DDII Perwakilan DIY Bedah Kembali Pemikiran Natsir

YOGYAKARTA –  Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), membedah gagasan dan pemikiran M.Natsir, Pendiri Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), partai politik berbasis Islam yang dibubarkan rezim orde lama (Orla), dalam seminar interaktif di Kantor DPD RI Perwakilan DIY jalan Kusumanegara, Rabu (03/04/ Malam).

Hadir sebagai pembedah dalam seminar bertemakan ‘Mosi Integral Natsir, Kembalinya Indonesia menjadi NKRI’ tersebut, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Khamim Zarkasih Putro.

Dalam pemaparannya Khamim mengatakan, Indonesia pernah punya ulama sekaligus politisi ulung di kancah dunia, yaitu M. Natsir, yang juga pernah menjabat perdana menteri dan menteri era Soekarno. 

Menurut Khamim, perannya Natsir untuk Bangsa Indonesia sangat besar, diantaranya melalui Mosi Integral Natsir, yakni mengembalikan Indonesia dari Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan bertahan sampai saat ini,

“Seiring perkembangan zaman, M. Natsir yang pendiri Partai Masyumi ini mulai terlupakan, khususnya di kalangan generasi muda. Saat ini sangat sulit menemukan politisi Indonesia seperti M. Natsir. Pemikirannya otentik, idealis, agamis dan nasionalis. Mosi integral Natsir yang mengembalikan dari RIS ke NKRI adalah buktinya,” kata Khamim.

Dikatakan Khamim, meski menyandang pejabat negara M. Natsir juga sosok sederhana. Sejumlah referensi menyebutkan, M,

“Natsir merupakan menteri yang tidak punya baju bagus, tidak punya rumah dan menolak diberi hadiah mobil bagus,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DDII DIY Eri Masruri mengatakan, sosok M. Natsir patut diteladani generasi muda saat ini. Terlebih dengan isu-isu kekinian tentang hubungan Islam dan negara, dalam konteks ini adalah NKRI, 

“Kaum milenial perlu menengok sejarah. Saat ini ada fenomena generasi milenial enggan mengkaji sejarah,” tukasnya.

Eri menilai, generasi muda yang enggan belajar sejarah para tokoh, termasuk peran tentang M. Natsir karena sejumlah hal. Antara lain, kata dia,  kondisi kekinian, di mana peran umat Islam bagi Indonesia sengaja ditutup-tutupi, namun begitu muncul seolah-olah dipertanyakan,

“Akhir-akhir ini Islam distigma berkurang keindonesiaannya,” katanya.

Menurut dia, stigma terhadap Islam semakin kentara di tengah-tengah masyarakat,

“Contohnya, dulu warga di kampung melihat orang berjubah dan berjenggot itu biasa saja. Sekarang memandangnya lebih dalam, menjurus ideologi seperti khilafah,” tegasnya.

Padahal, kata dia, Islam di Indonesia tidak mengenal ideologi yang fundamentalis. Para pendiri bangsa, termasuk M. Natsir sudah mengajarkan bagaimana Islam menjadi penyangga NKRI, bukan sebaliknya,

“Ini yang perlu meneladani M. Natsir, bagaimana Islam berperan dalam merawat NKRI,” ungkapnya.

DDII sebagai organisasi bentukan M. Natsir mengimbau kepada umat Islam, khususnya politisi muslim bersikap dewasa.

“Yang terpenting lagi, Islam tidak boleh menari di atas genderang yang ditabuh orang lain. Awalnya hanya mainan politik tapi sekarang sudah kebablasan. Kita memerlukan kedewasaan,” tandasnya.

Hal senada diungkapkan, Riset dan Literasi Pemuda DDII DIY M Dalton Fiisabilillah mengatakan, Indonesia sangat beruntung memiiki tokoh Islam besar bernama Natsir. Menurutnya, kesederhana M. Natsir patut dicontoh generasi muda.

“Bahkan tokoh kemerdekaan Haji Agus Salim pernah berujar, sosok M. Natsir penuh kesederhanaan. Penampilan dan caranya berpakaian tidak menunjukkan ketokohannya sebagai seorang menteri. Pikiran dan ide-idenya tentang umat dan bangsa masih sangat relevan diaplikasikan pada masa kini,” tutup Dalton.

Untuk diketahui, M. Natsir lahir pada 17 Juli 1908 di Solok, Sumatera Barat. Di dunia internasional, M. Natsir menjabat sebagai Presiden Liga Muslim se-Dunia dan Ketua Dewan Masjid se-Dunia. Di kancah domestik, bidang politik, mendirikan Partai Masyumi. Di bidang dakwah dan sosial kemasyarakatan mendirikan DDII. 

Natsir sering menuangkan gagasan dan pemikirannya dalam tulisan. Sepanjang hayatnya sudah menulis 45 buku dan ratusan karya tulis yang dipublikasikan dalam bahasa Indonesia dan Belanda. Pada 6 September 1950, M. Natsir diangkat sebagai perdana menteri. Jabatan lainnya seperti Menteri Penerangan RI. Pada 10 November 2008, M. Natsir diangkat sebagai pahlawan nasional Indonesia. (kt1)

Redaktur: Faisal

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.