PURBALINGGA – Pagi itu, rumah sederhana milik Solati di Desa Kalijaran, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Purbalingga, tampak lengang. Di sudut dapur, perempuan 70 tahun itu masih sibuk menyiapkan adonan peyek yang setiap hari ia jual demi menyambung hidup keluarganya.
Di usia yang tak lagi muda, Solati belum bisa menikmati masa tua dengan tenang. Tenaga dan waktunya justru habis untuk bekerja sekaligus merawat dua anaknya yang mengalami gangguan mental.
Rutinitas itu telah dijalaninya bertahun-tahun.
Dengan penghasilan seadanya dari berjualan peyek, Solati berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga kecilnya. Tak jarang ia harus menghemat pengeluaran agar dapur tetap mengepul.
“Kalau tidak jualan, ya tidak ada pemasukan,” ucapnya lirih.
Di tengah keterbatasan ekonomi yang dihadapi, perhatian datang dari jajaran Polsek Karanganyar Polres Purbalingga. Jumat, 22 Mei 2026, Kapolsek Karanganyar Ajun Komisaris Polisi Edi Rasio bersama anggota mendatangi rumah Solati untuk memberikan bantuan sosial.
Kedatangan polisi sempat membuat warga sekitar berdatangan. Namun bukan karena persoalan hukum, melainkan bentuk kepedulian kepada seorang ibu lansia yang masih terus berjuang menghidupi keluarganya.
“Kami hadir untuk sedikit meringankan beban Ibu Solati. Beliau sosok ibu tangguh yang tetap berjuang di usia senja,” kata Edi Rasio.
Bantuan yang diberikan mungkin tidak langsung mengubah keadaan hidup Solati. Namun perhatian itu setidaknya menjadi penanda bahwa perjuangannya tidak luput dari kepedulian orang lain.
Bagi Solati, hari-harinya bukan hanya tentang mencari nafkah. Ia juga harus memastikan kedua anaknya dalam kondisi baik. Dalam usia yang semakin renta, ia tetap menjadi tempat bergantung bagi keluarganya.
Sesekali, senyum tipis terlihat di wajahnya saat menerima bantuan tersebut. Matanya tampak berkaca-kaca.
“Terima kasih banyak atas bantuannya. Ini sangat berarti bagi kami sekeluarga,” katanya pelan.
Kapolsek Karanganyar mengatakan kegiatan sosial tersebut rutin dilakukan sebagai bentuk kehadiran polisi di tengah masyarakat, khususnya bagi warga yang membutuhkan bantuan ekonomi maupun sosial.
Di balik kesederhanaan rumahnya, Solati menjalani hidup dengan keteguhan yang mungkin tak semua orang mampu lakukan. Saat sebagian orang menikmati masa tua bersama cucu dan keluarga, ia masih harus berjibaku dengan kerasnya hidup.
Namun seperti peyek buatannya yang tetap renyah meski digoreng dalam panas minyak, Solati pun tetap bertahan di tengah himpitan keadaan. (tar)
Redaktur: Faisal














