Kamis, 25/10/2018 21:26 WIB | Dibaca: 337 kali

Peneliti dan Analis Nilai Isu Politik Hanya Memanas di Media


Diskusi Political Power Mapping Menuju 2019 yang digelar FNJI di Jakarta. Foto: ist

JAKARTA – Panas isu politik dimedia, baik media sosial (Medsos) maupun media massa ternyata tidak memancing ketegangan di masyarakat arus bawah.

Hal itu diaungkapkan peneliti senior dari Network for South East Asian Studies ( NSEAS), DR. Muchtar Effendi Harahap  dalam diskusi media yang di gelar Forum Nasional Jurnalis Indonesia (FNJI) di Jakarta, Rabu (22/10/2018).

Dalam diskusi bertema Political Power Mapping Menuju 2019, Muchtar menjelaskan, jelang Pemilu 2019 muncul fenomena anti calon patahana. Mereka, kata dia, kalangan oposisi rakyat yang kecewa akibatnya gesekan di tingkat masyarakatyang kemudian  membesar,

“Tapi fenomena ini masih di ranah media sosial belum meluas menjadi konflik terbuka akibat perbedaan pilihan politik.  Saya percaya sekeras apapun perseteruan warga di media sosial atau kegaduhan yang di ciptakan di media mainstream tidak akan meluas menjadi konflik horisontal, lihat saja betapa seramnya Pilgub DKI Jakarta lalu di gambarkan oleh media, tapi rakyat baik-baik saja aman dan damai seluruh tahapan proses Pilkada sehingga pada Pemilu 2019 nanti sepertinya akan tetap aman,” ujar Muchtar.

Dikatakan Muchtar, pemerintah dalam hal ini aparat keamanan (Polri) harus mampu menghadirkan keamanan nasional dan ketertiban sosial politik sehingga tercipta suksesi kekuasaan yang damai dan bersarkan prinsip demokrasi yang jujur dan adil,

"Saya masih percaya bahwa aparat mampu menciptakan situasi aman itu dan telah beberapa kali terbukti bahwa rakyat makin cerdas dan tak mudah terprovokasi dengan berbagai isu hoaks,"tegasnya.

Hal senada dikatakan analis media Toha Almansur, dalam kesempatan yang sama selaku pembicara. Menurut Toha, pertarungan keras antara Jokowi dan Prabowo jilid 2 ini memang sangat tajam di lini media baik mainstream maupun di media sosial,  tapi pada realitas di lapangan tak ada pertarungan itu di tingkat bawah,

“Jadi meski tensi tinggi di media, rakyat di tingkat bawah adem-adem saja tak banyak menimbulkan gesekan. Dalam kasus pembakaran bendera tauhid pada peringatan hari santri di Jawa Barat kemarin itu adalah insiden-inseden kecil secara kebetulan dan baru massif ketika ada aksi dan reaksi dari dua belah pihak namun masih yakin tak banyak berpengaruh atau menimbulkan konflik luas di masyarakat" tegas di depan peserta dari berbagai media.

Mantan aktifis pemuda berbasis masa Islam modernis ini menandaskan, momentum politik saat ini sangat terpengaruhi oleh gerakan besar yang di inisiasi oleh GNPF Ulama yaitu gerakan 411 dan  212 yang  berujung putusan politik berjudul  ijtima ulama jilid I dan II. Kemudian di respon Jokowi dengan mengambil ulama dari 411 dan 212 Kiai Ma'ruf.

"Gerakan 411 dan 212 adalah momentum gerakan umat Islam membela dan memperjuangkan kebenaran. Tapi di mata kelompok pro petahana, gerakan ini dianggap sebagai sebuah rekayasa politik untuk menghantam penguasa. Tapi apapun perbedaan pandangan terhadap gerakan tersebut, terbukti banyak mempengaruhi konstelasi politik nasional,” pungkasnya. (kt7)

Redaktur: Faisal

Berita Terkait

 





Baca Juga