Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional Lafran Pane Disambut Syukur Kader dan Alumni HMI DIY


Kahmi MW DIY saat audiensi dengan Wali Kota Yogyakarta terkait pengusulan Gelar Pahlawan Nasional Lafran Pane. Foto: ist/kahmi

YOGYAKARTA – Pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Alm. Prof.  Drs. H. Lafran Pane, yang merupakan tokoh dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dikabarkan akan mendapat gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah.  Penghargaan tersebut direncanakan akan diberikan oleh Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo kepada ahli waris dalam Upacara Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional Tahun 2017, Kamis (09/11/2017) mendatang  di Istana Negara.

Kabar tersebut disambut rasa syukur kader HMI dan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) di seluruh Indonesia, termasuk di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Ketua Presidium Majelis Wilayah (MW) KAHMI DIY, Dr. Khamim Zarkasih Putro, mengatakan  terkait kepastian penganugerahan gelar Pahlawan Nasional Prof.  Drs. H. Lafran Pane, ia dapatkan dari Putranya, Iqbal Pane yang akan menerima penghargaan sebagai ahli waris.

"Putra Alm. Prof. Lafran Pane, saudara Iqbal Pane mengabarkan bahwa ia sudah mendapat kabar penganugerahan gelar pahlawan kepada ayahandanya dari pihak istana. Kabarnya, Presiden Jokowi sudah menandatanganinya," Kata Khamim, Senin (06/11/2017)

Menurut Khamim, bagi kader HMI dan warga KAHMI selama ini Prof. Lafran Pane sudah dianggap sebagai pahlawan. Menurutnya Gelar Pahlawan Nasional bagi Prof. Lafran Pane memang selayaknya diberikan oleh pemerintah, mengingat jasa-jasanya terhadap bangsa dan Negara Indonesia begitu besar,

“HMI, organisasi yang beliau Prof.  Drs. H. Lafran Pane dirikan telah memberikan sumbangsih nyata bagi pembangunan bangsa dan Negara Indonesia. HMI yang didirikan pada 5 Februari 1947 di Sekolah Tinggi Islam (STI) Yogyakarta yang kini bernama Universitas Islam Indonesia (UII), bertujuan untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Tak terhitung tokoh bangsa dari HMI sejak berdirinya hingga saat ini,” kata Khamim yang Dosen pengajar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

Dikatakan Khamim, MW KAHMI DIY sudah lama mendorong dan mengusulkan agar pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Lafran Pane, dimulai dari prosedur pengumpulan data yang kemudian diserahkan ke Wali Kota Yogyakarta untuk disahkan dan diteruskan ke provinsi serta pemerintah pusat. Oleh karena itu, kata Khamim, KAHMI MW DIY berterima kasih karena pemerintah akhirnya menyetujui penganugrahan gelar pahlawan nasional kepada Lafran Pane,

“Kami dari KAHMI MW DIY Januari yang lalu mendampingi saudara Lukman Hakim, mantan ketua umum HMI cabang Yogyakarta  yang menjadi penanggungjawab Seminar Lafran Pane untuk Pahlawan Nasional di seluruh Indonesia. Kami mengapresiasi dan berterimakasih kepada pemerintah yang akhirnya bersedia memberikan penghargaan selayaknya kepada Prof.  Drs. H. Lafran Pane sebagai Pahlawan Nasional. Bagi kami Kader dan Alumni HMI, Lafran Pane  adalah ayah kami,” imbuh Khamim yang ketua Alumni Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini.

Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini menilai penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada Lafran Pane memiliki makna penting, bukan hanya bagi HMI yang merupakan organisasi mahasiswa Islam tertua dan terbesar di Indonesia, namun juga terhadap generasi bangsa Indonesia seluruhnya. Sebab, kata Khamim, Lafran Pane bisa dikatakan sebagai pencetus gerakan intelektual sehingga menumbuhkan semangat nasionalisme dan religiusitas mahasiswa dengan bingkai Keislaman dan Keindonesiaan.

“Mudah-mudahan dengan penganugerahan gelar pahlawan kepada Ayahanda Lafran pane, generasi bangsa ini bisa meneladani perjuangan beliau yang  tulus agar terwujud Indonesia yang Adil Makmur dan diridhai Allah SWT,” imbuh Khamim.

Ditambahkan Khamim, selain keluarga besar HMI dan KAHMI, warga Yogyakarta juga turut bangga atas penganugerahan gelar pahlawan kepada  Lafran Pane. Sebab, kata dia, Yogyakarta adalah tempat  dimana Lafran Pane berkiprah hingga akhir hayatnya. Oleh karenanya, kata dia, terkait dengan akan digelarnya Musyawarah Nasional (Munas) KAHMI ke X di Medan mendatang, MW KAHMI DIY akan mengusulkan agar Munas KAHMI lima tahun mendatang diselenggarakan di Yogyakarta,

“Dalam munas KAHMI di Medan nanti kami akan mengusulkan agar penyelenggaraan MUNAAS KAHMI ke XI tahun 2022 mendatang diadakan di Yogyakarta. KAHMI kembali ke Yogyakarta. Ini agar kita menghayati kembali untuk apa HMI didirikan oleh Ayahanda Lafran Pane di Yogyakarta,” pungkas Khamim Zarkasih Putro.

Sekadar Informasi,  Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional tahun 2017 selain diberikan kepada Prof.  Drs. H. Lafran Pane yang merupakan tokoh dari DIY juga akan diberikan kepada Alm.TGKH Muhammad Zaenuddin Abdul Madjid (tokoh dari Provinsi Nusa Tenggara Barat), Almh. Laksamana Malahayati (Tokoh dari Provinsi Aceh) dan Alm. Sultan Mahmud  Riayat Syah (Tokoh dari Kepulauan Riau).

Untuk diketahui Lafran Pane lahir di Padang Sidempuan, 5 Februari 1922. Lafran Pane adalah anak keenam keluarga Sutan Pangurabaan Pane dari istrinya yang pertama, Lafran adalah bungsu dari enam bersaudara. Keluarga Lafran Pane merupakan keluarga sastrawan dan seniman yang kebanyakan menulis novel, seperti kedua kakak kandungnya yaitu Sanusi Pane dan Armijn Pane yang juga merupakan sastrawan dan seniman.

Lafran Pane dikenal sebagai salah satu pendiri HMI pada tanggal 5 Februari 1947. Perihal perannya dalam HMI, Kongres XI HMI tahun 1974 di Bogor menetapkan Lafran Pane sebagai pemrakarsa berdirinya HMI dan disebut sebagai pendiri HMI.  Selain dirinya, ada beberapa nama lain yang turut andil dalam pendirian HMI, karena itu Lafran Pane sendiri menolak untuk dikatakan sebagai satu-satunya pendiri HMI.  (rd)

Redaktur: Ja’faruddin. AS

 


 





Baca Juga