Selasa, 31/03/2015 21:34 WIB | Dibaca: 819 kali

BBM Naik Turun, Pedagang Bensin Ecer Merasa Dirugikan


doc.

YOGYAKARTA – Kebijakan pemerintah presiden Joko Widodo yang menaik turunkan harga BBM khususnya premium mulai banyak dikeluhkan oleh pedagang bensin di tingkat eceran. Sebabnya, kebijakan tersebut terkesan mengabaikan pedagang bensin eceran. Hal itu sebagaimana disampaikan oleh Sunarto, pedagang bensin eceran di Jalan Timoho, Yogyakarta, Selasa (31/03/2015).

“Bensin premium itu kan kemaren 7.600,  turun jadi 6.600, terus naik jadi 6.900, sekarang naik lagi jadi 7.400 perliter, bagi pedagang eceran seperti saya kan susah menentukan harga. Kayak kemaren misalnya 6600, coba mau dijual 7.000 kami rugi 100 perak karena sebelumnya masa pak SBY kami selalu ambil untung 500, mau dijual 7100 biar keuntungannya sama lah repot kembaliannya gimana, uang receh gitu kan susah mas. Sementara kalau dijual 7500 para pembeli pada ngeluh karena mahal, mending ngisi di pom lah, ini kan repot, kami jelas dirugikan,” kata Sunarto kepada jogjakartanews.com

“Sekarang harga bensin premium naik lagi jadi 7.400, dijual 8.000 keuntungan kami 600, memang lebih untung dari masa pak SBY, tapi kan kita sudah terbiasa ngambil untung diatas 500 sejak era Jokowi, akhirnya saya pun sekarang terpaksa menjual bensin ecer dengan harga 7500. Intinya hitung-hitungan kami berantakan, gak seperti dulu jaman pak SBY yang selalu stabil ngambil untung 500,” keluhnya.

Menurut Sunarto, jika presiden Jokowi terus menerapkan sistem naik turun BBM dengan harga yang tidak pas 500 atau 1000 pedagang ecer seperti dirinya akan terus dirugikan dan makin kalah bersaing dengan pom bensin pertamina yang sekarang sudah berada dimana-mana. “Sekarang setiap satu kilometer juga udah ada pom, jadi ngapain ke bensin eceran kan. Ya harapan saya jangan begitu lah, di pasin aja, syukur gak usah naik turun, karena kalau naik semua barang pada naik, kebutuhan poko juga naik,” harapnya (Ning)

Redaktur: Aristanto Z


 





Baca Juga