara asing bisa bebas memiliki tanah dan rumah di Indonesia dengan Perpres No. 103 Tahun 2015? Itukah manifestasi bela Negara ataukah cara mengantisipasi serangan musuh asing?

Bagaimana mungkin dengan alasan agar bisa bersaing di era liberalissi ekonomi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), pemerintah cabut subsidi sumber energi (Bahan bakar minyak)? Bagaimana mungkin menang bersaing dengan asing jika usaha rakyat tak lagi diproteksi serta pemerintah menaikkan suku bunga Bank di atas rata-rata Negara ASEAN? Bagaimana mengalahkan investor asing yang justru difasilitasi negara seperti mendapat keringanan pajak? Inikah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?!

Kedamaian, keadilan, kesejahteraan dan segala kebaikan adalah ajaran Tuhan yang diyakini setiap manusia yang beragama. Oleh sebab itu, ‘Ketuhanan yang Maha Esa’ (sila ke-1) merupakan fondasi yang menunjukkan betapa Pancasila adalah ajaran kebaikan, memanusiakan manusia, cinta damai, namun menolak dan siap melawan ketidak adilan serta berbagai bentuk penjajahan. Sebab apapun perwujudannya penjajahan adalah sesuatu yang asing, tidak ada dalam jiwa Pancasila.

Pancasila tidak membentuk katakter manusia Indonesia sebagai manusia yang permisif terhadap penjajahan bangsa asing manapun. Pancasila tidak mengenal azaz kewarganegaraan Ius Sanguinis (Dwi kebangsaan). Pancasila senantiasa menggelorakan semangat nasionalisme. Pancasila adalah energy hidup dan pendorong hidup (elan vital) yang mencipta rasa cinta bangsa dan negara Indonesia yang satu dalam Bhinneka Tunggal Ika. Pancasila membingkai kebangsaan Indonesia dari sabang sampai marauke, wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang terdiri dari beragam suku, ras, agama, dan budaya. Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika bukan untuk bangsa dan negara asing manapun. Bhinneka Tunggal Ika adalah satu Indonesia, satu NKRI yang berdaulat demi terwujudnya masyarakat Indonesia adil makmur yang diridhai Tuhan yang Maha Esa. Wallahu a’lam bi shawab. [*]

*Penulis adalah warga masyarakat Indonesia biasa, pecinta seni, sastra dan Budaya Indonesia, tinggal di Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.