Umbul Sidomulyo, Primadona Baru Desa Wisata di Sleman dengan Sensasi Bak Berenang di Air Minum Kemasan

Pengunjung menikmati sensasi berenang di Umbul Sidomulyo yang kadar pH airnya setara air minum kemasan. Foto: Ja'faruddin AS

SLEMAN- Berwisata ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tak lengkap jika belum menikmati keindahan pesona alam pedesaan di Kabupaten Sleman yang menjadi gudangnya Desa Wisata. Salah satu rintisan desa wisata yang kini tengah menjadi primadona adalah Umbul Sidomulyo.

Nuansa destinasi wisata yang terletak di Dusun Brintikan, Tirtomartani, Kalasan ini berbeda dengan kebanyakan wisata air atau kolam renang. Pengunjung bakal merasakan sensasi berenang dengan air murni yang berkadar pH setara air minum konsumsi kemasan.

Pengelola Umbul Sidomulyo, Budi Karyono mengatakan, sumber air alami di tepi Kali (Sungai) Opak ini bahkan bisa untuk langsung diminum, tanpa dimasak terlebih dahulu.

“Tingkat pH air Umbul Sidomulyo yang aman dan berkualitas untuk dikonsumsi  sudah diuji di laboratorium UGM (Universitas Gadjah Mada),” ungkapnya, Minggu (18/09/2022).

Budi menjelaskan, air di kolam renang dan pemandian diambil langsung dari sumber  air yang berjarak 80 meter. Air disedot dengan ketinggian 4 meter menggunakan teknologi yang memanfaatkan angin, tanpa listrik maupun mesin penyedot air. Pipa yang digunakan juga tidak dari logam, melainkan pipa pvc sehingga tidak tercemari karat.

Meski letak pusat sumber air berada persis di tepi Kali Opak, namun air yang dialirkan ke kolam renang tidak bercampur dengan air sungai.

“Banyak desa wisata air, biasanya memanfaatkan air sungai langsung. Meski disaring namun tatap saja pH tidak bagus. Kalau di Umbul Sidomulyo ini berbeda. Mungkin ini satu-satunya di Sleman, bahkan mungkin di DIY pemandian dengan sumber air murni dengan pH yang bagus,” ujarnya.

Selain pH airnya yang bagus, tanpa ada campuran zat kimia penjernih, sirkulasinya juga tak berhenti. Air terus mengalir dari sumber ke kolam renang, lalu dibuang ke sungai.

“Jadi berenang di Umbul Sidomulyo ini rasanya pasti berbeda, berasa berenang di air minum kemasan. Bahkan tak sedikit orang berkunjung untuk terapi membantu menyembuhkan penyakit seperti saraf kejepit dan lainnya. Biasanya pengunjung yang terapi datangnya pagi sekali, belum ada orang berenang, jadi airnya benar-benar bersih,” imbuhnya.

Selain itu, lokasi di areal lahan seluas 4000 meter yang berstatus wedi kengser atau tanah Kraton Yogyakarta ini, juga masih sangat alami.

Budi mengisahkan, dahulunya lahan yang kini disulap jadi Umbul Sidomulyo adalah lahan tak produktif, bahkan layaknya hutan tak terjamah. Oleh karenanya meski ada sumber mata air murni, masyarakat tidak berani memanfaatkannya, termasuk untuk mengonsumsinya. Wal hasil, air langsung terbuang sia-sia ke ksungai.

“Jadi awalnya memang saya tercetus ide untuk memanfaatkan sumber mata air yang tidak dimanfaatkan dan lahan yang tidak produktif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karenanya saya mengajak masyarakat untuk merintis membangun desa wisata ini. Saya buatkan master plan atau blue print, lalu saya presentasikan kepada warga. Alhamdulillah disetujui dan didukung,” kenangnya.

Proses pembangunan, Umbul Sidomulyo cukup lama, selama 6 bulan sepanjang 2019 untuk bisa menaikkan air. Budi bersama warga Brintikan setiap minggu sukarela bekerja bakti membuka akses jalan dan membangun infrastruktur.

“Awalnya memang modal dari saya pribadi, bukan dari bantuan pihak lain. Jadi Umbul Sidomulyo ini benar-benar swadaya masyarakat dan dikeloa bersama-sama. Dan yang tak kalah penting adalah bahwa kami benar-benar menjaga kelestarian alam. Semua bangunan di sini tidak ada yang mengambil dari sungai sekitar, tapi dari luar semua,” kata Budi yang seorang pengusaha di bidang kesehatan, transportasi dan property ini.

Secara resmi, Umbul Sidomulyo baru beroperasi sejak 2020 akhir. Wisata yang merakyat ini dibuka setiap hari dari Pukul 07.00 hingga 17.00. WIB. Namun pada Selasa dan Jumat diliburkan. Dua hari tersebut dilakukan gotong royong bersama warga untuk pengurasan kolam dan perawatan rutin instalasi saluran demi menjaga kualitas dan kebersihan air.

Meski tergolong baru, namun antusiasme pengunjung atau wisatawan cukup tinggi, bahkan banyak yang datang dari luar DIY, terutama saat akhir pekan dan musim libur sekolah. Omzet yang dihasilkan pengelola rata-rata mencapai Rp 30 Juta per bulan.

Selain akses mudah, hanya berjarak sekira 500 meter dari Candi Kalasan, berwisata di Umbul Sidomulyo juga sangat murah.  Pengunjung cukup merogoh kocek sebesar Rp 5 ribu untuk tiket masuk per orang.

Tak hanya merasakan sensasi bak berenang di air mineral kemasan, di Umbul Sidomulyo juga menyediakan berbagai fasilitas. Diantaranya, gazebo, taman bermain anak, spot foto yang instagramable, serta aneka kuliner khas Kalasan. Pengelola saat ini juga secara bertahap masih terus melengkapi fasilitas berupa wahana dan edukasi, serta spot-spot menarik untuk berswafoto pengunjung.

Selain aneka fasilitas, faktor keamanan pengunjung juga diperhatikan. Terdapat dua kolam utama yang kedalamannya disesuaikan untuk anak-anak dan dewasa. Pengelola juga menyiagakan petugas penyelamat untuk mengantisipasi adanya kecelakaan yang dialami pengunjung saat berenang.

“Jadi selain punya ciri khas, fasilitas memadai, kami juga mengutamakan keselamatan pengunjung. Harapannya ke depan  Umbul Sidomulyo semakin diminati wisatawan sehingga bisa meningkatkan perekonomian warga Brintikan khususnya.

Harapannya Umbul Sidomulyo juga menjadi pionir desa wisata yang memanfaatkan sekaligus melestarikan sumber mata air murni, serta menjaga ekosistem alam,” harapnya.

Salah satu pengunjung, Setyawati (35), Warga Kalasan mengaku sering berkunjung ke Umbul Sidomulyo.

“Anak-anak suka berenang dan main air. Kami sudah banyak berkunjung ke tempat wisata air, tapi di Umbul Sidomulyo ini benar-benar beda. Airnya sungguh jernih, bersih. Suasananya sangat alami dan fasilitasnya juga layak untuk dijadikan tempat wisata keluarga,” Kesan Ibu dua anak ini. (rd1)

Redaktur: Ja’faruddin AS

63 / 100

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.