Pratikno: Teknologi Merubah Teori Politik Lama

YOGYAKARTA– Teori-teori politik yang dipelajari saat ini sudah berubah. Hal itu karena kemajuan teknologi yang membawa perubahan pada iklim demokrasi dan politik di dunia, termasuk di Indonesia.

Hal itu diungkapkan Menteri Sekretaris Negara, Prof. Dr. Pratikno, saat menjadi key note speaker dalam International Seminar on Social and Political Sciences (ISSOCP), di University Club UGM Kamis (23/11/2017).

Dalam seminar bertema “Trust Building in Digital Revolution” ini Pratikno mengungkapkan, kemajuan teknologi  membuka media-media baru bagi aktivitas politik, sekaligus juga membuat sarana politik yang lama menjadi kurang relevan.

“Kampanye politik, misalnya, kini dapat dilakukan secara lebih efektif dengan memanfaatkan analisis big data dan agenda setting dapat dilakukan dengan membuat viral ide tertentu di sosial media atau membuat petisi secara daring,” tutur mantan Rektor UGM ini.

Perubahan ini, kata dia, membuat perantara seperti partai politik menjadi seolah tidak lagi diperlukan karena generasi milenial telah menciptakan cara sendiri untuk membuat suara mereka terdengar.

Menurutnya, di dalam politik intermediasi jadi seperti tidak berperan karena ditempuh dengan jalan pintas melalui media digital.

“Jika tidak mau dianggap tidak lagi relevan, pemerintah sama halnya dengan perusahaan-perusahaan yang mencoba untuk mempertahankan bisnis mereka, harus turut berubah sesuai dengan tuntutan zaman demi turut mengambil keuntungan dari perkembangan teknologi,” imbuhnya.

Pratikno menambahkan pemerintah saat ini menjalankan berbagai upaya melalui lembaga pendidikan dan inisiatif masyarakat, serta bagaimana mendorong startup muda untuk mengembangkan solusi penyelesaian masalah sosial. Di tengah gempuran disrupsi teknologi, Pratikno berharap pada generasi muda supaya menghasilkan ide-ide dan mengambil inisiatif melalui demokrasi digital untuk menciptakan pelaku demokrasi digital bagi kebaikan bangsa,

“Bukan untuk menghancurkan negara dengan penyebaran kebohongan. Untuk menyelesaikan masalah, kita harus menjadi disrupsi kreatif, menghancurkan disrupsi-disrupsi yang dapat membawa kehancuran,” kata Pratikno.

Pratikno juga mendorong  para pemuda untuk melawan konten negatif di dunia  maya dengan hal-hal yang baik.

“Saya percaya bahwa pemuda yang lebih mengerti teknologi dan memiliki kapasitas yang diperlukan untuk menjadi agen perubahan,” tandasnya. (kt1)

Redaktur: Rudi F

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.