Sugiyanto H Semangun: Prioritas Pembangunan Selatan DIY Hasil Kajian Geopolitik

YOGYAKARTA – Ketua Ikatan Keluarga Alumni LEMHANNAS Komisariat Daerah Istimewa Yogyakarta (IKAL-DIY), Sugiyanto Harjo Semangun, M.Sc mengatakan  prioritas pembangunan kawasan Selatan DIY sesuai visi Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, merupakan langkah tepat.

Menurut pakar geopolitik ini, negara-negara maju di dunia tengah berlomba-lomba untuk menguasai sumber daya lautan. Ia mencontohkan Yangshan Deep Water Port, pelabuhan di daerah Hangzhou, China, yang menjadi pusat perdagangan laut terbesar di dunia.

“Tidak menutup kemungkinan kelak Indonesia memiliki deep water port yang dibangun di selatan DIY, sehingga menjadi poros ekonomi kelautan di Dunia. Sebab siapapun yang menguasai Samudera Hindia, maka akan menguasai perekonomian dunia,”  tuturnya saat menjadi pemateri dalam ‘Raker Penyusunan Draf Renstra Badan Kesbangpol DIY Tahun 2017-2022’ di  Kantor Kesbangpol DIY, Senin (18/12/2017) siang.

Dalam forum yang dihadiri perwakilan Partai Politik (Parpol) dan Organisasi Masyarakat (Ormas) DIY tersebut, Sugiyanto menjelaskan pentingnya pemahaman geopolitik saat ini. Dikatakannya, potensi Samudera Hindia yang sangat bernilai ekonomi tinggi sudah banyak diincar negara-negara maju di dunia.

Visi Gubernur DIY 2017-2022, yaitu ‘Menyongsong Abad Samudera Hindia untuk Kemuliaan Martabat Manusia Jogja’ dinilainya lahir dari kajian mendalam tentang wawasan geopolitik tersebut,

“Karena Samudera Hindia yang masuk dalam wilayah maritim Indonesia bisa dikatakan masih belum terjamah. Jadi menurut saya visi ngarso dalem (Sri Sultan HB X), sangat tepat. Ini berdasarkan analisa ilmiah yang mendalam tentang geopolitik. Wilayah selatan DIY yang berbasis kemaritiman memang harus dikembangkan untuk kesejahteraan masyarakat DIY,” imbuhnya yang Alumni LEMHANNAS  RI  / PPSA- XVII/2011.

Dijelaskan peraih gelar Master Business dari University Central England ini, tingkat kemiskinan masyarakat di kawasan selatan DIY  cukup tinggi. Dengan memprioritaskan pembangunan di sana, kata dia, merupakan langkah strategis Pemerintah Daerah (Pemda) DIY untuk menekan angka kemiskinan sekaligus meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

“Karena sesuai konsesus founding father kita, sesungguhnya tidak ada pemimpin yang tidak menginginkan rakyatnya sejahtera,” tukas alumni Universitas Indonesia, Magister Sains, Program Studi Kajian Ketahanan Nasional ini.

Namun demikian, Sugiyanto mengharapkan, pembangunan di kawasan selatan juga harus mengedepankan faktor keamanan. Sebab, kata dia, pembangunan tersebut seyogiyanya bermuara pada tujuan nasional, sebagaimana diamanahkan dalam Pembukaan UUD 1945 pada alinea ke-4;

‘…Untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia….’

“Instrumen penting untuk mewujudkan tujuan nasional adalah Ketahanan Nasional. Sedangkan inti dari Ketahanan Nasional adalah terciptanya masyarakat sejahtera dan aman,” tukasnya dalam kegiatan yang dipandu Sekretaris Kesbangpol DIY, Sugeng Irianto, M.Si. mewakili Kepala Kesbang Pol DIY, H. Agung Supriyanto, SH.

Mengutip pernyataan Prof. Salim Said (Pengamat Politik), Sugiyanto mengingatkan, sebuah negara bisa maju karena ada faktor yang ditakuti. Sebagaimana dicontohkan Prof Salim, kata dia, Israel maju karena takut di tengah lautan bangsa palestina, Singapura Maju karena etnis China di tengah etnis melayu,

“Kalau Indonesia, kata prof Salim Said,  Tuhan saja tidak ditakuti. Oleh karenanya kita sudah saatnya takut jika Pancasila sebagai way of life bangsa Indonesia digerus oleh ideologi lain dari luar,” tandasnya.

Di Lembaga Ketahanan Nasional (LEMHANNAS), kata Sugiyanto,  ada istilah ‘Tan Hana Dharma Mangrva’ yang artinya tidak ada kebenaran yang mendua, kebenaran hanya datangnya dari Tuhan. Namun demikian, Sugiyanto menekankan jika ada kebenaran dalam konteks bernegara yang harus diterima,

“Kebenaran itu ialah konsesus founding father Bangsa Indonesia, yaitu Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945,” tegas Sugiyanto yang salah satu pendiri Institut Peradaban, Jakarta bersama Prof. Salim Said dan sejumlah tokoh nasional lainnya. (rd)

Redaktur: Ja’faruddin AS

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.