Aksi Sosial Unik Laskar Penyapu Rasa Lapar Banyumas Bagikan Makanan untuk Orang Jalanan di Sepertiga Malam

PURWOKERTO – Setahun lebih Pandemi Covid-19 melanda dunia. Masyarakat marginal, seperti tunawisma di jalanan semakin memperihatinkan. Sebagai bentuk empati terhadap sesama, Laskar Penyapu Rasa Lapar Banyumas menggelar aksi sosial dengan memberikan makanan gratis kepada para tuna wisma serta masyarakat marginal yang tinggal di jalanan kota Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. 

Aktivis Laskar Penyapu Rasa Lapar Banyumas, Heri Kristanto mengatakan, aksi sosial yang dilakukan komunitasnya sudah dimulai sejak pertengahan Mei 2021 yang lalu. Menurutnya, aksi sosial berangkat dari diskusi ringan ia dan beberapa sahabatnya pegiat sosial di Banyumas untuk meringankan beban sesama yang kurang mampu,

“Kalau sasarannya adalah kaum dhuafa, maka dhuafa yang seperti apa. Kalau panti asuhan dan fakir miskin sudah banyak tersentuh bantuan para dermawan dan pemerintah. Kemudian kami melihat kaum marginal di jalanan ini yang barangkali jarang tersentuh bantuan. Gagasan yang “out of the box” ini kemudian kami realisasikan dengan membentuk komunitas Laskar Penyapu Rasa Lapar Banyumas untuk memberi makanan kepada kaum marginal di jalanan,” katanya kepada jogjakartanews.com, Rabu (23/06/2021).

Menurutnya, berangkat dari komunitas kecil yang terdiri, ia dan para sahabatnya berhasil memantik rasa empati para dermawan dan donator untuk kemudian melibat dan menjadi bagian dari aksi laskarnya.

“Tak pernah ada paksaan dalam  membahasakan ajakanya,  kesadaran baru yang terbangun pada orang-orang yang tergugah rasa kemanusiaannya menjadikan aksi kebaikan itu meluas dengan sendirinya. Kami memang mengangkat aksi kepedulian model terbaru yang kemudian disebutnya dengan istilah operasi lapar,” ujarnya.

Menurutya, objek aksi “operasi lapar” adalah para tunawisma yang biasanya tidur di emperan toko di sekitar kota Purwokerto. Barisan tunawisma ini, kata Heri, ada yang murni gelandangan dan ada juga orang dari desa pinggiran yang sengaja mengais rejeki di kota dan kemudian pulang ke desa asal untuk bertemu keluarganya sekali seminggu. Dalam “operasi lapar” ia dan sahabat-sahabatnya membagi makanan yang dikemas dalam bungkusan. Terkadang aksi dipusatkan di satu warung dimana para tunawisma bebas memilh menu dan makan sepuasnya,

“Satu warungpun ludes seketika dan pemilik warungpun ikut memperoleh dampak dari aksi ini,” ungkapnya.

Selain pemilihan obyek yang unik, yaitu tuna wisma, pemilihan waktu membagi makanan juga diluar kebiasaan.  Semula dilakukan di awal sepertiga malam dengan maksud menawar rasa lapar bila memang tidak ada yang bisa dimakan sejak sore. Setelah aksi dilangsungkan beberapa hari dan coba mendalami  realitas keseharian para tuna wisma, kemudian ditertemukan jalan tengah, yaitu disepertiga malam terakhir,

“Pemilihan waktu ini dinilai lebih efektif karena  menjadi pengobat perut kosong bagi tunawisma yang kebetulan tidak ada yang bisa dimakan sore tadi dan juga bisa menjadi bekal sarapan pagi  bagi tunawisma yang kebetulan belum memiliki sangu (bekal,red) yang cukup untuk sekedar membeli sarapan pagi. Karena dimasa Pandemi, tentu kami menerapkan protokol kesehatan dan mengedukasi mereka untuk patuhi protokol kesehatan,” beber Heri.  

