Selasa, 05/11/2019 20:12 WIB | Dibaca: 246 kali

Kredibilitas Guru di Era Teknologi Cerdas


Wahyuningsih. Foto:ist

Oleh : Wahyuningsih*

Guru mempunyai peran yang sangat konkret di kehidupan setiap orang dalam pengemban pendidikan. Tugas utama guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi setiap peserta didik. Oleh sebab itu, profesi guru sangat lekat dengan integritas dan kepribadian. Upaya seorang guru dalam menumbangkan kebodohan manusia menjadi pokok tujuan utama. Untuk itu, profesi seorang guru merupakan salah satu profesi yang tidak tergantikan oleh robot sekalipun.

Namun saat ini, teknologi sudah berkembang dengan pesat dan cepat, dalam genggaman dan sekali sentuh semua komunikasi dan informasi dapat dilakukan sehingga membuat dunia seakan-akan semakin sempit.Terkhusus bagi para siswa sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas, gadget bukan lagi menjadi hal yang asing sebagai mana umumnya anak setingkat SMA tahun 90-an. Dan bahkan kini gadget sudah menjadi bagian dari hidup mereka.

Dalam konteks pendidikan, kemajuan iptek membutuhkan perhatian serius karena dunia pendidikan adalah sarana paling efektif dalam penyebaran iptek. Sistem pembelajaran konvesional perlahan mulai tertinggal jauh di belakang. Saat ini proses pembelajaran tidak hanya berkutat di dalam kelas, tetapi juga menggunakan media digital, online, dan telekonferensi. Namun, pendidikan juga harus waspada agar mampu membendung efek negatif dari perkembangan iptek.

Keterbelakangan guru dalam dunia iptek akan menjadi bumerang yang akan memengaruhi profesionalitas keguruannya. Menyikapi hal tersebut, guru sebagai aktor utama pendidikan tidak boleh tutup mata. Guru hari ini harus lebih pintar dan cerdas dibandingkan murid-muridnya dalam perkembangan teknologi yang semakin melesat ini. Jangan sampai seorang guru tidak bisa computer, mengingat anak didik yang  lebih akrab dengan dunia teknologi dan komunikasi dalam kesehariannya.

Teknologi yang sudah semakin super cerdas dan canggih ini, melahirkan banyak media-media sosial yang membuat anak didik makin antusiasme dalam menggunakan gadgetnya. Guru harus lebih cerdas dan cermat terhadap perkembangan pendidikan yang berasimilasi dengan teknologi di zaman milenial kini. Yang jadi permasalahan kolektif dunia pendidikan kita saat ini adalah guru abad XX (yang lahir tahun di bawah 2000) masih gagap teknologi. Sedangkan murid yang dihadapi adalah manusia abad XXI yang tentu beda dalam asupan gizi keilmuan teknologi. Sederhananya, banyak anak didik kita saat ini lebih cerdas dalam dunia teknologi daripada gurunya.

Sosok guru sekarang harus pandai-pandai menyesuaikan diri di mana dan dalam situasi apa mereka berada. Teknologi yang sudah semakin super cerdas dan canggih ini, melahirkan banyak media-media sosial yang membuat anak didik makin antusiasme dalam menggunakan gadgetnya.  Munculnya media komunikasi yang tidak hanya berbasis pesan (audio) menjadi candu bagi anak-anak muda sekarang. Terlebih lagi sebuah aplikasi komunikasi yang dilengkapi dengan media audio visual.

Tak sedikit dari anak didik bangsa ini memperlihatkan gambar (amoral), yang menurut mereka merupakan sesuatu yang trendi. Ironisnya, guru tidak mengetahui apa yang dilakukan anak didiknya karena tidak memiliki aplikasi serupa. Ini adalah sebuah problema yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Lewat salah satu aplikasi yang paling digandrungi, anak remaja hari ini berlomba-lomba mempertontonkan foto-foto mereka yang paling bergengsi.

