Ejawantahkan Lumbung Mataraman, KTMI Kembangkan Pertanian Microba

SLEMAN – Sebagai upaya menjawab problem pertanian yang kian kompleks, Komunitas Tani Mandiri Indonesia (KTMI) mengembangkan pertanian microba tanpa pupuk kimia, di beberapa wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). 

Ketua KTMI DIY Mugiono Cahyadi mengatakan, saat ini petani menghadapi persoalan, terutama terkait ongkos produksi yang semakin naik. Selain memberikan pupuk microba yang dicampur pupuk kandang, KTMI juga memberikan gabah untuk bibit jenis hibrid wangi terbaik secara gratis kepada kelompok tani yang bergabung dalam KTMI,

“Ini wujud komitmen kami untuk menjadi salah satu bagian dalam mengejawantahkan Lumbung Mataraman yang menjadi agenda luhur di DIY. Butuh aksi nyata, namun juga memberikan rasa dan sistem yang berkeadilan tidak lebih untuk kesejahteran petani. Urip dan nguripi,” katanya seusai menghadiri panen raya di sawah milik kelompok tani binaan KTMI di Kalurahan Purwomartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Rabu (09/06/2021).

Pria yang akrab disapa Yoyon ini menjelaskan, pertanian microba yang dikembangkan KTMI juga sebagai gerakan pemulihan alam lestari. Dengan mengembalikan budaya pertanian seperti nenek moyang dulu tanpa pupuk dan obat kimia, diharapkan bisa menghasilkan pangan yang sehat,

“Teknologi KTMI bukan organik mengingat lahan plasma KTMI tidak kita syaratkan sertifikat organik. Mikroba KTMI diformulasikan bukan secara instan untuk langsung menaikan angka hasil produksi pertanian, tetapi bertujuan mengembalikan unsur-unsur nutrisi tanah seperti semula, mengingat puluhan tahun tanah di Indonesia dan DIY khususnya dibuat kecanduan dengan pupuk dan obat kimia, karena sistem dan kebijakan pertanian kita seperti itu,” ujarnya.

Menurut Yoyon, pelan tapi pasti, KTMI yang baru 1 tahun berkegiatan di DIY untuk pengembangan lahan plasma, sudah menunjukkan hasil yang bisa dinikmati petani. Ia mencontohkan hasil panen lahan pertanian Padi di Purwomartani sudah mengalami kenaikan 10 % dari tanam pertama,

“Paling tidak untuk pemula yang baru bergabung menggukan metode budidaya KTMI hasilnya sama dengan yang sebelumnya ketika menggunakan pupuk kimia. Keunggulan lainnya, padi yang umumnya biasa ditanam 90 hari, dengan pertanian microba KTMI berhasil dipanen dengan usia tanam 85 hari, tidak spektakuler tapi inovasi selangkah lebih maju,” imbuh Yoyon.

Ia menandaskan, strategi berkelanjutan dan program pendampingan petani sangat penting dilakukan untuk menjawab problem pertanian. Oleh karenanya KTMI mengajak petani, khususnya di DIY untuk bergabung dengan KTMI,

“Untuk bergabung dengan KTMI, petani dituntut melepas ketergantungan pupuk dan obat kimia. Calon plasma KTMI cukup mengisi formulir, Foto Copy KTP dan mengikuti pembekalan tim penyuluh KTMI,” tutupnya.

Panen Raya kelompok tani binaaan KTMI di Kalurahan Purwomartani kemarin juga dihadiri wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa. Dalam kesempatan tersebut Danang sekaligus membuka Agro pertanian dan perkebunan di Kalurahan Purwomartani. Ia berharap nantinya Agro pertanian sebagai laboratorium atau sekolah lapang pertanian dengan tanpa pupuk dan obat kimia,

“Saat ini penting sekali melakukan terobosan dalam memecahkan problem peratanian di Sleman dalam rangka meningkatkan hasil produksi pertanian. Ini PR yang menjadi konsentrasi progran kerja Pemkab Sleman. Kami berterimakasih kepada KTMI yang masih peduli mendampingi problem petani saat ini,” tuturnya.

Panen Raya juga dihadiri Anggota DPRD DIY, KPH Purbodinigrat  yang sekaligus wakil Penghageng Parentah Ageng Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kemudian, Panewu Kalasan, Siti Anggraeni Susila Prapti;  Lurah Purwomartani, Semiono dan Ketua KTMI Pusat, Kasiat.

Acara juga dimeriahkan dengan penampilan seniman Marwoto Kawer dan kelompok pengiring musik lesung. (pr/kt1)

Redaktur: Faisal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.