Sabtu, 18/07/2020 19:00 WIB | Dibaca: 183 kali

Masyarakat Diimbau Jangan Panik Hadapi Penggembungan Merapi


Puncak Gunung Merapi. Foto:doc.jogjakartanews
YOGYAKARTA - Kepala Pusat Studi Bencana (PSBA) UGM, Dr. Agung Harijoko meminta masyarakat tidak panik menghadapi aktivitas Gunung Merapi yang mengeluarkan guguran material pada Rabu (15/7) malam. Kendati begitu masyarakat diimbau tetap meningkatkan kewaspadaan. 
 
“Tetap tenang dan jangan panik. Ikuti arahan dan patuhi rekomendasi yang disampaikan oleh BPPTKG atau BPBD setempat,” tuturnya, Sabtu (18/07/2020). 
 
Selain itu masyarakat juga diharapkan untuk terus memantau informasi terkait Gunung Merapi dari  sumber yang kredibel melalui website maupun media sosial BPPTKG. 
 
Dia menyampaikan bahwa hingga saat ini BPPTKG Yogyakarta masih menetapkan status Gunung Merapi pada level II atau Wasapada. Dengan kata lain, belum ada peningkatan potensi bahaya dari aktivitas Gunung Merapi. Ancaman bahaya masih berada pada radius tiga kilometer dari puncak Merapi. 
 
“BBPTKG menyatakan ada penggembungan di tubuh Merapi yang mengindikasikan ada magma yang bergerak didalamnya, tapi masih lebih kecil dibanding deformasi sebelum erupsi 2010”jelas dosen Teknik Geologi UGM ini. 
 
Agung Harijoko menjelaskan pergerakan magma tersebut bisa berlanjut dengan erupsi. Namun bisa juga tidak berlanjut erupsi.  Apabila terjadi erupsi, maka kemungkinan erupsi yang akan terjadi bisa berupa erupsi efusif yang membentuk kubah lava atau berupa erupsi eksplosif dengan letusan yang kuat.
 
 “Erupsi Merapi bukan baru saja terjadi, tapi sudah berlangsung lama yakni  sejak keluarnya kubah lava pada 2018 lalu,” terangnya.
 
Dia mengatakan bahwa BBPTKG terus melakukan pemantauan terhadap aktivitas Merapi dengan baik. Namun, dia menilai masyarakat perlu untuk mengetahui bahaya yang ditimbulkan dari erupsi gunung api sebagai upaya mitigasi bencana. 
 
Bahaya utama saat terjadi longsoran kubah dengan volume besar adalah terbentuknya awan panas atau yang dikenal masyarakat Jawa dengan sebutan wedhus gembel. Selain itu juga ancaman abu vulkanik yang bisa menyebabkan gangguan pernafasan.
 
“Saat terjadi hujan abu, masyarakat diharapkan memakai masker untuk mencegah partikel-partikel abu halus terhirup ke tubuh,”terangnya.
 
Setelah erupsi berakhir, masyarakat juga perlu mewaspadai ancaman lahar dingin saat musim penghujan. Curah hujan dengan intensitas tinggi akan membawa material vulkanik dari letusan gunung yang berada di lereng gunung atau hulu. (pr/kt1)
 
Redaktur: Faisal

 





Baca Juga