Ekspresi Beragama Tak Hanya di Pondok Pesantren, Ribuan Santri Beraksi di Sepanjang Malioboro

YOGYAKARTA – Ribuan santri dari berbagai Pondok Pesantren di Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengikuti kirab ‘Grebeg Santri Yogyakarta 2019’, Minggu (13/10/2019).

Grebeg Santri merupakan kegiatan tahunan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PW NU) DIY. Untuk tahun ini merupakan  pelaksanaan ke 3 kalinya. Tema yang diusung dalam grebeg santri kali ini adalah ‘Santri Nyawiji Indonesia Gumbregah’.

Ketua Panitia Penyelenggara,KH Nilzam Yahya S.Ag mengungkapkan, Grebeg Santri diikuti sekira 3000an santri dari 75 kontingen yang mewakili seluruh santri pondok pesantren di wilayah DIY. Menurutnya  acara diselenggarakan untuk memperingati hari santri yang jatuh pada tanggal 22 Oktober 2019,

“Bagi NU ekpresi beragama itu tidak melulu di masjid , tidak melulu di Pondok Pesantren tapi di Jalan Malioboro juga merupakan ekspresi ketaqwaaan. Kira-kira begitu. Jadi NU beragama dengan cara yang sangat luas dengan cara yang bermacam-macam. Hari ini kawan-kawan santri dengan penuh kesadaran, dengan penuh semangat ingin menghibur masyarakat Yogyakarta dengan melalui Kirab Grebeg Santri,” kanya saat memberikan sambutan.

Dikatakan Nilzam, ketika para santri pondok pesantren bersatu , maka masing-masing tentu akan memberikan gairah yang berbeda bagi masyarakat. Harapannya, kehadiran para santri dapat diterima dengan baik oleh masyarakat,

“Mohon maaf kepada masyarakat kalau terganggu dengan acara ini. Tapi percayalah bahwa ini juga bagian dari promosi Malioboro kepada publik Yogyakarta maupun Indonesia. Harapannya ini jadi anggenda tahunan,” ucapnya.

Di tengah adanya isu radikalisasi yang mengancam persatuan bangsa Indonesia, Nilzam juga mengimbau agar  santri  juga harus senantiasa bisa mempertahankan Indonesia, mempertahankan UUD 45, dan mempertahankan Pancasila serta merawat NKRI.

Turut hadir dalam acara, Rois Syuriah NU DIY, Kh mas’ud Masduqi, Anggota DPD RI Hilmy Muhammad, dan Anggota DPRD Prov DIY Hifni Muhammad Nasikh.

Jalanya acara begitu meriah sejak dimulai pukul 14.00 Wib dari depan kantor DPRD Provinsi DIY dan berakhir Pukul 17.00 di titik nol KM Yogyakarta. Ribuan masyarakat nampak antusias menyaksikan penampilan para santri di sepanjang jalan Malioboro.

Setiap kontingen menampilkan ekspresi masing-masing . Ada yang dengan sholawatan sembari diiringi rebana dan tari-tarian, ada yang membawa simbol burung garuda sebagai bukti bahwa santri akan menjaga NKRI, dan beragam pernak pernik lainya yang membuat suasana semakin meriah.

Salah satu peserta, Arif Rahman dari Ponpes Wahid Hasyim Yogyakarta mengatakan, Kirab 2019 lebih variatif dan inovatif. Menurutnya santri sekarang semakin terbuka dengan keterbukaan zaman dan melek media. Ia mencontohkan ekspresi kirab santri dengan kostum Jokoer yang sangat milenial berpadu dengan kostum pocong yang mengusung keranda.Hal itu menunjukkan ekpresi yang unik bahwa santri milenial tidak menutup diri dengan kebudayaan luar namun tetap mempertahankan kebudayaan sendiri,

“Senang sekali. Bahagia melihat antusiasme warga Yogyakarta melihat parade kami.Kegiatan ini juga direspons sangat baik oleh Pemda dan DPRD DIY. Ini apresiasi yang sangat baik untuk santri dan NU terutama,” ujarnya.

Terkait harapan agar para santri sebagai garda terdepan untuk membendung radikalisme, ia mengaku optimis bisa diwujudkan,

“Santri adalah salah satu yang membendung arus radikalisme.Mungkin dengan banyaknya santri maka semakin tergeruslah arus radikalisme yang masuk ke Indonesia,” tutupnya. (ali)

Redaktur: Ja’faruddin. AS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.