Produksi APP, Rumah Garuda Bentuk Karakter Pancasila Sejak Dini

BANTUL – Keprihatinan akan melunturnya jiwa Pancasila dalam diri generasi bangsa Indonesia tak lepas dari banyaknya sejarah yang terlupa, tak terkecuali sejarah Garuda sebagai lambang negara yang menjadi visualisasi Pancasila itu sendiri. Tak hanya tenggelam dalam keprihatinan, Rumah Garuda menelorkan sebuah gagasan brilian untuk membentuk karakter ‘garuda’ sejak usia dini,

“Kita tentu tidak ingin generasi bangsa kita lupa akan sejarah besar bangsanya, terlebih melupakan Pancasila. Nah, bagaimana mungkin nilai Pancasila akan bisa menjiwai, sedang sejarah penciptaan lambangnya yang sarat akan filosofi saja tidak paham?” ujar pemilik Museum dan Lembaga Studi Lambang Negara ‘Rumah Garuda’, Nanang Rakhmad Hidayat, M.Sn kepada jogjakartanews.com belum lama ini.  

Tak sekadar berwacana, Rumah Garuda kemudian mengembangkan metode pengenalan sejarah lambang negara Garuda Pancasila di Museumnya. Selain terus menambah koleksi benda bersejarah tentang penciptaan lambang negara, Rumah Garuda juga memproduksi Alat Peraga Pendidikan (APP) untuk mengenalkan maha karya Garuda Pancasila kepada anak usia dini.

“Rumah Garuda menghasilkan puzzle blok, minimal mengenalkan lambang negara sejak usia dini. Kamus lipat, kita bisa mengenalkan pada butir-butir Pancasila. Ular Tangga Garuda, cara mengenalkan lambang garuda dengan permainan yang digemari anak-anak. Kalender kebangsaan kita bisa mengenal histori lambang negara. Kemudian wayang pulau untuk merakit dan merekatkan lagi kebhinnekaan kita,” beber Nanang yang juga telah menciptakan film tentang sejarah Lambang Negara Garuda Pancasila.

Nanang menambahkan, super hero dari wayang pulau adalah Kyai Gardala (akronim Garuda Pancasila) yang juga diwujudkan dalam cost play (kostum) Gardala. Dalam waktu dekat, kata dia, Rumah Garuda bekerja sama dengan sineas muda dari kalangan mahasiswa akan membuat film kedua tentang Garuda Pancasila. Cost play Gardala menjadi property utama dalam film sekaligus sebagai icon film,

“Cost play ini sebagai upaya menghidupkan kembali lambang negara yang sakral, yang biasanya tergantung di dinding, kemudian dimunculkan menjadi sesuatu yang bergerak menjadi super hero.  Ini sekaligus menjadi alternatif anak-anak sekarang mempunyai kebanggan terhadap super hero Indonesia, tidak hanya Super Man, Batman, Iron Man dan sebagainya,” ucap pria yang sejak kecil sudah menyukai bentuk Garuda Pancasila ini.

Dikatakan Nanang, gagasan membuat APP untuk anak usia dini tak lepas dari penelitian tentang lambang negara garuda Pancasila sejak 2003 yang lalu sehingga melahirkan buku yang ia beri judul ‘Mencari Telur Garuda’. Menurutnya, ‘telur’ atau cikal-bakal sejarah perancang Garuda Pancasila di masa lalu sudah ditemukan.

Dijelaskan Nanang, perancang yaitu tim ‘Panitia Lencana Negara’ dibentuk dalam sidang kedua Kabinet Republik Indonesia  Serikat (RIS) pada 10 Januari 1950. Tim tersebut diajukan kepada pemerintah RIS melalui Sultan Hamid II selaku Menteri Negara Zonder Porto Folio. Tim diketuai oleh Prof. Dr. Moh. Yamin (Anggota DPR Parlemen RIS), dengan anggotanya Ki Hajar Dewantara (Staf Ahli Kementrian Pengajaran dan Kebudayaan), M.A. Pellupessy (Menteri Penerangan), Moh. Natsir (Pimpinan Partai Politik Masyumi, dan Prof. Dr. R.M.Ng Poerbotjaraka (ahli bahasa dan kebudayaan),

“Kalau telur garuda masa lalu sudah ketemu ini ya, tapi bagaimana dengan masa depan? apakah akan lahir Garuda-Garuda baru yang gagah perkasa seperti pendahulunya, atau malah menetas menjadi berbentuk ‘Tikus’, ‘Babi’, ‘Bunglon’, ‘Kadal’, ‘Buaya’ dan sebagainya?” tanya Nanang dengan kalimat satire penuh kegelisahan.

Tentu kekhawatiran itu bukan tanpa dasar. Sebab menurut Nanang, realitasnya generasi saat ini kebanyakan kurang paham akan sejarah lambang negara, berikut profil para perancangnya. Para perancang Garuda Pancasila, tegas Nanang, bukan orang-orang sembarangan dan patut menjadi tuntunan,

“Nah, untuk mempertahankan generasi Garuda perlu diasup dengan berbagai media. Para perancang lambang negara kan sudah jelas bisa menjadi tuntunan. Tapi bagaimana mepertontonkan para panutan itu di era sekarang kan butuh inovasi, supaya lebih menarik dan bisa diterima generasi kekinian yang sudah banyak terkontaminasi tontonan yang semakin jauh dari nilai Pancasila,” tukas peneliti lambang negara yang telah mengoleksi 300 lebih sumber fakta sejarah proses perancangan Garuda sebagai lambang negara berupa patung, foto, dan buku ini.

Namun di sisi lain, Nanang mengaku karena keterbatasan dana yang dimiliki, Rumah Garuda belum bisa memproduksi APP dalam skala besar. Selama ini APE hanya diproduksi terbatas, itupun jika ada pemesanan saja.

“Harapan saya suatu saat ada yang bisa memproduksi APP yang dirancang Rumah Garuda ini secara masal, sehingga bisa menjadi penunjang Pendidikan usia dini guna menanamkan jiwa Garuda sejati, generasi Indonesia yang benar-benar tangguh dalam mengamalkan Pancasila,” pungkas kolektor motor tua ini. (rd)

Redaktur: Ja’faruddin. AS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.