Catatan Para Mantan Penyelenggara Pemilu Pasca Reformasi Dibukukan

YOGYAKARTA-Departemen Politik dan Pemerintahan, Fisipol UGM menyelenggarakan peluncuran buku berjudul Catatan Para Mantan: Renungan-Renungan Lepas tentang Lembaga Penyelenggara Pemilu di Indonesia Pasca Reformasi pada tanggal 24 Maret 2022 secara daring.

Buku ini merupakan karya editor Abdul Gaffar Karim dan Wegik Prasetyo yang terbit pada bulan April 2022. Dalam buku ini terdapat karya 30 orang penulis yang semuanya pernah menjadi sebagai komisioner KPU dan pimpinan Bawaslu/Panwaslu, baik di tingkat nasional maupun provinsi dan Kabupaten/kota.

Dua dari 30 penulis tersebut hadir sebagai pembahas dalam peluncuran buku ini. Pertama adalah Prof. Valina Singka Subekti yang merupakan Guru Bedar FISIP UI sekaligus pernah menjadi anggota MPR 1999-2004, anggota KPU RI periode 2001-2007 dan anggota DKPP 2012-2017.  Lalu, Dr. Nur Hidayat Sardini merupakan dosen FISIP Universitas Diponegoro yang pernah menjabat sebagai ketua Bawaslu RI periode 2008-2011 dan anggota DKPP 2012-2017.

Dalam buku ini, kedua penulis menuangkan pengalaman masing-masing dalam penataan setiap lembaga yang dipimpinnya. Prof. Valina menulis tentang penataan pemilu KPU di masa transisi ke arah presidensialisme yang lebih kuat. Era ini ditandai dengan pemilihan presiden secara langsung pertama kalinya di Indonesia. Sementara itu, Hidayat menuliskan pengalamannya tentang penguatan kelembagaan Bawaslu RI, baik di DPR maupun di MK.

Para penulis lain menuangkan pengalaman serupa dalam lingkup masing-masing, dalam berbagai sudut pandang. Tulisan-tulisan itu dikerangkai berdasarkan tujuh guiding principles bagi lembaga penyelenggara pemilu sebagaimana dirumuskan oleh International IDEA, yakni independence, impartiality, integrity, transparency, efficiency, professionalism dan service-mindedness.

Dr. Abdul Gaffar Karim, yang juga Ketua Departemen Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM menyampaikan bahwa buku Catatan Para Mantan ini menarik karena menyajikan cerita-cerita reflektif yang langsung dialami oleh penulis selama mereka menjabat sebagai penyelenggara pemilu, bukan kajian akademik dengan waktu yang terbatas. Selain itu, buku ini mengisi kekosongan di tengah banyaknya kajian tentang pemilu yang banyak menyoroti aspek politik dan teknis.

Sementara Wegik Prasetyo mengatakan buku ini memiliki peluang besar untuk menjadi keping puzzle yang dapat melengkapi gambaran besar penyelenggaraan pemilu di Indonesia. Buku ini juga akan dapat memberikan gambaran kepada pembaca tentang kompleksitas tantangan politik elektoral dari kacamata penyelenggara pemilu. (pr/kt1)

Redaktur: Faisal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.