Fall Program, Kolaborasi Tiga Perguruan Tinggi Membuka Jejaring Internasional

YOGYAKARTA –  Kepala Kantor Urusan Internasional (KUI) Universitas Proklamasi 45 (UP 45) Yogyakarta, Rr.Putri Ana Nurani,SS,MM mengatakan mempelajari etnografi visual sangat penting dilakukan oleh mahasiswa. Menurutnya, saat ini studi atau penelitian terbaru tentang preferensi dan perilaku milenial menunjukkan bahwa generasi milenial cenderung menghabiskan setidaknya 11 jam seminggu untuk layanan video online dan 7 jam seminggu untuk mengakses media sosial,

“Mereka lebih mudah belajar dari media ‘baru’ yang menunjukkan karakteristik visualisasi yang kuat. Bagaimanapun, mereka lebih suka membuat informasi visual dan mengunggahnya ke media ini untuk bersenang-senang,” tuturnya, Minggu (07/11/2021).

Menurut Putri untuk memfasilitasi preferensi Milenial ke dalam proses pembelajaran yang konstruktif di tingkat internasional, UP 45 bekerjasama dengan Universitas Kristen Duta Wacana dan Universitas Dyana Pura (Undhira) Bali menggelar acara program musim gugur (fall program) secara online, Sabtu (06/10/2021) lalu.

Program dengan topik Etnografi Visual tersebut diselenggrakan untuk mahasiswa yang termasuk generasi milenial. Putri menjelaskan, Etnografi Visual adalah metode penelitian yang memadukan teori dan praktik pendekatan visual untuk belajar dan mengetahui tentang dunia dan mengkomunikasikannya kepada orang lain,

“Ini menjadi topik diskusi dan pertukaran wawasan yang menarik bagi mahasiswa atau siswa dari berbagai negara ketika mereka mengamati kebiasaan dan cara hidup yang berbeda. Tidak menutup kemungkinan pula bahwa siswa mempelajari penerapan etnografi visual ke dalam aspek kehidupan modern seperti dalam merancang permainan atau meningkatkan proses belajar-mengajar,” ujarnya.

Ia mengatakan, acara juga bertujuan untuk memfasilitasi siswa bekerja sama dalam lingkungan internasional. Kemudian, memberikan wawasan tentang menangkap adat dan cara hidup mereka sendiri secara metodologis dan terstruktur. Selain itu juga bermanfaat untuk merangsang kreativitas siswa dalam menggambarkan adat dan cara hidup mereka,

“Acara ini juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk terlibat dalam lingkungan belajar antar budaya. Di samping itu, berguna untuk memanfaatkan keterampilan mereka dalam memecahkan masalah kolaborasi dan komunikasi jarak jauh. Tentu saja juga untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris peserta,” imbuh Putri.

Dikatakan Putri, acara Fall Program diikuti peserta yang berasal dari berbagai negara dan dari universitas yang disatukan dalam grup, yang nantinya akan membuat satu project bersama terkait Visual Etnography dibawah supervisi dan bimbingan dosen,

“Setiap grup bebas memilih topik untuk project mereka. Adapun seleksi telah dilaksanakan di awal bulan Oktober. Di mana dari ratusan pendaftar di pilih 50 orang yang lolos seleksi berasal dari negara Indonesia, Timor Leste, Thailand, India, Filipina, dan Jerman,” terang Putri.

Acara Fall Program dibagi dalam tujuh sesi teori online, Focus Group Discussion (FGD) dan presentasi. Dalam acara tersebut, mahasiswa dari berbagai negara dan universitas akan dikelompokkan dan ditugaskan proyek yang berkaitan dengan Etnografi Visual. Di bawah pengawasan oleh dosen pembimbing. Setiap kelompok bebas memilih subtopik untuk proyek mereka. Beberapa tema topik untuk proyek akhir diantaranya terkait Street Food (Food and Beverage), Festivity, Traditional Market, Superstitious Beliefs, Traditional Costume, Religious Ritual.

Diskusi dan implementasi proyek kolaboratif dalam kelompok-kelompok ini berlangsung di luar tujuh sesi online. Mereka memiliki kebebasan untuk menentukan subtopik proyek mereka sendiri selama masih dalam area Etnografi Visual. Program ini dirancang setara dengan 2-3 kredit dan dapat dialihkan sebagai mata pelajaran Seni Liberal. Bergantung pada departemen atau program studi asal mahasiswa berada, kredit yang ditransfer akan dipenuhi sesuai permintaan.

Dr. Phil Lucia D. Krisnawati sebagai koordinator fall program sekaligus kepala kerjasama dan hubungan masyarakat UKDW mengatakan antusisme peserta dalam mengikuti acara sangat tinggi,

“Banyak yang mendaftar tetapi kuota sangat terbatas. Kuota rasio 27% yang diterima. Saya harapkan peserta berbangga karena bisa mengikuti acara ini. Semoga peserta bisa belajar banyak hal dari program ini. Dalam kegiatan ini saya juga sangat bangga sebagai observer Prof. Marie Paz E.Morales dari Philippine Normal University – Manila,” ujarnya.

Kegiatan online fall program visual ethnography 2021 ini menghadirkan narasumber dengan 7 materi yang berbeda. Diantaranya Ir. Eko Prawoto, M.Arch dari Universitas Kristen Duta Wacana membahas tentang Pengenalan Visual Ethnography. Zamzam Fauzanafi,S.Ant.,MA dari Universitas Gadjah Mada membahas tentang metode dan teknik visual ethnography. Dr.Phil Lucia D. Krisnawati, memaparkan bagaimana aplikasi Visual Etnography dalam merancang permainanan dan aplikasinya. Dr. Ing Gregorius S. Wuryanto, P.U. membahas tentang Aplikasi VE dalam desain produk. Winta T. Satwikasanti S.,S.Ds.,M.Sc memberikan teknik presentasi pecha kucha dan Oktavian Eka Putra,BA membahas tentang tutorial penggunaan alat video editing.

Dalam acara juga menghadirkan Janti Wignjopranoto yang menampilkan Javanese Culinary Short Class. Dalam kegiatan tersebut juga ditampilkan video pendek yang menggambarkan keindahan budaya Indonesia. Short video presentation Melanesian Culture in Indonesia; (Melanesian Race’s Culture in Papua and West Papua). Video tersebut dari Bresca Merina,S.IP., M.Ec.Dev. yang merupakan dosen UP 45.

UP 45 sendiri dalam kegiatan ini menghadirkan dosen pembimbing diantaranya DR. Benedictus Renny See, SH., SE., M.H., DR. Ir. Sugeng Riyono, M.Phil., IR.AA. Alith Merthayasa, MS,Phd, Amin Al Adib, S.Psi., M.Psi., Muhammad Noviansyah Aridito, S.Pd., M.Sc., Ali Audah,S.Pd., M.A.. Femmy Lekahena,S.Psi.,M.Psi , dan Rr. Putri Ana Nurani,SS,MM. (rd2)

Redaktur: Fefin Dwi Setyawati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.