Kuliah Bukan Harta Karun

Oleh : Aditia Firmansyah* 

Bulan-bulan ini adalah masanya para lulusan SMA mencari tempat perkuliahan. Orang tua dan anak-anaknya sedang berpikir keras untuk menentukan dimana anaknya akan kuliah. Berbagai cara dipertimbangkan mulai dari pendaftaran kuliah, jarak, biaya, peluang lolos, prospek kerja dan sebagainya. Berbagai jalur mereka ikuti seperti Snmptn, Spanptkin,Sbmptn, Umptkin, sampai jalur mandiri agar anak-anak mereka bisa kuliah.

Bagi kebanyakan orang tua dan lulusan  SMA sederajat, kuliah itu bagaikan harta karun yang dicari banyak orang untuk menjadikan dirinya kaya, sukses dan berhasil. Yang kuliah akan mendapatkan pekerjaan bagus, gaji tinggi, dan menjadikannya sukses. Yang tidak kuliah sulit untuk sukses. Oleh karena itu kuliah dianggap sebagai kewajiban.

Sebuah keluarga yang mampu secara ekonomis sepertinya sangat sulit untuk memutuskan anaknya tidak kuliah saja. Kebanyakan orang tidak melihat jalan alternatif. Seakan-akan kalau tidak kuliah, tidak akan mempunyai masa depan yang cerah.

Masih banyak yang sudah lulus kuliah belum bisa menghasilkan kompetensi dari kuliah itu, akhirnya banyak yang menganggur. Padahal orang tua mereka sudah banting tulang untuk membiayai anaknya agar menjadi orang sukses. Ada banyak fakta bahwa kuliah bukan segalanya dan tidak menjamin apa-apa.

Kuliah merupakan jenjang pendidikan formal tertinggi. Kuliah bisa menjadi tempat untuk mmpersiapkan masa depan yang baik. Kuliah juga adalah kerjakeras untuk mendapatkan kompetensi sesuai jurusan yang diambil untuk masa depan. Jadi, kuliah bukan segalanya yang akan memberikan masa depan yang baik kepada mahasiswa.

Tidak semua orang perlu kuliah. Ada juga orang-orang yang tidak kuliah karena sudah kompeten. Misalnya orang yang membuat penemuan baru atau sebuah karya, berjualan, membuat bisnis online dan lain-lain. Banyak perusahaan yang tidak rewel dengan ijazah dan gelar, semua bisa diterima asalkan dia bekerja keras dan kompeten dalam bidangnya.

Banyak orang tua yang sulit menerima kenyataan. Anaknya sudah kompeten tetap harus kuliah. Demi mendapatkan status kuliah itu, banyak orang tua yang memaksanya kuliah yang tidak sesuai dengan minat dan bakatnya.Akhirnya, anak tidak serius dalam kuliah, hanya sebagai formalitas untuk mencapai gelar sarjana dan ijazah.

Orang tua juga lebih fokus menguliahkannya ke perguruan tinggi tertentu. Targetnya pamor perguruan tinggi, bukan jurusan. Pokoknya harus masuk Perguruan tinggi B, kalau tidak masuk jurusan favorit, jurusan yang lain juga boleh yang penting kuliah ditempat itu.

Perguruan tinggi tertentu juga dianggap sebagai jaminan untuk masa depan yang lebih baik, padahal masih banyak lulusan perguruan tinggi yang menggangur meskipun diperguruan tinggi ternama. Sebaliknya, banyak perguruan tinggi yang tidak ternama berkarier cemerlang.

Bagi lulusan SMA sederajatyang ingin memutuskan kuliahdan orang tua yang ingin menguliahkan anaknya, hal terpenting yang harus diingat adalah kuliah itu bertujuan untuk mencari kompetensi sesuai jurusan yang diambil sejak awal masuk kuliah.

Orang tua dan anak harus menyusun rencana atau strategi untuk meraih kompetensi. Dalam perjalanan kuliah, anak harus mengevaluasi apakah target itu tercapai atau tidak. Bila tidak tercapai lakukan koreksi dan intropeksi diri untuk mencapainya. Orang tua juga harus terlibat dalam memantau, mengevaluasi, dan memberikan koreksi.

Tanpa proses dan kerja keras, kuliah akan berujung pada kegagalan. Lulus tanpa kompetensi atau tidak lulus. (*)

*Penulis adalah Mahasiswa Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.