Kamis, 07/11/2019 01:18 WIB | Dibaca: 202 kali

Tumbuhkan Rasa Cinta Anak Pada Alam


Nor Lailatun Nisfah. Foto:ist

Oleh: Nor Lailatun Nisfah*

Alam memiliki pengaruh yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup seluruh makhluk khususnya manusia. Maka manusia harus ikut serta menjaga, mencintai dan melestarikan alam. Tidak sepatutnya manusia mengambil kekayaan alam dengan serakah dan tidak bertanggung jawab akan akibat yang telah diperbuat. Banyak yang telah diberikan alam kepada manusia, tetapi manusia tidak ada usaha untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Sejak dulu manusia menjadi penyebab rusaknya alam. Banyak manusia yang memanfaatkan alam untuk kepentingan pribadi. Dampak yang diberikan manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab sangat merugikan orang lain. Sebut saja kasus kabut asap yang terjadi di Riau dan sekitarnya pada beberapa bulan terakhir. Fenomena kabut asap tersebut selalu terjadi setiap tahun, tentu fenomena kabut asap menyebabkan banyak kerugian bagi makhluk lain.

Kabut asap yang terjadi merupakan dampak dari pembakaran lahan sawit yang akan ditanami pohon sawit yang baru. Oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan musim kemarau agar tidak banyak menghabiskan banyak biaya untuk membakar lahan. BMKG menyebutkan bahwa di Riau terdapat 258 titik panas (CNNIndonesia,11/09/19). Selain fenomena kabut asap merupaka salah satu dampak eksploitasi alam yang dilakukan oleh manusia.

Selain alam hewan juga kerap dieksploitasi oleh oknum yang ingin mengambil keuntungan bagi diri sendiri. Hewan-hewan langka diburu dan dijual dengan harga tinggi. Akibat perburuan liar tersebut membuat hewan langka semakin berkurang. Sebut saja Gajah Sumatera yang saat ini telah masuk dalam daftar merah spesies terancam punah. Oknum-oknum tersebut memburu Gajah untuk mengambil gading saja,sedangkan  bagian tubuh yang tidak dibutuhkan dibiarkan begitu saja.

Kepunahan Gajah Sumatera juga menjadi salah satu dampak dari pembakaran lahan sawit. Pohon sawit muda merupakan salah satu jenis makanan yang disukai oleh spesies Gajah Sumatera. Oleh karena itu Gajah dianggap sebagai hama bagi para petani sawit, maka para petani tersebut membasmi Gajah agar tidak mengganggu lahan mereka. Bukan hanya Gajah Sumatera, masih banyak lagi hewan-hewan yang ada di Indonesia yang telah masuk dalam daftar merah spesies terancam punah.

Padahal indonesia merupakan negara yang tercatat sebagai negara yang memiliki kekayaan flora dan fauna. Terdapat 25.000 jenis flora yang terdiri dari 6.000 spesies yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Begitu juga dengan jenis fauna yang ada di Indonesia, sekitar 27.000 jenis hewan yang terdiri dari beragai jenis dari mammalia hingga jenis insecta. (Indonesia.Go.Id,24/10/2018 )

Oleh karena itu sudah seharusnya masyarakat indonesia ikut serta mencintai dan menjaga kakayaan alam Indonesia. Tentunya untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap kekayaan hayati bangsa ini harus ditanamkan sejak dini. Dalam hal ini peran orang tua untuk mengajarkan anak-anak mereka menjadi generasi masa depan yang cinta lingkungan. untuk mewujudkan hal tersebut orang tua perlu memupuk rasa cinta pada lingkungan dalam diri anak-anak mereka.

Mendidik anak-anak untuk selalu mencintai lingkungan merupakan hal penting untuk menjaga bumi supaya menjadi tempat yang nyaman juga menyenangkan. Banyak kiat yang dapat diterapkan untuk membuat anak memiliki kecintaan juga kesadaran untuk mencintai bumi. Orang tua dapat memulai dari lingkungan rumah, seperti membuang sampah pada tempatnya untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih dan nyaman.

Mengajak anak-anak untuk melakukan kegiatan di alam agar anak tidak selalu bermain di dalam rumah. Orang tua dapat mengajak anak-anak untuk berkebun, cara ini bertujuan agar anak-anak mengenal tumbuhan. Selain mengajak berkebun orang tua juga harus memberi penjelasan kepada anak bahwa berkebun dapat menjaga kelestarian alam. Selain berkebun para orang tua juga bisa mengajak anak-anak untuk bermain dengan bahan-bahan bekas.

Mainan tentu menjadi salah satu barang yang sangat disukai oleh anak-anak. Tak jarang ada anak-anak yang meminta orang tua mereka untuk membelikan mainan baru. Namun mainan-mainan yang dijual di toko mainan kebanyakan berbahan dasar plastik. Padahal plastik merupakan penyebab utama pencemaran lingkungan.

Untuk mengurangi plastik, orang tua dapat mengakali hal tersebut dengan mengajak anak-anak untuk belajar mendaur ulang bahan bekas menjadi mainan.Mengubah bahan bekas semacam kardus dan yang lain menjadi mainan yang menyenangkan. Selain dapat mendaur ulang sampah, hal ini bertujuan agar anak-anak dapat mengeksplor kreatifitas mereka dalam mengubah suatu barang bekas menjadi sebuah mainan.

Selain mengajak, para orang tua juga harus memberikan contoh kepada anak-anak mereka. Karena bagaimanapun anak-anak merupakan imitator paling handal. Jadi, jika orang tua memberikan aksi nyata akan apa yang ia perintahkan kepada anak-anak. Maka, dengan sendiri anak-anak akan mengikuti apa yang orang tua mereka lakukan.(*)

*Penulis adalah Aktivis HMI Komisariat Dakwah dan Mahasiswi jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

 

Berita Terkait

 



Terpopuler


Baca Juga