Yayasan Abdurrahman Baswedan dan KUI UP45 Bedah Model Pembelajaran di Swedia


Tangkap layar webinar yang diselenggarakan Yayasan Abdurrahman Baswedan dan KUI UP45, dengan tema Model Pembelajaran di Swedia.

YOGYAKARTA - Akademi Al Hikmah, Yayasan Abdurrahman Baswedan bekerjasama dengan Kantor Urusan Internasional Universitas Proklamasi 45 (KUI UP45) Yogyakarta menggelar webinar (seminar online) membedah Model Pembelajaran Universitas di Swedia (Denmark), Rabu (08/07/2020) yang lalu.

Webinar yang dilangsungkan pukul 19.30-21.00 WIB tersebut menghadirkan narasumber Dosen Departemen Teknik Elektro dan Teknik Informasi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada yang juga sekaligus Alumnus Aalborg University, Denmark - Roni Irnawan, S.T., M.Sc., Ph.D., SMIEEE.

Acara dibuka oleh Pengurus Harian Yayasan AR Baswedan, Drs Untoro Hariadi MSi dan dipandu oleh Dr. Muhammad Zuhaery, MA - Dosen Magister Pendidikan Agama Islam, Universitas Ahmad Dahlan.

Dalam kesempatan tersebut, Roni Irnawan Doctor of Philosopy Electric Power Sytems Aalborg Universitet ini menjelaskan tentang model pendidikan tinggi di Skandinavia, berdasarkan pengalamannya tinggal di Skandinavia selama 9,5 tahun (di Swedia dan di Denmark).

Setelah lulus S1, Roni yang punya keinginan besar kuliah di luar negeri, kemudian berangkat ke Swedia untuk melakukan kerja praktik atau riset di ABB Corporate Research Center (pusat riset swedia) untuk thesis. Di Aalborg university project EU, didanai oleh  Erasmus + programme ( European Union). Pengalamannya di Department of Energy Technology Aalborg University Denmark, antara lain menjadi bagian dari COBRAcable research project dan menjadi visiting scholar : TU DElft (NL), Uofm (CA). Dan bukan itu saja keberhasilannya memperoleh Riset outstanding Springer Theses Recognizing Outstanding phd Research, Roni Irnawan : Planning and Control of Expandable Multi-Terminal VSC-HVDC Transmission Systems, dan penghargaan CIGRE Thesis Award 2020 orang pertama penerima award dari Indonesia.

Roni mengaku meskipun sejak kuliah S1 adalah seorang mahasiswa yang biasa-biasa saja, tetapi ketika S2, S3 ternyata mampu bersaing bahkan outstanding di negara asing,

“Artinya jika difasilitasi kita pasti menjadi orang yang berdaya saing tinggi. Bekerja di ABB HVDC Sweden sebagai design engineer memberikannya banyak pengalaman berharga, tidak banyak orang yang mengambil teknik power,” katanya dalam pers rilis UP 45 untuk jogjakartanews.com, Sabtu (18/07/2020).

Ia menjelaskan kultur skandinavia yaitu kerajaan, sama seperti di Yogyakarta. Negeri Skandinavia yang dimaksud ada 3 negara utama yaitu Swedia, Denmark, Norwegia. Dari ketiga negara tersebut terdapat budaya viking, serumpun secara bahasa dan kultur. Seputar skandinavia sendiri mungkin beberapa brand ternama seperti produk Ikea, lego, volvo, skype, google maps, maersk, nobel, H.C Andersen, Niels Bohr, Bang & Olufseb (B& O), Ericsson, H&M, electrolux, tetra pak.

“Kultur skandinavia antara lain: individualistis, do-it-yourself (jika ada kerusakan di rumah peralatan lainnya diperbaiki sendiri/ lebih mandiri), pajak tinggi sehingga pendapatan netto setiap orang hampir mirip walaupun pendapatan bruto beda,” ujarnya.

Selain itu kultur skandinavia yaitu sudah terbiasa jaga jarak, tidak menyombongkan pencapaiannya, tidak suka mengumbar perasaan, tidak memuji yang berlebihan, berlaku hukum jante law, negative interpretation/ positive interpretation.

