HEBOH! Wacana Lengserkan Prabowo Gibran Meledak, Gerakan Mahasiswa Berubah Jadi Kekuatan Politik Baru?

Isu pemakzulan Prabowo-Gibran viral usai diskusi Utan Kayu, pakar ungkap peluangnya kecil tapi gerakan mahasiswa kini tak lagi sekadar “moral”.

ilustrasi : Diskusi pemakzulan Prabowo-Gibran di Utan Kayu berujung tindakan makar.

JAKARTA – Wacana pemakzulan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming ( Prabow0 Gibran ) Raka mendadak mengguncang publik setelah viralnya pernyataan dalam sebuah diskusi di Utan Kayu, Jakarta Timur.

Pemicunya adalah pernyataan ilmuwan politik Saiful Mujani yang mempertanyakan kemungkinan konsolidasi publik untuk mendorong perubahan politik, bahkan hingga menjatuhkan presiden. Potongan video pernyataan tersebut langsung menyebar luas dan memicu pro-kontra tajam.

Sebagian pihak menilai itu sebagai diskusi demokratis, namun tidak sedikit yang menyebutnya berbahaya hingga mengarah pada tuduhan makar.

Pakar hukum tata negara Feri Amsari menegaskan bahwa pembahasan pemakzulan bukanlah tindakan ilegal.

“Dalam konstitusi, impeachment adalah mekanisme yang sah,” ujarnya, belum lama ini.

Namun, realitas politik berkata lain. Akademikus Ubedilah Badrun menilai peluang pemakzulan sangat kecil karena kuatnya dominasi partai pendukung pemerintah di parlemen.

Presiden Prabowo sendiri menanggapi santai isu ini. Ia menegaskan bahwa pergantian kekuasaan harus melalui jalur konstitusional seperti pemilu atau mekanisme resmi lainnya.

Fakta Mengejutkan: Gerakan Mahasiswa Tak Lagi “Netral”

Di balik polemik ini, muncul fenomena yang jauh lebih besar, perubahan drastis dalam gerakan mahasiswa Indonesia.

Menurut ilmuwan politik Edward Aspinall, mahasiswa kini tidak lagi bergerak seperti era Orde Baru.

Ada tiga perubahan yang bikin situasi makin panas. Mahasiswa kini bergabung dengan buruh, petani, dan aktivis lingkungan dalam “aliansi rakyat”.

Mereka tak lagi mengklaim sebagai “gerakan moral”, tapi terang-terangan menjadi gerakan politik
Pelajar SMA/SMK ikut turun ke jalan, memperluas basis gerakan

Artinya, mahasiswa bukan lagi sekadar pengkritik, namun mereka mulai menjadi aktor politik nyata.

Dari Soekarno ke Prabowo: Akankan Sejarah Terulang?

Jika ditarik ke belakang, gerakan mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan saat Tritura 1966 yang berujung pada jatuhnya Soekarno.

Di era Soeharto, mahasiswa dibatasi hanya sebagai “gerakan moral” dan dilarang terlibat politik praktis.

Namun kini, pola itu berubah total.

Mahasiswa tak lagi di “menara gading”. Mereka turun ke jalan, beraliansi dengan rakyat, dan mulai menargetkan langsung kekuasaan.

Kenapa Ini Terjadi? Ini 3 Penyebab Utamanya, pertama Ekonomi Makin Keras.
Gelar sarjana tak lagi menjamin kerja. Mahasiswa kini menghadapi nasib yang sama dengan buruh: kontrak, outsourcing, dan ketidakpastian.

Kedua, Ideologi Makin Terbuka Media sosial membuka akses ke berbagai pemikiran, termasuk kritik terhadap oligarki dan sistem kekuasaan.

Ketiga Elite Tak Lagi Rangkul Mahasiswa
Dalam sistem politik sekarang, mahasiswa bukan lagi prioritas elite. Akibatnya, mereka justru lebih bebas menjadi oposisi.

Ancaman Nyata: Bisa Dimanfaatkan atau Ditekan

Meski terlihat kuat, gerakan ini tidak tanpa risiko.

Pengamat mengingatkan adanya potensi Kooptasi oleh kelompok politik tertentu, Penunggangan isu oleh kelompok ideologis, hingga represi dari negara.

Tanpa arah yang jelas, gerakan besar ini bisa kehilangan kendali.

Jadi, apakah wacana ini  Awal Gelombang Besar atau Sekadar Isu Viral?

Ya, wacana pemakzulan mungkin belum realistis secara politik. Namun kemunculannya membuka fakta baru: gerakan mahasiswa Indonesia sedang berubah menjadi kekuatan yang lebih politis dan luas.

Pertanyaannya sekarang, Apakah ini awal gelombang besar perubahan politik, atau hanya badai sesaat di media sosial? (kt1)

Redaktur: Faisal

 

57 / 100 Skor SEO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by rasalogi.com