Edutek  

Penemuan Baru, Sekam Padi untuk Sensor Deteksi Kanker Mulut

YOGYAKARTA – Mahasiswa UGM memanfaatkan sekam padi dalam mengembangkan Genosensor pendeteksi Mi-R21 yang berpotensi untuk diagnosis  kanker mulut.
 
Mereka adalah Tria Oktaria Rahmah (Kedokteran Gigi), Zakarias Sukma (Teknik Kimia), Dhea Umi Amalia (Kimia) dan Yohana Andina (Kedokteran Gigi). Keempat mahasiswa muda ini mengembangkan Genosensor dari sekam padi melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kemdikbud Ristek 2021.
 
Yohana mengatakan pengembangan Genosensor tersebut berawal dari keprihatinan akan masih tingginya kasus kanker mulut. Kanker jenis ini menyebabkan tingkat kematian yang tinggi karena tidak adanya gejala pada tahap awal. Penderita baru merasakan sakit setelah kanker menjadi parah dan sulit dikendalikan.
 
“Untuk itu kami berupaya  menciptakan Genosensor dari sekam padi yang mampu mendeteksi dari penyakit berbahaya kanker mulut,”jelasnya Jum’at (17/9).
 
Yohana menyampaikan bahwa Mi-RNA21 memiliki level yang cukup tinggi pada penderita kanker mulut awal. Karenanya menjadi potensial untuk membedakan orang yang terkena kanker mulut dengan yang tidak meski tanpa gejala. Dengan deteksi dini diharapkan pengobatam bisa segera dilakukan gina menurunkan risiko kematian.
 
“Selama ini untuk skrining agak sulit, hanya mengandalkan pemeriksaan visual dari dokter gigi.  Selain itu untuk teknologi yang lebih baik memiliki keterbatasan karena karena alatnya besar, sulit untuk masyarakat terpencil dan juga mahal harganya” paparnya.
 
Genosensor yang telah berhasil mendeteksi Mi-R21 terdiri dari glukometer dan glukostrip. Lalu
dilengkapi Propylamine Mesoporous Silica Nanoparticle berukuran 311 
nanometer yang dihasilkan dari sekam padi.
 
“Dari pengujian yang telah kami lakukan terbukti bisa mendeteksi Mi-RNA 21 dengan bantuan glukometer dan glukostrip secara in vitro,” tuturnya.
 
Dhea menambahkan bahwa penelitian yang mereka lakukan masih perlu pengembangan lebih lanjut. Kedepan diperlukan penelitian klinis dengan sampel langsung dari pasien penderita kanker mulut. Selain itu juga dibutuhkan
pengujian dalam skala lebih besar untuk menghasilkan genosensor dengan reliabilitas dan validitas yang tinggi. (pr/kt1)
 
Redaktur: Faisal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.