Sebuah aplikasi komunikasi tanpa batas akan membawa anak pada dunia yang lebih bebas dan liar. Di sana, mereka akan berteman dengan para tokoh idolanya semisal artis Korea, artis Hollywood, dan lain-lain. Bahkan, mereka menjadikannya sebagai kiblat dalam tindak-tanduknya.

Ini semua akan menjadi tantangan terbesar bagi para guru. Canggihnya teknologi akan menyebabkan komunikasi antarpeserta didik dapat terjalin dengan rahasia. Ketika obrolan dunia maya antaranak didik tanpa ada campur orang tua dan guru, maka sangat riskan mereka akan bertindak sesuai dengan nafsu jiwa muda. Nafsu jiwa muda cenderung tanpa pertimbangan akal yang tentunya bisa mengakibatkan dampak negatif bagi diri mereka.

Kemajuan teknologi berpotensi membuat anak cepat puas dengan pengetahuan yang diperolehnya, sehingga menganggap apa yang diperolehnya dari internet atau teknologi lain adalah pengetahuan terlengkap dan final. Bahkan mereka sudah tidak lagi menggagas buku-buku ilmu pengetahuan, dikarenakan  minat baca remaja sekarang ini sangatlah rendah. Padahal, banyak manfaat yang dapat diperoleh dari membaca. Banyak faktor yang menjadi penyebab rendahnya minat baca remaja. Salah satu penyebabnya bukan lain adalah semakin berkembangnya teknologi. Disini sosok seorang guru sangat diperlukan, guru harus lebih cerdas dan cermat terhadap perkembangan pendidikan yang berasimilasi dengan teknologi di zaman milenial kini.

Melek teknologi

Kualitas guru yang hampa akan teknologi tidak akan mampu menanamkan ?daya kritis? kepada murid untuk menjadi manusia revolusioner. Sehingga mereka terhambat untuk menggali potensi dirinya. Guru yang gaptek (gagap teknologi) akan menurunkan derajat kredibilitasnya di hadapan para muridnya sehingga murid cenderung bersikap underestimate, seolah-olah guru adalah orang dungu di tengah dunia metropolitan. Ini fenomena yang sering ada dan terjadi di sekeliling kita. Guru boleh produk tahun 90-an, tapi kapasitas keilmuannya tidak boleh kalah dengan persaingan zaman.

Di mana pun dan kapan pun seorang guru harus lebih pintar daripada muridnya, tidak hanya dalam konteks strategi mengajar akan tetapi juga harus update dalam segala bidang. Guru tempat berpijak murid, jika guru tidak ada gairah untuk meningkatkan potensi dirinya, sudah pasti guru akan kalah dari tingkat keilmuan muridnya, mengingat sumber belajar saat ini sudah betebaran di dunia maya setiap detiknya.

Guru tidak boleh gagap teknologi (gaptek) dan harus selalu berupaya memotivasi dirinya agar lebih masuk ke dalam dunia teknologi. Guru tidak boleh malas mengakses informasi dan teknologi jika tidak mau tertinggal. Mereka perlu belajar serius agar mampu mengoperasikan perangkat teknologi informasi di hadapan para muridnya. Guru profesional akan lebih mudah memahami kebutuhan siswa di tengah semakin kompletnya ketersediaan sarana dan prasarana.

Ketika siswa memiliki akun di media sosial, tak ada salahnya guru juga memilikinya, bahkan disarankan untuk saling berteman. Selain sebagai wadah untuk belajar, media komunikasi, dan penyebaran informasi, keberadaan guru juga sebagai pengawas aktivitas anak didik ketika berselancar di dunia maya. Komunikasi siswa saat ini cenderung alay dan berupa simbol-simbol yang sulit dijangkau oleh orang dewasa. (*)

*Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Hukum Ekonomi Syariah UIN Walisongo Semarang

 

 

 

 

 


 



Terpopuler


Baca Juga