BANDUNG – Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Ar Ridho Banjaran menyelenggarakan Peringatan Asyuro 1448 H dengan mengusung tema
“Dengan Spirit Asyuro Kita Tingkatkan Kualitas Iman, Amal, dan Pengorbanan.”
Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak menjadikan peristiwa Karbala sebagai inspirasi dalam memperkuat keimanan, meningkatkan amal saleh, serta menumbuhkan semangat pengorbanan demi menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan.
Ketua Pelaksana Peringatan Asyuro 1448 H, H. Deden Hermaddin,M.M. menjelaskan bahwa tujuan utama penyelenggaraan Majelis Asyuro adalah mengenang syahidnya Imam Husain a.s. di Padang Karbala sekaligus mengambil hikmah dari perjuangan beliau dalam mempertahankan nilai-nilai agama.
“Majelis Asyuro bukan hanya mengenang sebuah peristiwa sejarah, tetapi menjadi momentum untuk mengambil pelajaran dan spirit perjuangan Imam Husain a.s. dalam menjalankan agama. Dari Karbala kita belajar bahwa mempertahankan kebenaran membutuhkan keimanan, perjuangan, dan pengorbanan,” ujar H. Deden.
Menurutnya, perjalanan Imam Husain a.s. mengajarkan bahwa menjalankan keyakinan memerlukan keberanian untuk berkorban. Pengorbanan itu tidak hanya berupa harta dan tenaga, tetapi juga waktu, keluarga, bahkan jiwa, sebagaimana dicontohkan oleh Imam Husain a.s., keluarga, dan para sahabatnya di Karbala.
Deden juga mengingatkan kita pada sabda Rasulullah saw., “Husain minni wa ana min Husain” (Husain bagian dariku dan aku bagian dari Husain), yang menunjukkan bahwa perjuangan Imam Husain merupakan manifestasi dari perjuangan Rasulullah saw. dalam menjaga kemurnian ajaran Islam.
“Dengan memperingati syahidnya Imam Husain, kita tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga mengambil pelajaran dan meneladani semangat beliau dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.
Dalam ceramah hikmah Asyuro yang disampaikan oleh Ustadz Husein Alkaff, jamaah diajak untuk tetap teguh membela kebenaran dan tidak mudah menyerah menghadapi berbagai tantangan. Karena perjuangan menegakkan kebenaran selalu membutuhkan keberanian dan keteguhan hati.
“Kita harus terus berusaha menyuarakan kebenaran walaupun menghadapi tantangan atau tekanan dari pihak-pihak yang tidak menyukainya. Semangat inilah yang diwariskan oleh Imam Husain kepada umat Islam,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa contoh keberanian dalam memperjuangkan keadilan masih dapat disaksikan hingga saat ini. Menurutnya, sikap Iran yang tetap menyuarakan pembelaan terhadap Palestina dan Lebanon meskipun menghadapi berbagai tekanan internasional menjadi salah satu contoh keteguhan dalam memperjuangkan apa yang diyakininya sebagai kebenaran dan keadilan. Nilai keberanian tersebut diharapkan dapat menginspirasi masyarakat Indonesia untuk tetap menjalankan ajaran agama serta menyuarakan kebenaran secara bijaksana, damai, dan bertanggung jawab.
Perhatian khusus juga diberikan kepada generasi muda. Deden berharap Majelis Asyuro mampu membangkitkan semangat para pemuda untuk menjadi generasi penerus yang berani memperjuangkan nilai-nilai kebenaran.
“Dalam tragedi Karbala banyak pemuda yang ikut berjuang, salah satunya Ali Akbar, putra Imam Husain a.s., yang syahid di usia muda. Peringatan Asyuro harus menjadi momentum regenerasi para pecinta dan penegak kebenaran,” tuturnya.
Selain ceramah hikmah Asyuro, rangkaian kegiatan juga diisi dengan pembacaan kronologis peristiwa Karbala, yang menggambarkan perjalanan Imam Husain a.s. bersama keluarga dan para sahabatnya hingga mencapai kesyahidan. Acara kemudian ditutup dengan doa ziarah kepada Imam Husain a.s. sebagai bentuk penghormatan, kecintaan, dan komitmen untuk meneladani nilai-nilai perjuangan beliau.
Melalui penyelenggaraan Majelis Asyuro 1448 H ini, diharapkan tidak berhenti sebagai peringatan tahunan saja, tetapi benar-benar menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas iman, amal, serta keberanian dalam menegakkan kebenaran dan keadilan di tengah kehidupan bermasyarakat.***














