2014 Pertumbuhan Ekonomi DIY Melambat, Inflasi Mencapai 1,05 %

YOGYAKARTA – Memasuki awal tahun 2014 pertumbuhan ekonomi DIY mengalami perlambatan, di mana inflasi DIY terjadi sebanyak 1,05 persen hal itu lebih rendah dari inflasi secara nasional yaitu 1,07 persen.

Kepala kantor Bank Indonesia perwakilan DIY, Arif Budi Santosa mengatakan, inflasi DIY di awal januari 2014 lebih rendah dibanding skala nasional yang mencapai 1,07 persen dan diprediksi pada pertengahan Februari inflasi DIY akan mengalami penurunan dan mengarah pada posisi normal.

“Tingginya inflasi di awal tahun karena faktor cuaca dan musim yang mempengaruhi distribusi barang yang masuk ke DIY belum lagi ditambah banjir yang melanda sebagian wilayah pulau Jawa yang tentunya menambah penyebab tingginya Inflasi,” ujarnya Rabu (05/2).

Kenaikan harga elpiji 12 Kilogram juga menurutnya turut menjadi faktor penyebab tingginya inflasi di DIY yang mencapai 1,05 persen meskipun hal itu terjadi hanya sebentar.

Arif menjelaskan, siklus DIY memang inflasi terjadi pada awal tahun dan menjelang lebaran, namun ia juga mengakui bahwa kenaikan harga elpiji beberapa waktu lalu tersebut sebagai pemicu awal tingginya inflasi di DIY.

“Elpiji sebenarnya yang menjadi pemicu utama inflasi di DIY,” tambahnya.

Kantor perwakilan Bank Indonesia DIY menargetkan selama 2014 kondisi ekonomi DIY harus mencapai 5,5 – 6,2 persen.

Meski pertumbuhan ekonomi DIY 2014 masih tetap stagnan, namun menurutnya tetap mengalami pergeseran positif dari 2012 yang memiliki pertumbuhan ekonomi dengan poin paling tinggi 5,3 persen.

Sementara hingga saat ini sumbangan sektor perhotelan terhadap PDB mencapai 21 persen, serta di sektor jasa sebanyak 19 persen. Sedangkan sektor pertanian dibanding tahun lalu justru terus mengalami penurunan menjadi 16 persen karena faktor cuaca. (war)

Redaktur: Azwar Anas

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.