Prof. Hardi: Caleg Pragmatis Mengajari Rakyat Berperilaku Korup

YOGYAKARTA – Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Profesor Dr. Ir Suhardi, MSc menegaskan dalam Pemilihan Umum (Pemilu), baik Legislatif maupun eksekutif Gerindra tidak akan menggunakan cara-cara pragmatis, seperti melakukan money politic (politik uang). Menurut mantan Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada (UGM) ini, bentuk politik uang justru akan mempercepat kehancuran bangsa,

“Yang benar kan tidak bagi-bagi, jual beli suara saat Pemilu. Seharusnya kita mendidik masyarakat untuk tidak memilih pemimpin yang pragmatis seperti itu,” Prof. Hardi, begitu ia akrab disapa kepada jogjakartanews.com, Minggu (09/02/2014), di Joglo Suhardi Yogyakarta.

Tokoh nasional yang dikenal sebagai professor ‘telo’ (ubi kayu, red), karena kegigihannya menkampanyekan telo sebagai makanan pokok ini, menilai problem bangsa saat ini yang masih akut adalah korupsi, termasuk di kalangan politisi.

Perilaku korupsi, kata Prof Hardi, identik dengan sikap pragmatis politisi, seperti jual beli suara dalam Pemilu dan kompetisi yang tidak mendidik dalam mendapatkan dukungan masyarakat.

“Sangat berbahaya jika cara mendapatkan jabatan dengan cara-cara pragmatis begitu, jangan sampai nanti gunung berubah jadi danau dan Indonesia semakin terpuruk karenanya. Kita memang harus ‘merebut kekuasaan’ tapi dengan cara-cara yang baik. Kalau kita tidak melakukannya maka kekuasaan itu akan diambil orang-orang yang menggunakan cara-cara tidak baik itu,” tukas Profesor bersahaja, penulis buku ‘Mandiri Pangan Sejahterakan Rakyat’ ini.

Selain itu, imbuh Prof Hardi, perilaku demikian juga mendidik masyarakat untuk ikut menjadi korup. Sebab, kata dia, masyarakat jadi terbiasa untuk bersikap meminta dan mengharapkan sesuatu secara instan, dan itu merupakan perilaku korup kecil-kecilan.

“Seharusnya yang paling penting adalah pendidikan politik, penyadaran, dan proses berpikir. Masyarakat harus sadar untuk memilih pemimpin tidak secara instan. Jangan karena diberi sesuatu, lantas memilih seseorang yang tidak mampu bekerja,” tukas Profesor yang juga Calon Legislatif (Caleg) DPR RI dari Partai Geridra Dapil DIY nomor urut 1 ini.

Profesor yang juga dikenal peduli lingkungan dan kelestarian alam ini juga nekankan betapa pentingnya meralisasikan 6 program aksi transformasi bangsa Partai Gerindra, diantaranya membangun ekonomi yang kuat, berdaulat, adil dan makmur, serta menerapkan ekonomi kerakyatan.

Prof. Hardi sendiri mencontohkan kerja nyatanya dengan membuat hutan cemara udang di pantai selatan Bantul. Selain bisa menahan abrasi air laut, kawasan hutan cemara udang juga bisa menjadikan lahan yang semula kering menjadi lahan produktif untuk pertanian.

“Sudah saatnya kita semua sadar untuk menjadi produktif dan bangkit kembali menjadi bangsa yang benar-benar berdaulat, adil, dan makmur,” pungkas Ketua Umum partai besutan Prabowo Subiyanto ini. (adv)

Redaktur: Azwar Anas

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.