Kabut Asap Palangkaraya Parah, Usai Ikuti ASEAN Unity Anggota PB HMI 'Terlantar' di Bandara


Foto: doc/istimewa

PALANGKARAYA – Akibat kabut asap yang terjadi di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, puluhan anggota Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB-HMI) yang baru saja mengikuti acara ASEAN Unity, terlunta-lunta di Bandara Udara Tjilik Riwut Palangkaraya.

Menurut salah satu pengurus PB HMI, Aristianto Zamzami, sedianya para Anggota PB HMI bergabung dalam penerbangan Lion Air JT 867 yang bertolak dari bandara pada pukul 14.00. Namun hingga pukul 20.00 lebih, belum ada kepastian terbang.

“Pihak maskapai (Lion Air), bahkan menginformasikan bahwa pesawat masih berada di Jakarta,” ungkapnya dalam pesan singkat yang diterima jogjakartanews.com, Selasa (14/10/2014) malam.

Dikatakan fungsionaris PB HMI Departemen Kewirausahaan ini, akibat keterlambatan jadwal tersebut, sekitar 45 anggota PB HMI yang hendak kembali ke Jakarta, terlunta-lunta di bandara.

Pihak Maskapai sendiri dinilainya lambat memberikan layanan kompensasi keterlambatan penerbangan dengan baru memberikan makanan pada pukul 18.30. 

“Seharusnya baik pemerintah pusat maupun daerah lebih serius untuk segera mengatasi kabut asap ini. Hal ini juga seharusnya menjadi perhatian pemerintah agar meningkatkan sistem pengawasan dan regulasi untuk mengantisipasi kasus pembakaran hutan, hingga tidak menimbulkan kerugian,” tukasnya.

 Lebih lanjut dikatakan aktivis yang akrab disapa Zami ini, kasus kebakaran hutan selalu berulang karena lemahnya sistem kontrol dan regulasi baik dari pemerintah daerah maupun pusat.

Hal senada diungkapkan salah satu pengurus PB HMI Bidang Otonomi Daerah (OTDA) Yasti Yustia. Menurutnya pemerintah lambat menangani kabut asap yang ditimbulkan oleh pembakaran hutan.

 “Seharusnya permasalahan ini tidak dibiarkan berlarut karena akan berimbas ke banyak hal, termasuk pada dunia usaha di Kalimantan Tengah ini,” pungkasnya. 

Sekadar informasi, menurut pantauan pihak Bandara Tjilik Riwut, Jarak pandang (visibility) pagi hari dilandasan pacu hanya mencapai 250-300 meter terutama pagi hari. Kondisi ini sangat mengganggu penerbangan pagi hari. Bahkan sejak beberapa minggu ini pesawat tidak berani mendarat pagi hari.

Selama ini, pesawat yang bermalam di bandara hanyalah pesawat perintis yang melayani rute dalam Kalteng dan pesawat Lion Air yang melayani penerbangan Palangkaraya-Jakarta dan Surabaya.

Kabut asap tebal membuat pesawat tidak bisa beroperasi dan terlihat hanya parkir di apron bandara.

Berdasarkan pemantauan prakirawan, Badan Meteorologi Klimatoogi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Tjilik Riwut Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Bayu Umbaran, pesawat Lion Air masih berani landing bila jarak pandang satu kilometer, sedangkan Garuda bila jarak pandang 1,5 kilometer. (lia/kontributor)

Redaktur: Rudi F

Berita Terkait

 





Baca Juga