Jumat, 02/04/2021 11:40 WIB | Dibaca: 136 kali

Ironi Digitalisasi: Terkikisnya Nalar Kritis


Handriyana, S.Kesos. Foto: doc/pri

Oleh: Handriyana, S.Kesos


Pekerja di sektor industri digital merupakan trand anak muda masa kini. Tawaran gajinya yang cukup menarik menjadi salah satu pemikatnya. Selain itu, trand industri digital yang sedang tumbuh membuat sektor tersebut memberikan banyak kesempatan. Jadi tidak heran posisi ini paling banyak dicari dan diincar oleh para anak muda. Tatanan dunia digital memang hari ini dan kedepan akan banyak diperankan oleh anak muda. Terlihat pada data yang dirilis oleh hootsuite pada tahun 2020, anak muda dalam rank usia 18- 34 tahun merupakan pengguna social yang paling aktif.


Tatanan dunia digital tidak serta merta hanya menawarkan sisi kemjuan teknologi namun sertamerta memberikan sisi gelap terhadap nalar kritis anak muda.   Disadari atau tidak, digitalisasi membentuk cara berpikir, hal itu karena algoritma yang tebentuk dalam dunia digital akan mendikte para pengguna internet saat mereka mencari berbagai hal di internet. Oleh karenanya pengguna internet seringkali langsung mendapatkan berita atau konten yang menarik saat pertama membuka mesin pencari di internet atau saat membuka media sosial. Hal tersebut terjadi karena perkembangan IT hari ini membuat mesin pencari di internet dapat merekam jejak pencarian dan akan membangun algoritmanya sendiri. Dengan begitu setiap pengguna internet akan mendapat kemudahan dalam setiap langkah pencarian informasi yang dia sukai.


Kemudahan yang disediakan oleh mesin pencarian tentu bukan lagi berbica informasi yang ingin kita ketahui atau kita butuhkan, namun kini mesin pencarian tersebut langsung menawarkan informasi yang kita senangi. Ketika kita mulai mencari suatu informasi, kemudian data-data sejenis hinggap pada algoritma dan dilekatkan pada pencarian kita. Akibatnya, kita hanya melihat yang sejenis. Algoritma itu "tahu" preferensi kita. Tidak hanya itu, dia membentuk 'preferensi' kita. Hingga pada akhirnya kita adalah ciptaannya yang yakin dan fanatik terhadap yang kita sukai, saat itu terjadi maka nalar kritis sudah habis terkikis.


Apabila fanatisme sempit menjadi dasar dari pembangunan karakter bangsa ini, golongan muda kedepannya akan kembali menjadi budak dari industri digital. Golongan muda akan merasa menjadi yang serba tahu, paling enlightened (melek), dan paling benaran. Proses selanjutnya tentu kita akan mulai melihat orang lain dengan "preferensi" kita. Kita merasa yakin dengan yang kita percayai dan mulai menghakimi orang lain. Setelah ego merasa yang paling tersebut terbentuk, selnjutnya disadari atau tidak golongan muda akan menjadi objek yang dengan mudah kontrol untuk menjalankan kepentingan kapital dan kepentingan politik. Contohnya terjadi pada fenomena cebong dan kampret saat pemilihan presiden (pilpres) tahun 2019. Selama beberapa tahun sebelum pilpres, sisi kelompok “cebong” tentu akan melihat kelompoknya lah yang paling benar, begitu sebaliknya dengan kelompok “kampret”.


Situasi ini juga bisa kita lihat dengan mudah pada beranda sosial media, mulai dari facebook, twitter, hingga Instagram. Algoritma sosial media sudah menempatkan kita kedalam dua sisi berbeda. Wajar bila kita sering melihat ada dua kelompok yang saling menghujat, saling memaki, karena merasa paling benar. Untuk itu golongan muda yang memiliki intelektualitas tinggi untuk cerdas hidup dalam era digitalisasi. Penting bagi kita untuk mengkrtisi apa yang kita lakukan dan apa yang kita percayai.


Memila informasi yang disenangi terhadap sesuatu untuk dijadikan satu-satunya sumber untuk menegaskan apa yang sedang kita lakukan dan keyakinan, tidaklah cukup. Di era saat ini, di mana kebenaran adalah barang mahal penting untuk kita berani mempertanyakan apa saja yang informasi yang sudah kita terima. Terkadang perlu mendengarkan informasi dari pihak yang bersebrangan karena terkadang mereka merupakan sosok yang berkata jujur, walau tidak akan menyenangkan. Karena dengan itu kita bisa terbuka dan melihat sesuatu dengan kacamata lain. Dengan begitu golongan muda hari ini dan dimasa depan dapat merawat nalar kritisnya. (*)
 

*Penulis adalah Executive Secretary PUSKAMUDA (Pusat Kajian Kepemudaan) Fisip Universitas Indonesia
Digital Media Consultant TNP2K (Tim Nasional Penanggulangan Percepatan Kemiskinan)

Berita Terkait

 





Baca Juga