Selasa, 26/11/2013 22:25 WIB | Dibaca: 2380 kali

Anak Aktif Bukan Berarti Nakal


anak aktif dan pintar- doc. jncom

BANYAK orang beranggapan bahwa anak yang baik adalah anak yang pendiam, tidak berlarian ke sana ke mari dan memberantakkan barang-barang di rumah. Pendapat ini tidak sepenuhnya benar, tapi juga tidak sepenuhnya salah. Tergantung situasi dan kondisi.

Misalnya, jika dalam suatu pertemuan keluarga, atau ada tamu yang berkunjung ke rumah, atau ketika sedang ibadah, maka anak yang sopan, pendiam, tidak berlarian ke sana ke mari, adalah anak yang baik. Berarti dia sudah paham bagaimana bersikap dalam situasi dan keadaan tertentu. Namun sebaliknya, jika waktunya bermain, sang anak malah diam saja dan tidak merespons terhadap sikap riang , berarti anak yang demikian tidak mengalami perkembangan jiwa yang sehat. Sebab, bermain dan keriangan adalah hal penting dalam dunia anak-anak.

Apabila anak-anak tampak senantiasa aktif, berlarian ke sana ke mari , bahkan ia tidak bisa membedakan situasi tertentu, bukan berarti harus dilarang dan tidak boleh melakukan hal demikian, tapi juga bukan berarti harus dibiarkan begitu saja.
Hal terpenting bagi orang tua adalah memberikan pemahaman bagaimana bermain yang baik. Tata aturan yang bermain itu harus terus disampaikan jika anak mulai melupakannya. Misalnya, bermain pada tempat yang seharusnya, dan membereskan kembali mainannya setelah selesai.

Namun kalau dengan cara tersebut masih belum ada perubahan, bukan berarti anak tersebut adlah anak nakal. Bisa jadi justeru malah cerdas dan kreatif. Lalu bagaimana mengatasinya?. Anak-anak yang pada dasarnya suka bermain, sebaiknya disediakan tempat atau ruang bermain khusus. Hal ini penting karena bermain bisa membuat anak sehat, tak hanya bagi jiwanya, tapi juga raganya.

Anak-anak yang aktif dan tidak mau diam bisa jadi juga karena belum tahu tata cara bermain yang baik. Oleh karenanya, meskipun telah menyediakan ruang bermain khusus, orang tua hendaknya tetap menyampaikan dengan sabar tata cara bermain yang baik, sehingga anak tetap bisa bermain sekaligus memahami tentang tempat, waktu, situasi, maupun kondisi. (fin)

Redaktur: Rudi F

 


 





Baca Juga