Terkait sumber dana, Heri menjelaskan, aksi ‘Operasi Lapar’ didanai oleh para inisiator, dengan menyisihkan sebagian dari rejekinya. Menurutnya melalui kegiatan operasi lapar, para inisiator juga belajar berbagi dan membantu sesama yang membutuhkan,

“Kami belajar untuk merawat bathin dalam urusan kepedulian, mengembangkan rasa syukur atas segala kebaikan Tuhan. Itulah motif aksi unik ini. Kami mengatakan unik karena kami tidak terinspirasi atau mengikut aksi yang sudah banyak dilakukan organisasi, komunitas, atau dermawan kebanyakan. Artinya, ini baru ada dan inisiatif dari kami sendiri,” tukasnya.

Ia menambahkan, dalam hitungan hari, aksi operasi lapar mendapat simpati para dermawan. Laskarnya menyampaikan pesan dan ajakan melalui media sosial seperti di group-group whats-app. Laskarnya juga belum memiliki base camp atau posko. Untuk para sahabat yang ingin bergabung atau berkontribusi dalam aksi operasi lapar, bisa menghubungi nomor Kontak +62 813 2693 5599

“Melalui pengkabaran kepada temen dan sahabat yang terkemas dalam bahasa sederhana, beberapa diantara mereka langsung tergerak untuk ikut berkontribusi, ada yang langsung transfer dan ada pula  yang langsung datang ke rumah mengantar uang cash. Alhasil, secara keuangan belum pernah mengalami nombok alias surplus. Artinya, peluang untuk terus melanjutkan aksi ini semakin terbuka lebar,” imbuhnya.

Namun demikian di sisi lain ada yang memberi masukan. Misalnya, kata Heri, kenapa tidak hari jumat? Atau kenapa harus orang jalanan? Ada yang khawatir justru dengan sering di beri makan mereka akan semakin nyaman di jalanan dan tidak mau merubah sikap mencari pekerjaan yang lebih baik,

“Bagi kami, untuk membantu kapan saja dan bahkan kalau mampu setiap saat, karena lapar tidak bisa menunggu hari Jumat. Yang terpenting adalah keikhlasan. Kenapa orang jalanan, karena kami melihat murni dari sisi kemanusiaan. Dimanapun ada orang susah sebisa mungkin dibantu tanpa melihat bacground siapa dia. Dimasa Pandemi ini, saya kira yang paling dibutuhkan adalah rasa saling membantu, bergotong-royong utuk meringankan beban bersama sesuai nilai-nilai Pancasila,” ucap Heri.

Heri mengaku apa yang dia dan sahabat-sahabatnya lakukan tidak akan menyelesaikan keseluruhan persoalan kaum marginal di jalanan. Ia dan sahabat-sahabatnya  hanya mencoba belajar melakukan kebaikan kecil dan mencoba mendengar dan mengambil pelajaran hidup dari kalimat-kalimat lugas yang keluar dari mereka diperbincangan ringan,  

“Kalaupun kami mengabarkan kepada beberapa teman dan sahabat, insha Allah bukan untuk pamer, tetapi semata-mata ingin mengabarkan bahwa ada kegelisahan di lingkar hidup para tunawisma   yang menarik untuk direspon secara bijak. Kalau kemudian mereka tergerak atau memilih cuek, itu sepenuhnya sudah menjadi urusan Tuhan. Kalau pada akhirnya banyak para sahabat yang merawat aksi “operasi lapar” ini sehingga menjadi rutin,  maka itulah waktu yang tepat untuk  minggir dan kemudian mencoba mencari ide lain yang sekiranya bisa memantik kebaikan baru lagi walau hanya sekedar melakukan hal-hal sederhana’,” pungkas Heri. (rd3/kt3)

Redaktur: Sarifudin

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.