“Saat lockdown di Denmark tidak terjadi budaya panic buying karena sesuatu yang dibeli dianggap cukup, jika membutuhkan kembali baru membeli, membeli sesuai kebutuhan,” katanya.

Terkait model pendidikan S2 di swedia, perkuliahan dilaksanakan (quarter) 17 kali pertemuan 7,5 ECTS total 75 ECTS ujian mudah untuk lulus, tetapi sulit untuk dapat nilai maksimal, hubungan dengan industri sangat erat. Sedangkan model pendidikan S2 di Aalborg berupa program semester; Project based learning (PBL) berkelompok, ujian wawancara, hubungan dengan industri yang erat (proyek industri, penguji dari industri, mengadakan kunjungan industry, disamakan adalah learning outcome,

“Tetapi sebagai lulusan mereka harus punya kompetensi apa,” tukas Roni.

Pendidikan S2 terkesan dipacu untuk kreatif, diperkenalkan dengan aplikasi di dunia nyata dan dedikasi, orang industri bahkan diminta datang sebagai examiner sebagai user atau stakeholder. Sedangkan model pendidikan S3 sebagai sebuah pekerjaan di eropa,

“S3 adalah sebuah pekerjaan sehingga harus melamar dulu, disana mahasiswa S3 mendapatkan gaji dan jatah liburan, ada kenaikan gaji, kewajiban bayar pajak. Berdasarkan riset wajib mengambil kuliah sebanyak 30 ECTS untuk mendukung riset, fasilitas; akses laboratorium, komputer, ruang kerja. ada kewajiban mengajar tutorial. Sehingga untuk mendaftar silahkan membuka website dan buka website universitas dan lowongan,” terangnya.

Roni menjelaskan, Wisuda S2 S3 tidak diwajibkan. Biasanya ijazah dikirimkan, ada periode wisuda yang boleh diikuti, supervisor adalah teman,

“Teknologi maju, fasilitas lengkap masuk dalam schengen, merupakan negara negara dengan indeks kebahagiaan yang tinggi, prinsip kesamaan, lingkungan yang bersih, aman dan nyaman,” bebernya.

Dalam kesempatan tersebut hadir Prof. Dr. Hj. Aliyah Rasyid Baswedan, M.Pd., para jajaran Yayasan Ar Baswedan dan Direktur KUI UP 45, Rr.Putri Ana Nurani,SS,MM.

Putri sangat mengapresiasi apa yang sudah dilakukan penyelenggara. Terlebih, peserta webinar tidak hanya berasal dari Indonesia namun juga ada mahasiswa yang sedang berkuliah di luar negeri, seperti Azhar Nor, mahasiswa di Turki Istanbul University.

Putri berharap dengan mengetahui model pembelajaran di universitas di Swedia (Denmark),

“Paling tidak kita mendapatkan banyak referensi sistem pendidikan model pembelajaran, lantaran di negara – negara Skandinavia seperti Denmark sendiri yang menjadi rujukan dari berbagai negara termasuk Indonesia. Karena merupakan salah satu contoh negara di Eropa yang memiliki perhatian penuh pada lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan. Aalborg University (AAU) sendiri adalah universitas di Denmark yang berdiri pada tahun 1974 dan tersebar di Aalborg, Esbjerg, dan Copenhagen,” tuturnya.

Direktur Eksekutif Yayasan Abdurrahman Baswedan, Syamsudin,Spd,MA mengatakan di Skandinavia banyak mahasiwa S3 mengejar kepuasan atau keingintahuan suatu bidang. Tidak semua mahasiswa S3 di skandinavia ingin menjadi akademisi, ada yang juga entrepreneur dan memiliki start up,

“Dengan berkuliah mereka berharap akan menemukan teknologi yang bermanfaat untuk mengembangkan start up yang dimiliki,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kerjasama dengan KUI 45 ini akan berlangsung setiap hari Rabu.

Acara ditutup oleh Ketua Dewan Pembina Yayasan AR. Baswedan, Dr H Khamim Zarkasi Putro, MSi. (rd2)

Redaktur: Fefin Dwi Setyawati


 





Baca Juga