KPK VS POLRI Jilid II Dibuka, Rupiah Menguat, Pengamat Cium Intervensi Asing


ilustrasi/jogjakartanews.com

JAKARTA - Ditangkapnya wakil ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Bambang Widjanarko oleh Bareskrim Polri Jumat (23/01/2015) memunculkan spekulasi 'balas dendam' Kepolisian atas penetapan calon Kapolri, Budi Gunawan sebagai tersangka ‘Rekening Gendut’ oleh KPK.

Perseteruan dua lembaga penegak hukum tersebut menjadi tranding topic di media sosial dengan #SaveKPK dan Headline media massa. Wacana upaya kriminalisasi KPK tersebut diperkuat adanya isu Ketua KPK Abraham Samad yang melakukan pertemuan dengan PDIP jelang Pilpres 2014 silam untuk pencalonan dirinya sebagai Wapres Jokowi, sehingga memunculkan isu penyalah gunaan wewenang.

Namun di sisi lain peristiwa tersebut justeru berdampak positif terhadap bursa saham di Bursa Efek Iindonesia (BEI). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, (23/01/2015) ditutup menguat 70,702 poin (1,35%) ke posisi 5.323,885.

Sepanjang perdagangan, indeks mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah Bursa Efek Indonesia (BEI) di level 5.325,0,39 atau menguat 71,856 poin dan mencapai level terlemahnya 5.281,183 atau menguat 28 poin.

Terkait hal tersebut pengamat dari lembaga riset ekonomi politik Karya Bagi Negeri, Aristianto Zamzami mengungkapkan spekulasi berbeda. Aktivis yang akrab disapa Zami ini menengarai ada intervensi asing dalam kemelut politik Polri, KPK, dan PDIP  untuk menguasai perekonomian Indonesia. Terlebih, saat ini mulai diberlakukan liberalisasi ekonomi di kawasan ASEAN atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

“Isu KPK V (versus) Polri dan PDIP ini beda dengan isu politik lainnya misalnya dualism DPR dan Kenaikan harga BBM yang menuai respon negatif pasar. Sebab isu kali ini tidak begitu mengancam posisi pemerintah,” ungkap Zami yang Fungsionaris Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) Departemen Kewirausahaan, saat dihubungi jogjakartanews.com melalui telepon, Jumat (23/01/2014).

Dijelaskan Zami, saat ini, rakyat Indonesia masih dibebani dengan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok, tarif listrik dan lpg juga masih tinggi, meski harga BBM sudah diturunkan pemerintah sejak Senin (19/01/2015) lalu.

“Sesungguhnya rakyat masih menuntut penurunan harga-harga. Di sisi lain, dengan komoditas dalam negeri yang harganya meroket, komoditas impor menjadi semakin menguasai pasar, terlebih saat ini di era liberalisasi produk impor semakin bebas masuk. Yang diuntungkan kan asing juga,” ujar pegusaha muda ini.

Sementara menguatnya Rupiah dan IHSG juga menguntungkan perusahaan-perusahaan asing atau yang berafiliasi dengan Asing. Sebab, kata dia, perusahaan-perusahaan tersebut yang menguasai saham BEI.

“Memang akan terlihat ekonomi menguat, padahal yang bertumbuh adalah kalangan atas, sementara kalangan bawah masih mengalami dampak karena naiknya harga-harga kebutuhan pokok, sementara penghasilan tidak meningkat,”  tukasnya.

Sementara menurut pengamat ekonomi dari Indonesian Global Justice (IGJ) Salamudin Daeng, menguatnya rupiah dan IHSG di tengah kemelut politik yang terjadi adalah sebuah anomali.

“Ekonomi kita ini anomali, semakin kacau kondisi politik dalam negeri,  semakin banyak orang tukar dolar dan rupiah," kata Salamudin Daeng dalam pesan singkatnya di sebuah group WhatsApp .

Kenapa IHSG justru menguat dalam kondisi kacau begini? Menurut dia, saat terjadi kemelut politik perusahaan-perusahaan, terutama perusahaan asing yang berinvestasi di Indonesia  justru memiliki kesempatan untuk mengambil keuntungan untuk menguasai kekayaan negara, terutama kekayaan alamnya. (ded/lia)

Rudi F


 





Baca Juga