Potret Semangat Hidup Empat Tuna Netra Bersaudara

KLATEN– Musik dangdut terdengar keras dari radio jadul (jaman dulu) yang terletak di pinggir pintu rumah reyot itu. Di depannya, tampak seorang pria berusia 35 tahun duduk sambil ikut berdendang mengikiti alunan sang biduan dalam radio. Dialah Siwi, seorang tukang pijat tuna netra warga Dukuh Jatisari, Desa Sorogaten, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten Jawa tengah.  Peran Siwi dalam keluarga besarnya cukup berat, sebab menjadi tulang punggung ekonomi untuk ibu dan tiga saudaranya yang juga tunanetra.

Ibu Siwi, Darmo Suyatno(77) mengungkapkan, dari ketujuh anaknya, empat diantaranya mengalami sakit mata. Namun karena tidak memiliki biaya untuk berobat, penurunan daya penglihatan tersebut hanya dibiarkan saja. Hingga akhirnya, keempat anaknya mengalami kebutaan total.

“Penyakit itu mulai dirasakan ketika anak-anak mulai beranjak remaja. Sampai saat ini, kami tidak tahu penyakit apa yang menyebabkan kebutaan itu,” cerita Darmo.

Sementara itu, kakak perempuan Siwi, Dati(45) mengatakan, dia tidak bisa berbuat banyak untuk membantu ekonomi keluarga. Dati hanya bisa membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, mulai dari mencuci pakaian, hingga memasak. Sedangkan untuk keperluan rumah tangga, Dati menyerahkannya kepada Siwi dan adiknya yang bekerja di Jakarta, Martini(33). Martini juga sama seperti saya dan Siwi. Martini juga mengalami kebutaan. Di Jakarta, Martini juga bekerja sebagai tukang pijat.

“Untuk keperluan sehari-hari, Siwi mencukupinya dengan hasil menjual jasa pijat. Dan tiga bulan sekali, Martini mengirimkan uang sebagai tambahan,” kata Dati.

Tidak jarang Dati dan keluarga mengalami kekurangan. Bahkan terkadang, untuk membeli beras dan sayur, Dati harus hutang ke tetangga.

“Yang kami butuhkan hanya makan, tidak lebih dari itu. Kalau tidak ada uang, ya kami pinjam,” ulas Dati.

Selain Siswanto(50), Dati dan Siwi yang mengalami kebutaan, masih ada anak dari Darmo Suyatno yang kondisinya tak jauh berbeda, yakni Wahno(40). Meski secara fisik terlihat segar dan tidak mengalami kekurangan, akan tetapi kondisi kejiwaannya tidak seperti pria pada umumnya.

“Dia pernah bekerja di Jakarta. Tanpa sebab yang jelas, Wahno mengamuk dan akhirnya dipulangkan. Meski di rumah tidak pernah mengamuk, namun kondisi kejiwaannya yang labil membuatnya sulit untuk bekerja,” beber Darmo. (rud/rw)

 

Redaktur: Azwar Anas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.