UGM Kembangkan Alat untuk Mengukur Kemampuan Anak Sejak Dini

YOGYAKARTA – Pengukur kemampuan kognitif untuk mendeteksi potensi anak sejak dini, dikembangkan oleh Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Pengembangan Pengukur yang sudah dirintis selama 5 tahun tersebut diberi nama Tes Kognitif AJT.

Project Manager Tes AJT, Dra. Retno Suhapti, S.U., M.A. mengungkapkan, gagasan pengembangan Tes AJT berangkat dari keperihatinan karena selama ini alat pengukuran psikologi atau Tes IQ yang digunakan di Indonesia masih terbatas dan didominasi alat pengukuran yang berasal dari luar negeri sehingga kurang memperhatikan budaya di Indonesia.

“Karena itu, dalam pengembangan Tes AJT, para pakar menggunakan basis latar belakang di Indonesia dengan melibatkan sekitar lima ribu anak sebagai responden,” ungkapnya saat memberikan keterangan kepada pers, Rabu (04/04/2018).

Diterangkan Retno, penggunaan anak-anak Indonesia sebagai populasi normatif Tes Kognitif AJT, mampu meningkatkan validitas interpretasi terhadap skor yang dihasilkan dari pengukuran. Sebab, kata dia, pembuatan pertanyaannya berbasis pengalaman di Indonesia, memakai contoh-contoh yang populer di Indonesia, bukan menggunakan contoh yang tidak semua anak Indonesia mengerti.

“Tes ini bisa mengungkap kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh setiap anak, untuk tahu persis anak ini unggulnya di mana, sehingga dia bisa berkembang dengan optimal di bidang yang sesuai,” katanya.

Tes kognitif AJT dikembangkan oleh dosen-dosen Fakultas Psikologi UGM bekerjasama dengan Yayasan Dharma Bermakna dan PT Melintas Cakrawala Indonesia.

Perwakilan Yayasan Dharma Bermakna, Ir. Abi Jabar, MBA.,  mengatakan bahwa ide untuk membuat tes ini berawal dari pengalaman keluarga George Tahija yang menemukan bahwa metode pengukuran kemampuan kognitif yang telah diterapkan di beberapa negara dapat membantu anak yang mengalami kesulitan dalam belajar,

“Beliau berpikir, kenapa Indonesia tidak punya metode seperti itu. Ketika kami ingin membuat proyek ini, kami melihat UGM yang paling menjanjikan, jadi pada tahun 2013 kita menandatangani MoU dan memulai proyek ini,” jelasnya.

Selain menggunakan pendekatan yang berbeda, keunggulan Tes Kognitif AJT ada pada komponen penilaian yang lebih komprehensif untuk dapat menggambarkan kemampuan kognitif anak dengan lebih rinci sesuai dengan budaya Indonesia. Menurutnya hal itu dapat membantu anak menemukan minat serta bakat yang dimiliki serta menumbuhkan rasa percaya diri mereka.

“Banyak anak yang merasa diri bodoh dan akhirnya putus sekolah, ini karena sistem penilaian sekolah tidak mendorong anak untuk mengetahui keunggulan dia di mana. Maka alangkah indahnya kalau kita bisa mendeteksi potensi itu secara dini sehingga dia tidak merasa diri inferior karena tidak menyadari bahwa ia juga memiliki kemampuan,” tukasnya.

Sementara pakar teori Cattell-Horn-Carroll (CHC) Kevin S. McGrew, Ph.D,selaku konsultan dalam pengembangan, menilai tes Kognitif AJT  disusun dengan menggunakan landasan teori yang kuat sehingga menjadi salah satu tes yang paling komprehensif dan mampu memahami kemampuan seseorang dengan sangat baik,

“Sebagai seorang akademisi, saya dapat berkata bahwa ini berkelas dunia,” kata Kevin.

Dalam kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Psikologi UGM, Prof. Dr. Faturochman, MA., berharap tes kognitif AJT mampu menjadi salah satu wujud peran dalam mengembangkan ilmu psikologi dan memberikan pelayanan untuk masyarakat yang bermutu, tepat, dan cermat yang ditopang alat bantu yang berkualitas.

“Diharapkan (juga) dapat memberikan kontribusi pada perkembangan asesmen kognitif di skala nasional maupun global,” harap Faturochman. (kt4)

 

Redaktur: Faisal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.