Senin, 20/10/2014 11:23 WIB | Dibaca: 1404 kali

Pilpres Telah Menyatukan Rakyat Hadapi Pasar Bebas ASEAN


doc/istimewa

JAKARTA - Adanya kekhawatiran bahwa hiruk pikuk politik dalam negeri akan mengganggu persiapan Indonesia menghadapi pasar bebas ASEAN adalah wajar. Apalagi selama ini hal itu menjadi pusat pemberitaan, sehingga mengalihkan fokus pemerintahan baru. Namun hal ini perlahan berkurang seiiring perkembangan terbaru yakni pertemuan hangat Prabowo dan Jokowi.

Optimisme itu mengemuka dalam Seminar Nasional "Agro Industri & UKM Sebagai Pertahanan Diri Menghadapi AEC 2015" yang diadakan Himpunan Mahasiswa Teknologi Industri, Fak Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) di Aula Andi Hakim Nasution, IPB pada Minggu (19/20/2014) yang dihadiri 203 peserta.

Dalam rilis panitia yang diterima jogjakartanews.com, Senin (20/10/2014), Hariqo Wibawa Satria dari Komunitas Peduli ASEAN (@ASEANcom2015) mengatakan isu Pasar Bebas ASEAN justru mulai makin dikenal saat  isu ini diangkat dalam debat calon Presiden 2014, sedang pada debat capres 2009 tidak disinggung.

“Prabowo dan Jokowi sempat membelah kita, kini NKRI menyatukannya kembali, bersatu kita kuat dan hebat,” ungkap pria yang fokus pada kajian sosial media dan diplomasi di lembaga Magnitude ini.

Hariqo juga menjelaskan bahwa kita harus melakukan total diplomasi, artinya setiap orang dengan akun sosmednya (Sosial Media) mempromokan produk-produk UKM, sebab hari ini semua orang sudah jadi kantor berita, para Duta Besar juga harus aktif mengabarkan peluang pasar diluar negeri.

Mengenai banyak tidak dikenalnya produk UKM, Hariqo mengingatkan sudah ada Permendag No 70 tahun 2013, yang dalam pasal 22 mengatakan Pusat perbelanjaan dan toko modern wajib menyediakan barang dagangan produksi dalam negeri paling sedikit 80 persen dari jumlah dan jenis barang yang diperdagangkan. Namun sayang baru saja Permendag ini direvisi oleh Permendag 56/M-DAG/2014.

“Kalau kata Pak M. Lutfi, revisi ini tidak mengurangi kewajiban yang 80 persen, dan peraturan ini untuk mendahulukan produksi dalam negeri, semoga itu benar,” jelas Hariqo.

Pembicara lain, Dr. Ir. H. Meika Syahbana Rusli (Dosen TIN IPB dan Dirut PT BLST) mengatakan dalam menyambut MEA 2015 kita harus merebut pasar-pasar strategis di Indonesia dan pasar otensial di luar negeri harus kita kuasai.

Meika juga menyebut lima bisnis yang paling potensial diantaranya Pangan, energi, kesehatan, pendidikan, hiburan.

“Namun semua itu tidak bisa dilakukan jika mahasiswa dan pemuda tidak punya kompetensi,” tegasnya
Sementara itu Maulana Rausyan Fikri sebagai ketua panitia mengaku puas karena target peserta tercapai dan mereka juga terlihat antusias.

“ini kerja keras semua panitia, dan ini bukan yang terakhir, IPB akan terus bergerak,”, ungkapnya. (pr)

Redaktur: Wahyu


 





Baca Juga