Pegiat Relasi Aksi Galang Petisi Dukung Pemberian ASI dan Ibu Menyusui

YOGYAKARTA –  Memperingati World Breastfeeding Week (WBW) atau Pekan Menyusui Sedunia 2019, Relawan Sanggar ASI Indonesia (Relasi) menggelar Aksi damai di titik nol KM Yogyakarta, Sabtu (03/08/ 2019)

Para pegiat ASI yang tergabung dalam Relasi diantaranya terdiri dari mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Respati Yogyakarta, Universitas Islam Indonesia, dan Komunitas Young On Top (YOT) Yogyakarta.

Selain membawa berbagai poster pesan untuk masyarakat tentang manfaat dan dukungan menyusui, peserta aksi juga membagi-bagikan souvenir berisi pesan mengenai manfaat ASI dan dukungan bagi ibu menyusui.  Dalam aksinya Relasi juga menggalang penandatanganan petisi “Dukung pemberian ASI dan ibu menyusui” dengan mengajak  partisipasi pengunjung yang melintas di titik Nol KM Jogja.

Founder sekaligus Direktur Sanggar ASI Indonesia, Raisika mengatakan Sanggar ASI Indonesia adalah Platform Social enterprise pertama dan satu-satunya di Indonesia yang concern dengan isu pengasuhan alami dan rasional termasuk didalamnya dukungan terhadap ibu menyusui,

“Aksi damai diselenggarakan dalam rangka merayakan Pekan Menyusui Sedunia yang hadir setiap tahunnya pada minggu pertama bulan Agustus, tanggal 1 hingga7 Agustus. Pada tahun 2019 ini, perayaan pekan menyusui sedunia mengusung tema berdayakan orang tua untuk bisa menyusui,” ungkapnya disela-sela aksi.

Dijelaskan Raisika, tujuan Pekan Menyusui Sedunia 2019  adalah Menginformasikan mengenai pentingnya perlindungan sosial dalam mendukung peran setara orangtua dalam proses menyusui, menanamkan nilai dasar dan norma sosial yang mendukung orang tua dengan tidak memandang gender di setiap tingkatan, untuk mendukung menyusui,

“Kemudian mengikutsertakan dan melibatkan individu serta organisasi untuk memberikan dampak yang lebih besar bagi keberhasilan menyusui, dan yang terakhir menjalankan aksi yang mendukung kesetaraan peran kedua orang tua untuk membantu meningkatkan angka menyusui,” jelasnya.

Menurutnya keberhasilan proses menyusui merupakan tanggungjawab bersama antara ayah dan ibu. Dalam hal ini dibutuhkan dukungan pemerintah yang tertuang dalam kebijakan dan peraturan sehingga hak bayi untuk menyusu dapat terpenuhi,

“Penyediaan fasilitas ruang laktasi di area publik untuk ibu menyusui menjadi salah satu bentuk dukungan pemerintah. Selain itu, juga diperlukan dukungan dari lingkungan sekitar, misalnya keluarga, tetangga, masyarakat luas, tempat kerja serta kelompok sesama ibu menyusui,” ujarnya.

Ia menambahkan, menyusui menjadi tanggungjawab sosial bersama yang membutuhkan peran dari berbagai sektor baik formal maupun informal untuk melindungi, mempromosikan dan mendukung keberhasilan menyusui. Pemberdayaan adalah proses yang membutuhkan lingkungan yang mendukung dimana ibu dapat menyusui secara optimal,

“Pemberdayaan orangtua, memungkinkan menyusui dipilih oleh semua golongan orangtua di dunia saat ini. Fokus pada mendukung orangtua menjadi berdaya itu sangat penting agar tujuan menyusui dapat tercapai,” tandasnya.

Raisika menandaskan menyusui penting bagi bayi. Komposisi Air Susu Ibu (ASI), di desain Tuhan sesuai dan seimbang dengan kebutuhan khusus dan spesifik untuk bayi. Oleh karena itu, kata dia, fitrah bayi manusia setelah lahir adalah menyusu langsung kepada payudara ibunya yang merupakan sumber kehidupannya sebagai kebutuhan dasar (Hak Asasi) anak manusia,

“Dengan demikian menyusui merupakan pemenuhan terhadap Hak Asasi Bayi,” tegasnya.

ASI juga menurutnya penting diberikan kepada bayi karena mengandung sel-sel hidup, DNA ibu, hormon, enzim-enzim aktif, berbagai macam immunoglobulin, faktor-faktor pertumbuhan zat gizi yang lengkap dan sempurna untuk tumbuh kembang bayi dan mencegah stunting, serta zat-zat lainnya yang memiliki komponen struktur yang unik sehingga mustahil untuk dapat ditiru oleh susu formula,

“Karena asi merupakan sel hidup , komposisi ASI seorang ibu berubah setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, dari minggu keminggu bahkan bulan dan tahun, komposisi asi berubah mengikuti kebutuhan bayi,” bebernya.

Manfaat ASI dan menyusui bagi bayi diantaranya sumber zat imun, untuk kekebalan tubuh Bayi. Selain itu sumber DHA alami, untuk perkembangan otak dan kecerdasan,

“Kelekatan dan sentuhan ibu saat menyusui bermanfaat untuk kedekatan emosional dan kesehatan psikologis bayi. Nutrisi lengkap bagi bayi, ehingga bayi sejak lahir sampai umur 6 bulan cukup diberikan asi saja (asi eksklusif) . setelah 6 bulan lanjutkan pemberian asi dengan makanan pendamping asi (MPASI),” imbuh dia.

Menyusui juga menurut Raisika bermanfaat bagi Ibu, diantaranya rangsangan hisapan bayi pada payudara ibu menghasilkan hormon oksitosin yang merangsang kontraksi rahim untuk mencegah pendarahan. Menyusui mengurangi pendarahan dan menunda kembalinya masa haid seorang ibu, sehingga anemia karena kekurangan zat besi dapat dihindari,

“Menyusui bisa mengurangi resiko kanker payudara, kanker endometrium dan mengurangi depresi dan stress ibu pasca melahirkan,” sambung Raisika.

Raisika berharap Aksi damai ini dapat memberikan informasi kepada masyarakat luas di ruang terbuka tentang pentingnya menyusui dan merupakan bentuk dukungan terhadap orang tua untuk memberdayakan diri agar sukses menyusui,

“Sehingga kampanye mengenai manfaat dan pentingnya menyusui tidak hanya terbatas pada ruang-ruang praktik di fasilitas kesehatan dan forum-forum seminar,” tutupnya. (rd2)

Redaktur: Fefin Dwi Setyawati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.