Kamis, 29/03/2018 21:38 WIB | Dibaca: 412 kali

TNI Manunggal Membangun Desa Merubah Konflik Menjadi Harmoni


Tak kalah dengan tukang, pekerjaan anggota Satgas TMMD Kodim Yogyakarta saat merenovasi rumah tak layak huni milik warga, hasilnya nampak rapi. Foto: ist

YOGYAKARTA – Yogyakarta memiliki segudang predikat, salah satunya disebut sebagai miniaturnya Indonesia. Sebab, banyak pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia menuntut ilmu di Yogyakarta. Kendati demikian, kondisi masyarakat kota Yogyakarta tersebut juga berpotensi menimbulkan konflik sosial, sehingga perlu diantisipasi oleh semua pihak, 

“Dinamika masyarakat di Kota Yogyakarta juga tinggi, sehingga juga perlu ada upaya mengantisipasi potensi konflik dalam masyarakat. Oleh karenanya, semua kalangan harus terus berupaya menjaga suasana yang harmonis dan guyub rukun,” ungkap Komandan Kodim 0734/Yogyakarta Letkol Inf Rudy Firmansyah S.E., M.M, saat meninjau kegiatan Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke 101 Tahun 2018 di Kampung Gambiran, Kelurahan Pandeyan, Kecamatan Umbulharjo, Kamis (29/03/2018).   

Letkol Rudi menuturkan, TMMD yang akan resmi dibuka pada tanggal 4 April hingga 3 Mei 2018, memiliki filosofi menyatukan TNI dan rakyat dalam suasana yang harmonis untuk mewujudkan kesejahteraan lahir batin bagi masyarakat Indonesia.

Dijelaskan Letkol Rudi, TMMD yang merupakan program  kelanjutan dari program ABRI Masuk Desa (AMD) yang dimulai sejak tahun 1980 juga merupakan perwujudan gotong-royong yang merupakan nilai luhur bangsa Indonesia. Satuan Tugas (Satgas) TMMD yang melaksanakan kegiatan, kata dia, diarahkan untuk bersinergi dengan masyarakat dan terus menjaga suasana yang harmonis dan guyub rukun,

“Jangan pernah membangun budaya tanding, tetapi budaya harmoni dan guyub rukun. Konflik wilayah harus dirubah menjadi harmoni kerukunan bagi semuanya,” tandasnya.

Lebih lanjut Letkol Rudi menerangkan, sebelumnya TMMD ini dilaksanakan dua kali setiap tahunnya, namun untuk saat ini dilaksanakan tiga kali dalam satu Tahun. Hal itu, menurutnya sesuai Surat Edaran Mendagri 16 Januari 2017 yang berisi himbauan kepada kepala daerah seluruh Indonesia agar melaksanakan TMMD sebanyak 3 kali,

“Hal itu berarti pemerintah pusat mendorong pemerintah daerah bersama TNI untuk turut melakukan percepatan terwujudnya kesejahteraan masyarakatnya,” imbuh Dandim yang juga sebagai Komandan Satuan Tugas TMMD ke-101 Tahun 2018.

TMMD, kata Letkol Rudi, memang dilaksanakan oleh Kodim 0734/Yogyakarta, namun ada dukungan dari Pemkot dan Pemprov, termasuk memberikan dukungan dana,

“Dari Pusat Mabes (Markas Besar) TNI juga memberikan dana untuk pelaksanaan TMMD Reguler. Jadi ini benar-benar pengabdian TNI untuk rakyat dan didukung pemerintah,” pungkasnya.

Terpisah, Lurah Pandeyan, Sulasmi  S.IP. M.SI menilai kegiatan TMMD merupakan konsep  percepatan pembanguan yang bagus. Sebab, kata dia, program TMMD hanya diperuntukkan untuk rakyat yang tidak mampu. Selain itu, kata dia, juga akan  mempertemukan dan mendekatkan hubungan yang harmonis antara TNI dan rakyat.

“TMMD merupakan perwujudan filosofi gotong-royong masyarakat di Indonesia khususnya di Kota Yogyakarta lebih khusus lagi di Kelurahan Pandeyan, yakni membangun bersama-sama. Dengan TMMD ini masyarakat yang kurang mampu dan berada di pinggiran kota hingga pelosok pedesaan menjadi sangat terbantu oleh TNI dan masyarakat,” ujarnya.

Di sisi lain, dalam kegiatan TMMD masyarakat juga melihat kemampuan prajurit Kodim 0734/Yogyakarta di luar kemampuan perang. Rusmono (62) Salah seorang warga Rt 30, Rw 08, Kampung Gambiran, mengaku salut dengan kemampuan prajurit Satgas TMMD saat melakukan pekerjaan merenovasi rumah warga yang tidak layak huni,

“Ternyata tentara Kodim Jogja juga sangat ahli dan mahir dalam bidang tukang, sehingga semua bisa diatasi dan di kerjakan dengan hasil yang memuaskan” ungkapnya terkagum. (rd)

Redaktur: Ja’faruddin. AS


 



Terpopuler


Baca Juga