BANDUNG – Seminar dan Bedah Buku Daqāiq al-Qur’an karya KH. Miftah F. Rakhmat yang diselenggarakan Program Magister (S2) Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jumat (26/6/2026), berlangsung dengan antusias.
Mengusung tema “Moderasi Beragama dan Keajaiban Al-Qur’an: Menyelami Pesan Wasathiyah dalam Buku Daqāiq al-Qur’an”, forum ilmiah ini dihadiri dosen, mahasiswa, peneliti, serta pemerhati studi Al-Qur’an.
Dalam paparannya, KH. Miftah F. Rakhmat mengkritisi kecenderungan umat yang sering menyamakan terjemahan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an itu sendiri.
Menurutnya, terjemahan merupakan hasil ijtihad manusia yang tidak mungkin sepenuhnya memindahkan seluruh kekayaan makna bahasa Al-Qur’an.
“Terjemahan Al-Qur’an bukanlah Al-Qur’an,” tegasnya. Sebab, setiap penerjemahan selalu melibatkan pilihan kata, penafsiran, dan keterbatasan bahasa. Akibatnya, banyak lapisan makna yang tidak dapat dipindahkan secara utuh ke dalam bahasa lain.
Ia menjelaskan bahwa buku Daqāiq al-Qur’an lahir dari upaya menyingkap daqāiq (seluk-beluk yang halus dan subtil) dalam bahasa Al-Qur’an. Buku ini menunjukkan bahwa kata-kata yang selama ini dianggap sinonim ternyata memiliki nuansa makna yang berbeda.
Setiap diksi dalam Al-Qur’an dipilih secara presisi, mempunyai fungsi, konteks, dan narasi masing-masing. Perbedaan sekecil apa pun dalam pilihan kata dapat melahirkan pesan yang berbeda pula.
Lebih jauh, buku ini mengajak pembaca meneliti pola-pola bahasa Al-Qur’an, pengulangan kata, distribusi istilah, hingga jumlah kemunculan kata-kata tertentu sebagai bagian dari struktur makna yang utuh. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa kemukjizatan Al-Qur’an tidak hanya terletak pada kandungan ajarannya, tetapi juga pada ketelitian konstruksi bahasanya.
KH. Miftah juga menyoroti hilangnya sejumlah unsur kebahasaan dalam proses penerjemahan, termasuk kata ganti (dhamir) yang sering kali tidak dapat dipertahankan dalam bahasa Indonesia.
Padahal, perubahan atau hilangnya kata ganti tersebut dapat memengaruhi arah penekanan, hubungan antarayat, bahkan keluasan makna yang ingin disampaikan Al-Qur’an.
Karena itu, menurutnya, memahami Al-Qur’an tidak boleh berhenti pada satu terjemahan ataupun satu penafsiran.
Semangat yang dibangun Daqāiq al-Qur’an adalah menolak hegemoni dan monopoli makna, sekaligus membuka ruang dialog ilmiah terhadap berbagai kemungkinan makna yang tetap berpijak pada kaidah bahasa Arab, ilmu tafsir, dan tradisi keilmuan Islam.
“Dengan menyadari keluasan makna Al-Qur’an, seseorang akan lebih rendah hati dalam memahami agama dan tidak mudah menyalahkan pendapat yang berbeda,” ujarnya.
Sementara itu, pembedah buku, Prof. Dr. H. Badruzzaman M. Yunus, M.A., menilai Daqāiq al-Qur’an sebagai kontribusi penting dalam bidang Dirasah Qur’aniyah.
Menurutnya, buku ini menggali kemukjizatan Al-Qur’an melalui kajian kebahasaan yang sistematis serta memperkaya khazanah studi Al-Qur’an dengan memadukan perspektif Ahlus Sunnah dan tradisi Ahlul Bait secara proporsional.
Diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Berbagai pertanyaan dari peserta berkisar pada persoalan penerjemahan Al-Qur’an, makna sinonim dalam Al-Qur’an, metodologi tafsir, hingga relevansi pendekatan kebahasaan dalam membangun kehidupan beragama yang damai.
Melalui pendekatan tersebut, Daqāiq al-Qur’an menawarkan satu pesan penting: semakin dalam seseorang memahami presisi bahasa Al-Qur’an, semakin terbuka kesadarannya bahwa wahyu Ilahi memiliki keluasan makna yang tidak bisa dimonopoli oleh satu terjemahan atau satu tafsir.
Kesadaran inilah yang menjadi fondasi lahirnya sikap wasathiyah atau moderasi beragama—teguh pada prinsip, tetapi lapang dalam menyikapi perbedaan.
Ketua Program Studi Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Eni Zulaiha, mengaku gembira melihat tingginya antusiasme peserta mengikuti seminar dan bedah buku tersebut.
Menurutnya, semangat mahasiswa dan masyarakat untuk mendalami kajian Al-Qur’an menjadi modal penting bagi pengembangan keilmuan Islam di masa depan.
“Semoga semakin banyak generasi muda yang tertarik mendalami Al-Qur’an melalui jalur akademik. Kita tidak ingin kajian Al-Qur’an kehilangan peminat. Jangan sampai sepuluh tahun ke depan Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir justru mengalami kemunduran atau bahkan terancam kehilangan regenerasi karena minimnya mahasiswa yang menekuni bidang ini,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan seminar, bedah buku, dan forum-forum akademik serupa terus digelar untuk menumbuhkan kecintaan terhadap studi Al-Qur’an sekaligus memperkuat tradisi riset dan pengembangan ilmu tafsir di lingkungan perguruan tinggi.
Menurutnya, semakin banyak orang yang mendalami Al-Qur’an secara ilmiah, semakin besar pula peluang lahirnya pemahaman keislaman yang mendalam, moderat, dan relevan dengan tantangan zaman.
Acara bedah buku di UIN Sunan Gunung Djati ini merupakan rangkaian roadshow bedah buku Daqaiq Al-AQuran 30 kota. Sebelumnya acara serupa diadakan di Jogjakarta dan Ciamis.














