PSPBN UIN Sunan Kalijaga dan IKAL DIY Kumpulkan Pakar Hadapi Tantangan Global

YOGYAKARTA – Bekerjasama dengan Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL) Komisariat DIY,

Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara (PSPBN) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengumpulkan para tokoh untuk menyikapi tantangan Global. Forum tersebut dikemas dalam Focused Group Discussion (FGD) di Gedung. Prof. KH. Saifuddin Zuhri (PAU) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu (15/08/ 2018).

Kegiatan diawali dengan Stadium General oleh Humas IKAL Pusat, Joko Saksono. Dalam pemaparannya Joko mengungkapkan, dalam menghadapi tantangan Global, masyarakat Indonesia perlu memantapkan jiwa nasionalisme. Menurutnya, istilah Nasionalisme dalam konteks bangsa Indonesia yaitu keinginan, sikap, perilaku kita untuk Indonesia,

“Masyarakat Indonesia tidak terlalu tertinggal jauh jika dibandingkan dengan negara lain. Oleh karena itu, kita jangan sampai terjebak dalam stigma negatif dalam penilaian sebuah bangsa, terutama Indonesia,” ungkapnya.

Sementara dalam FGD, Tokoh DIY yang dihadirkan sebagai Nara sumber yaitu Sugiyanto Harjo Semangun, SE, M.Si (Ketua IKAL DIY), Hery Zudianto SE., Akt, M.M. (Mantan Wali Kota Yogyakarta), Hari Dandi (Dewan Pendidikan DIY), Dr. Alim Roswantoro, MA (Dekan FUPI UIN Sunan Kalijaga sekaligus Akademisi UII), dan Dr. Hery Santosa (Ketua Pusat Studi Pancasila UGM). Sementara itu sebagai moderator, Retna Susanti, SH (FKDM Bantul).

Heri Zudianto   menguraikan tentang penguatan wawasan kebangsaan di era globalisasi. Menurutnya untuk mengadapi tantangan global, bangsa Indonesia harus punya filter agar tidak terus terusan bergantung pada asing,

“Jangan pembangunan, apa-apa mengandalkan asing,” ujarnya.

Hery menegaskan, NKRI mempunyai cita-cita dan untuk mewujudkannya perlu bersama-sama. Ia mengkritik istilah ‘memberi’ untuk bangsa, karena masih ada makna kalkulasi untung rugi untuk bangsa. Seharusnya, kata dia, istilah yang tepat adalah ‘wakaf’ untuk bangsa.

Hery mencontohkan Korea Selatan, tahun 70 an merupakan negara termiskin, bahkan lebih miskin dari Indonesia,

“Tapi setelah era itu, Korea Selatan melakukan gerakan penyatuan masyarakat untuk bergerak maju. Melalui itu, masyarakatnya antusias memberikan kontribusi untuk kemajuan bangsa. Di Korea Selatan dimulai dari pembangunan desa, cintai produk dalam negeri,” ujarnya.

Sementara itu Ketua IKAL DIY, Sugiyanto Harjo Semangun mengungkapkan, dunia telah dipeta-petakan oleh penguasa modal yang berskala internasional dan memilki pengaruh yang besar dalam masyarakat dunia. Dampak pemetaan tersebut, Indonesia menjadi target produk pasar dunia internasional, sehingga terjadi stagnanisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia,

“Daya saing produk dalam negeri mengalami kekalahan perang dagang sehingga menjadi murah. Itu karena sumber daya manusianya masih lemah. Selain itu juga terjadi penurunan kedisiplinan warga negara dalam menguatkan karakter bangsa. Nasionalisme Indonesia telah tergerus oleh perubahan-perubahan yang begitu cepat dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di dunia global,” katanya.

Sedangkan Ketua PSP UGM Heri Santoso mengutarakan, dalam arus globalisasi, Indonesia  secara internal masih rapuh, karena banyak mengalami goncangan,

“Secara eksternal, gempurannya sangat lembut. Ada problem fundamentalisme pasar dan radikalisme agama. Pancasila terancam ketika membentuk UU yang bertentangan dengan Pancasila. Selain itu, Pancasila digerus oleh hedonisme, kapitalisme, dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Sementara itu, Dr. Alim Ruswantoro membedah soal Agama di tengah pergumulan nasionalisme Indonesia. Menurutnya Nasionalisme adalah salah satu sikap mental loyalitas individu berada di tempat tertinggi untuk bangsa dan negara,

“Dari situ melahirkan banyak teori etnis, dan lain sebagainya.  Prinsip nasionalisme ada prinsip kesatuan bangsa yang disatukan oleh keprihatinan yang sama dalam konteks Indonesia. Kemudian kemerdekaan berbangsa,” ujarnya.

Kemudian, Hari Dandi dalam FGD menyajikan kajian Nasionalisme ditengah dinamika sosial dan budaya bangsa dalam kesempatan yang sama mengungkapkan,  bahwa jargon NKRI harga mati, perlu terus diupayakan karena saat ini banyak ancaman asing,

“Untuk Pancasila sudah final, maka penting untuk diimpelmentasikan dalam kehidupan sehari-hari. Karena di Pancasila ada nilai normatif, nilai instrumental, dan nilai praktis bagi masyarakat Indonesia,” tegasnya.

Sebelumnya, dalam sambutannya Wakil Rektor III/Bapak Dr. H. Waryono berrapa FGD bisa menghasilkan implementasi nasionalisme Indoensia agar terus terjaga. Waryono menandaskan, umur Indonesia masih relatif baru sebagai negara diusianya yang ke 73 tahun,

“Dalam konteks negara, diusia ke 73 tahun, negara diharapkan menjadi lebih dewasa. Sesuai dengan tujuan dasarnya yang termaktub dalam UUD 1945, yakni mencerdaskan kehidupan seluruh anak bangsa. Oleh karena itu, akademisi mempunyai kewajiban dalam bidang ini. Harapannya, Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara UIN Sunan Kalijaga bisa mengadopsi metode Lemhanbas RI yang kemudian disosialisasikan sampai ke taraf para mahasiswa,” tuturnya mewakili Rektor UIN Sunan kalijaga, Prof. KH. Yudian Wahyudi, MA,P.hD. yang berhalangan hadir karena sedang bertugas ke Jakarta. (rd)

Redaktur: Ja’faruddin. AS

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.