Majelis Duka Husaini di Bandung angkat Tema Karbala, Madrasah Perjuangan Kaum Perempuan

Oleh: Syamsuddin Baharuddin*

K.H. Miftah Fauzi Rakhmat, Ketua Dewan Syura IJABI, menyampaikan majlis ilmu malam duka Husaini. Foto: Kang Fuad

KETIKA nama Karbala disebut, sering kali sejarah membawa ingatan kita kepada padang tandus penuh debu dan darah. Kita mengenang keberanian Imam Husain ibn Ali yang berdiri tegak menghadapi tirani. Kita mengenang para syuhada yang gugur mempertahankan kemuliaan agama. Tetapi Karbala sesungguhnya menyimpan pelajaran yang jauh lebih luas dari sekadar heroisme di medan perang. Di balik pedang-pedang yang terhunus pada hari Asyura, berdiri pula jiwa-jiwa agung yang tidak memegang senjata, namun justru menjaga agar pesan Karbala tidak mati ditelan sejarah: ada kisah tentang perempuan-perempuan agung yang menjadikan duka sebagai keberanian, dan rasa kehilangan sebagai kekuatan perjuangan.

Sebab Karbala bukan hanya madrasah bagi kaum lelaki yang berjuang di medan laga. Karbala adalah madrasah ruhani tempat dunia belajar bahwa perempuan memiliki tempat terhormat dalam menjaga risalah Ilahi. Jika Imam Husain as adalah darah perjuangan, maka Sayyidah Zaynab binti Ali adalah suara yang memastikan darah itu berbicara kepada generasi-generasi setelahnya. Jika para syuhada gugur di padang Karbala, maka perempuan-perempuan keluarga Rasulullah berdiri tegak menjaga agar kemenangan moral tidak berubah menjadi kekalahan sejarah.

Allahyarham MahaGuru kita, KH Jalaluddin Rakhmat, pernah menyampaikan refleksi yang mendalam dalam kajian-kajian Muharramnya:

“Sesungguhnya kemenangan Karbala tidak hanya ditentukan oleh syahadah Imam Husain, tetapi oleh keberanian Zainab yang mengubah tragedi menjadi kesadaran sejarah.”

Beliau berulang kali menegaskan bahwa membaca Karbala tanpa membaca peran Sayidah Zainab adalah membaca separuh sejarah Asyura.

Dalam salah satu naskah Maqtal yang begitu indah, Allahyarham MahaGuru menuliskan tentang Sayyidah Zainab Jabal Al Shabr:

“Pada muka Zainab, Nabi saw melihat masa lalu dan masa depan. Wajah Zainab menjadi cermin ke masa lalunya. Wajah Zainab mengingatkan Nabi saw kepada istrinya  yang sangat dicintainya; kepada almarhumah yang memberikan seluruh kasih sayangnya ketika orang-orang membencinya; kepada kekasihnya yang  menghiburnya ketika orang-orang menyakitinya; kepada perempuan yang mengorbankan seluruh kesenangan hidupnya demi tegaknya agama yang dibawanya.

“Wajah Zainab juga menjadi cermin yang memantulkan pemandangan pada masa yang akan datang.  Rasulullah saw melihat Zainab  mencurahkan seluruh cintanya untuk Al-Husain ketika orang-orang  memusuhinya. Ia melihat Zainab dengan  setia mendampingi Al-Husain pada saat badai bencana menimpanya. Ia melihat Zainab meninggalkan ketenangan keluarganya, membawa anak-anaknya, menempuh perjalanan  panjang menuju kematian.  Berbeda dengan Khadijah, yang  melepaskan ruhnya yang mulia dalam dekapannya, Nabi saw kini melihat Zainab membenamkan kepalanya di atas jenazah kakaknya yang bersimbah darah.  Lalu, ia mengangkat mukanya dan tangan-tangannya yang merah berlumuran darah ke langit: ILAHI, TAQABBAL MINNA HADZAL QURBAAN. Tuhanku, terimalah korban ini dari kami! Wajah Rasulullah saw  memucat sayu.  Dan butir-butir air mata itu menggelegak di pelupuk matanya.”

Pemimpin besar Revolusi Islam, Ayatullah Ruhoullah Khomeini, pernah mengatakan sebuah kalimat yang terus dikenang dalam tradisi Muharram:

“Apa yang menjaga hidupnya gerakan Asyura setelah Karbala adalah perjuangan Sayidah Zainab.”

(In qiyam-e Ashura ba payam-e Zainab zende mand.)

Sebab revolusi yang sejati tidak berhenti ketika para pejuangnya gugur. Ia terus hidup melalui mereka yang berani menjaga pesan perjuangan itu. Dan Karbala membuktikan kepada dunia bahwa perempuan bukan sekadar saksi sejarah, melainkan pembentuk sejarah itu sendiri.

Dan hari ini, pemimpin dunia Islam dan syahid besar abad ini, Ayatullah Ali Khamenei, mengingatkan kita:

“Zainab al-Kubra menunjukkan kepada dunia bahwa seorang perempuan dapat menjadi penjaga terbesar bagi kebenaran ketika seluruh bangunan kekuasaan berusaha membungkamnya.”

Karena itu Karbala adalah pelajaran universal: bahwa keberanian bukan monopoli kekuatan fisik, dan perjuangan bukan hanya milik mereka yang berada di garis depan peperangan. Ada perempuan-perempuan agung yang dengan kesabaran, kecerdasan, dan keteguhan hati justru menyempurnakan kemenangan para syuhada.

Maka malam ini, ketika kita memasuki majlis duka ini, marilah kita mengenang Karbala bukan hanya sebagai sejarah pengorbanan Imam Husain as, tetapi juga sebagai madrasah agung tempat umat manusia belajar tentang kemuliaan perempuan dalam perjuangan menegakkan kebenaran. Bahwa di balik setiap perubahan besar dalam sejarah, selalu ada perempuan-perempuan tangguh yang menjaga cahaya agar tidak pernah padam.

Dan semoga dari Karbala kita belajar: bahwa sebagaimana Husain mengajarkan keberanian untuk berkorban, maka Zainab mengajarkan keberanian untuk bertahan. Sebagaimana para syuhada mengajarkan arti pengorbanan, maka para perempuan Karbala mengajarkan arti kesabaran yang melahirkan kemenangan. Inilah warisan agung Asyura — bahwa perjuangan menegakkan kebenaran adalah panggilan bagi seluruh manusia, lelaki dan perempuan, sepanjang zaman.

* Majlis Duka Husaini Malam ke-7 pada Bulan Muharram diadakan para pecinta Imam Husain , Para pecinta Ali Al  Asghar, Para Pecinta Zainab Al Kubro.

59 / 100 Skor SEO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by rasalogi.com