UNHCR Sebut Tahun ini Krisis Pengungsi Terparah Setelah Perang Dunia II

Perang Dunia
Ilustrasi. Foto: ist

jogjakartanews.com – Invasi Rusia ke Ukraina bulan Februari lalu memunculkan prediksi terjadi Perang Dunia ke 3. Terlepas prediksi tersebut benar atau tidak, namun ada sejarah Perang Dunia II yang seperti terulang tahun ini.

Pada akhir tahun 2021 terdapat sedikitnya 89,3 juta orang yang meninggalkan negaranya di seluruh dunia akibat perang atau konflik politik di negaranya.

Komisioner Tinggi Badan pengungsi PBB UNHCR, Filippo Grandi mengatakan, tahun ini merupakan krisis pengungsi terparah atau mengalami lonjakan paling cepat sejak berakhirnya PD II.

“Lebih dari tujuh juta warga Ukraina telah meninggalkan rumah mereka namun masih berada di negeri itu dan enam juta lainnya sudah melarikan diri ke luar negeri,” kata Filippo dalam pernyataan dikutip dari ABC.

Laporan tahunan UNHCR menyebut terjadi peningkatan jutaan orang yang harus meninggalkan rumah mereka karena invasi Rusia ke Ukraina dan konflik di negeri seperti Myanmar, Burkina Faso dan Afghanistan.

“Ini berarti satu dari 78 orang di bumi ini dipaksa melarikan diri, peningkatan dramatis di mana tidak banyak orang yang memperkirakan hal itu akan terjadi 10 tahun lalu,” Sebutnya.

Jumlah ini setara dengan satu persen dari jumlah penduduk dunia, dan bila semua orang itu berada di satu negara, berarti mereka berada di negara dengan penduduk ke-14 terbanyak di dunia.

“Setiap tahun dalam 10 tahun terakhir jumlahnya terus meningkat,” kata Filippo

Dari jutaan pengungsi di seluruh dunia tersebut, menurut PBB, sebagian besar adalah anak-anak.

Selama 2021, hampir 1,4 juta orang dilaporkan menjadi warga baru yang mengungsi dari rumah mereka di kawasan Asia dan Pasifik, dan hampir semuanya berasal dari Afghanistan dan Myanmar,

Kembali berkuasanya Taliban di Afghanistan menyebabkan 900 ribu orang melarikan diri dari rumah mereka baik yang masih di dalam negeri maupun ke luar negeri, sementara di Myanmar, akibat kudeta bulan Februari 2021, 400 ribu orang pergi meninggalkan rumah mereka.

Pakistan saat ini menampung sekitar 1,5 juta pengungsi, terutama dari Afghanistan.

Bangladesh menampung 918.900 pengungsi, sebagian besar adalah pengungsi Rohingya yang melarikan diri karena persekusi di Myanmar.

Australia menerima 13.171 orang pengungsi dalam program kemanusiaan untuk tahun 2019-2020, sebenarnya target penerimaan 18.750 orang, namun dikurangi karena pandemi COVID-19.’

Pemerintahan PM Scott Morrison bulan Maret lalu mengumumkan tambahan 16.500 orang pengungsi selama empat tahun ke depan bagi mereka yang berasal dari Afghanistan.

Menjelang pemilu bulan Mei lalu Partai Buruh yang sekarang menjadi pemerintahan baru akan meningkatkan penerimaan pengungsi menjadi 27 ribu orang per tahun selain juga mengembangkan program pengungsi yang disponsori komunitas sebanyak 5 ribu orang per tahun.

Pengungsi di Indonesia

Awal Juni ini, para pengungsi asal Afghanistan berkumpul di depan Kedubes Australia di Jakarta menyerukan kepada PM Anthony Albanese untuk memukimkan mereka yang saat ini berada di Indonesia.

Indonesia saat ini menampung sekitar 13 ribu orang pengungsi, dengan separuhnya berasal dari Afghanistan dan kebanyakan dari mereka tidak memiliki kemungkinan bisa mendapat tempat hidup permanen di tempat lain.

Mereka menyerukan kepada Australia, Amerika Serikat, Kanada dan Selandia Baru untuk meningkatkan penerimaan pengungsi asal Indonesia dan mempercepat proses penerimaan.

“Kami dengan hormat meminta kepada PM Albanese untuk mendengar suara kami yang sudah tidak didengar selama 10 tahun terakhir,” bunyi pernyataan bersama aktivis pengungsi Hazara.

Menurut kebijakan yang dilakukan pemerintah federal Australia pada tahun 2014, ketika Scott Morrison menjadi Menteri Imigrasi, pengungsi yang terdaftar dengan UNHCR setelah bulan Juni tahun itu dilarang untuk menetap selamanya di Australia.

“Perubahan ini akan mengurangi pergerakan pencari suaka ke Indonesia dan mendorong mereka untuk mencari penempatan di negeri di mana mereka mendarat pertama kali,” kata Morrison ketika itu. (rw/kt5)

Redaktur: Hamzah

 

 

52 / 100

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.