News  

Majelis Aza Muharram Bahas Makna Qadama Shidqin dalam Jejak Perjuangan Imam Husain

Dr. Dimitry Mahayana mengulas qadama shidqin dalam Ziarah Asyura pada Majelis Aza Muharram. Foto: Kang Fuad

BANDUNG – Majelis Aza 9 Muharram 1448 Hijriah yang digelar di Kota Bandung pada Selasa (23/6/2026) mengangkat kajian tentang makna qadama shidqin, sebuah konsep spiritual yang terdapat dalam larik penutup Ziarah Asyura.

Kajian yang disampaikan oleh Dr Dimitry Mahayana tersebut berangkat dari doa yang berbunyi, “Wa tsabbit li qadama shidqin ‘indaka ma’al Husain wa ashaabil Husain” atau “Teguhkanlah bagiku langkah kebenaran di sisi-Mu bersama Husain dan para sahabat Husain.”

Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa qadama shidqin merupakan salah satu maqam spiritual yang lahir dari keselarasan antara keyakinan, ucapan, dan perbuatan seorang mukmin. Konsep itu dipahami sebagai jejak kebenaran yang kokoh sekaligus kedudukan mulia yang dianugerahkan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang istiqamah dalam iman dan amal saleh.

Untuk menjelaskan makna tersebut, pemateri mengangkat keteladanan Habib bin Mazhahir, sahabat setia Imam Husain as yang dikenal karena keluasan ilmu, keteguhan iman, dan pengorbanannya dalam Peristiwa Karbala.

Habib disebut sebagai sosok yang berhasil mewujudkan nilai qadama shidqin dalam kehidupannya. Kesetiaannya kepada Imam Husain tidak berhenti pada keyakinan atau ucapan, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata hingga akhir hayatnya.

Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa kata qadam secara bahasa berarti langkah, jejak, atau kedudukan. Sementara shidq bermakna kebenaran dan kejujuran. Karena itu, qadama shidqin dipahami sebagai langkah yang teguh di atas jalan kebenaran serta kedudukan spiritual yang dibangun melalui ketulusan iman.

Kajian tersebut merujuk pada Al-Qur’an, hadis, serta penjelasan sejumlah ulama, termasuk Allamah Thabathabai dalam Tafsir Al-Mizan. Dalam sejumlah riwayat Ahlul Bait as, istilah qadama shidqin juga dikaitkan dengan wilayah spiritual dan syafaat Rasulullah SAW.

Menurut pemateri, penggunaan kata qadam dalam Ziarah Asyura mengandung pesan bahwa kehidupan spiritual merupakan perjalanan yang terus berlangsung. Seorang mukmin tidak hanya diminta mengharapkan hasil akhir, tetapi juga menjaga setiap langkahnya agar tetap berada di jalan yang diridhai Allah SWT.

Semangat itulah yang dicontohkan para sahabat Imam Husain dalam Peristiwa Karbala. Mereka menunjukkan bahwa kesetiaan kepada kebenaran memerlukan pengorbanan dan konsistensi dalam tindakan.

Mengacu pada hadis Imam Ridha as kepada Rayyan bin Syabib, kajian juga menjelaskan sejumlah amalan yang dapat mendekatkan seorang mukmin kepada maqam qadama shidqin. Di antaranya adalah taubat yang tulus, mengenang musibah Karbala, berziarah kepada Imam Husain, menjauhi kezaliman, serta mempererat kecintaan kepada Rasulullah SAW dan Ahlul Bait as.

Majelis tersebut menegaskan bahwa Karbala bukan sekadar peristiwa sejarah yang dikenang setiap Muharram. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti kejujuran, keadilan, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama, tetap relevan untuk dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di akhir kajian, jamaah diajak untuk senantiasa memohon keteguhan kepada Allah SWT agar dianugerahi qadama shidqin ma’al Husain wa ashaabil Husain, yakni kemampuan untuk terus berjalan di atas jejak kebenaran bersama Imam Husain dan para sahabatnya.

“Qadama shidqin bukan sekadar sebuah kedudukan yang dicapai, melainkan perjalanan tanpa akhir untuk terus berjalan di jejak Imam Husain as dan para sahabatnya,” demikian pesan yang disampaikan dalam majelis tersebut. (pr/kt1)

60 / 100 Skor SEO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by rasalogi.com