SLEMAN – Alumni Bimbingan Haji Aisyiyah Tahun 2022 atau ALBHA 2022 Kabupaten Sleman kembali menggelar pengajian rutin putaran ke-13 pada awal tahun 2026, Minggu (18/1). Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi para alumni haji yang dikenal sebagai “Haji Covid” untuk terus mempererat silaturahmi sekaligus menjaga kemabruran ibadah haji yang telah dijalani.
Memasuki tahun keempat pasca kepulangan dari Tanah Suci, pengajian rutin tetap menjadi program utama pengurus ALBHA 2022. Kegiatan ini diikhtiarkan sebagai ruang kebersamaan untuk menambah ilmu, memperkuat ukhuwah, serta menjaga nilai-nilai kemabruran haji secara berjamaah.
Pengajian kali ini menghadirkan penceramah yang cukup dikenal di Yogyakarta, K.H. Imam Syafii, S.Pd.I., M.M. dari Kotagede. Dengan mengusung tema “Hikmah Isra’ Mi’raj untuk Menjaga Kemabruran”, acara berlangsung khidmat di Joglo Jamal, Jalan Magelang, Yogyakarta, dengan kepanitiaan dari Regu 2 ALBHA 2022.
Ketua Pengurus ALBHA 2022, H. Suwandi, bersama Sekretaris H. Mochlasin, menyampaikan harapannya agar kegiatan pengajian rutin ini dapat terus berjalan secara langgeng dan istikamah. Mereka berharap silaturahmi antarsesama alumni tetap terjaga, seluruh jamaah diberikan kesehatan yang afiyah serta rezeki yang barakah, sehingga dapat menjalani masa tua dengan penuh kebahagiaan hingga akhir hayat.
Dalam tausiyahnya, K.H. Imam Syafii menegaskan bahwa tanda haji mabrur tercermin dalam perilaku sehari-hari. Di antaranya adalah menjaga ucapan yang baik (thib al-kalam), gemar berbagi dan bersedekah (ith‘am ath-tha‘am), serta menebarkan kedamaian (ifsya’ as-salam) di tengah masyarakat.
Ia juga mengaitkan hikmah peristiwa Isra’ Mi’raj dengan pentingnya menjaga shalat. Menurutnya, shalat bukan hanya sebatas kewajiban fardhu, tetapi perlu dilengkapi dengan shalat sunah sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menjaga kualitas keimanan.
Lebih lanjut, Kiai Syafii mengingatkan bahwa untuk menjadi pribadi terbaik dalam kehidupan, seseorang harus memenuhi dua syarat utama, yakni sehat secara jasmani dan waras secara rohani. Menjadi yang terbaik, kata dia, menuntut konsistensi untuk terus berbuat baik tanpa lelah.
“The best adalah milik mereka yang mampu menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat,” ujarnya.
Menurutnya, haji mabrur adalah cerminan akhlak mulia, kesadaran spiritual yang tinggi, serta sikap hidup yang senantiasa mengingat kematian sebagai pengingat untuk terus memperbaiki diri. (pr/kt1)
Redaktur: Faisal














