Potensi Kaum Milenial Sebagai Mitra Pemerintah Wujudkan Indonesia Poros Maritim Dunia


Zaki Abdurrahman. Foto: ist

Oleh: Zaki Abdurrahman*

Julukan negara maritim bagi Indonesia bukan tanpa alasan. Indonesia menjadi salah satu negara dengan garis pantai terpanjang di dunia yaitu 108.000 km. Terdapat kurang lebih 17.504 pulau yang dimiliki Indonesia.

Lagu "Nenek Moyangku Seorang Pelaut" bukan hanya sebuah mitos, kejayaan era Sriwijaya dan Majapahit menjadi bukti. Sampai akhirnya di zaman kolonial, nelayan dianggap sebagai pekerjaan kasta rendah. Kini Indonesia sudah merdeka, saatnya kita percaya bahwa laut adalah salah satu potensi besar bagi perekonomian Indonesia.

Tahun 2010-2035 Indonesia mengalami bonus demografi, dimana kondisi piramida penduduk di dominasi usia produktif. Usia produktif sekarang ini sering dikaitkan dengan julukan milenial. Kaum milenial adalah salah satu segmen yang dapat berperan dalam kampanye Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan 123,26 juta jiwa atau 54, 68% dari total penduduk Indonesia menggunakan internet. Berdasarkan usia, umur 19-34 tahun mendominasi penggunanaan internet di Indonesia sebanyak 49,52%. Kampanye kaum milenial dengan media media sosial akan menjadi salah satu strategi percepatan dalam membantu terwujudnya Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Dalam era distruption dimana semua serba cepat dalam kehidupan sehari-hari, banyak bermunculan startup di Indonesia seperti gojek, tokopedia, dan bukalapak. Semua startup tersebut memudahkan aktivitas manusia menjadi lebih efisien dan efektif. Kaum milenial dapat memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan facebook sebagai cikal bakal suatu model usaha yang berkembang dan berdaya saing dalam bidang maritim.

Tiga pilar utama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam pembangunan laut Indonesia adalah kedaulatan, keberlanjutan, dan kesejahteraan. Salah satu prestasi KKP di bawah Susi Pudjiastuti adalah keseriusan memerangi kriminalitas di laut yaitu illegal, unreported, unregulated fishing (IUUF). Kemudian pembangunan infrastruktur untuk mendukung konektivitas terutama pulau terluar di Indoneaia.

Infrastruktur sudah digencarkan, oleh karena itu diperlukan pembangunan suprastruktur sebagai terobosan dengan menggandeng organisasi-organisasi kepemudaan. Pembentukan organisasi "Pandu Laut Nusantara" pada tahun 2018 dengan menggandeng komunitas pecinta laut, lebih fokus terhadap kolestarian laut. Pembentukan organisasi yang terfokus pada promosi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir juga perlu dibentuk.

Kaum milenial sebagi potensi besar yang dimiliki Indonesia harus segera mengambil peran dalam pembangunan ekonomi Indonesia termasuk di bidang maritim. Dalam era persaingan global yang serba cepat dan menuntut kreativitas, kaum milenial patut diberi kesempatan oleh pemerintah untuk membuktikan kemampuannya. Bertepatan pada tanggal 8 Juni, saya ucapkan selamat hari laut sedunia.(*)

*Penulis adalah Ketua Bidang Perguruan Tinggi dan Kepemudaan HMI BADKO Jateng DIY 2018-2020, Mahasiswa Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada.

 


 





Baca Juga