SLEMAN – SMP Negeri 2 Kalasan terus memperkuat pendidikan karakter siswa melalui kegiatan pembinaan keimanan yang melibatkan orang tua dan peserta didik lintas agama. Kegiatan tersebut digelar pada Sabtu (10/1/2025) sebagai bagian dari upaya membangun lingkungan sekolah yang religius, inklusif, dan berkarakter.
Bagi warga sekolah beragama Islam, pembinaan keagamaan diisi dengan pengajian di Masjid Al Huda SMP Negeri 2 Kalasan. Sementara itu, siswa, guru, dan orang tua Kristiani mengikuti Perayaan Natal bersama yang dilaksanakan di ruang terpisah di lingkungan sekolah.
Pengajian menghadirkan penceramah nasional, Prof. Dr. Ir. Sukamta, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., Guru Besar Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Dalam tausiyahnya, Prof. Sukamta mengulas makna mendalam peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW sebagai sumber kekuatan spiritual dan pembentukan karakter.
Kepala SMP Negeri 2 Kalasan, Hadi Suparmo, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan pembinaan keimanan ini merupakan program rutin yang diinisiasi oleh Paguyuban Orang Tua (POT) dan diselenggarakan secara bergilir oleh POT kelas VII, VIII, dan IX.
“Untuk kegiatan kali ini diselenggarakan oleh POT Kelas VII. Program ini sejalan dengan implementasi 8 Dimensi Profil Lulusan, khususnya penguatan dimensi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa,” ujar Hadi.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak hanya memperkuat sisi spiritual peserta didik, tetapi juga membentuk karakter yang utuh dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami berharap anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berbakti kepada orang tua, mandiri, bernalar kritis, mampu bekerja sama, serta memiliki kemampuan membedakan mana yang baik dan buruk,” tambahnya.
Dalam ceramahnya, Prof. Sukamta menjelaskan bahwa Isra Mi’raj merupakan bentuk penghiburan Allah SWT kepada Rasulullah SAW di masa sulit yang dikenal sebagai Tahun Kesedihan. Ia mengingatkan tentang tiga ujian berat yang dialami Nabi Muhammad SAW, yakni wafatnya Abu Thalib, wafatnya Khadijah, serta penolakan dan perlakuan keras yang diterima Nabi saat berdakwah di Thaif.
“Dari peristiwa Isra Mi’raj, kita belajar tentang kesabaran. Kunci kesuksesan hidup adalah sabar, doa, dan usaha. Bersedih itu manusiawi, tetapi jangan sampai kehilangan harapan kepada Allah,” tutur Prof. Sukamta.
Ia menegaskan bahwa kebenaran pada akhirnya akan mengalahkan kejahatan.
“Boleh jadi kejahatan tampak menang di awal, tetapi pada akhirnya kebenaranlah yang akan berjaya,” katanya.
Lebih lanjut, Prof. Sukamta menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi pendidikan anak, terutama dalam membimbing ibadah serta membangun disiplin di tengah tantangan era digital. Ia mengingatkan agar orang tua membiasakan anak menjalankan shalat lima waktu serta lebih bijak dalam mengawasi penggunaan telepon genggam.
“Pelajaran paling penting dari Isra Mi’raj adalah shalat. Shalat adalah hadiah terbesar dari Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Bukan harta, kesehatan atau kekuasaan dunia, melainkan shalat, karena itulah jalan pulang menuju Allah,” ujarnya.
Menurutnya, menjaga shalat menjadi salah satu kunci kesuksesan hidup.
“Orang-orang yang sukses umumnya adalah mereka yang menjaga shalatnya. Siapa yang memperhatikan Allah, maka Allah akan memperhatikan hidupnya,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, SMP Negeri 2 Kalasan berharap dapat mempererat sinergi antara sekolah, orang tua, dan siswa dalam membentuk generasi muda yang berkarakter, berakhlak mulia, serta beriman dan bertakwa.(pr/kt1)
Redaktur: Fefin














